Tags

, , , , , , ,


Buku stensilan berukuran folio yang tampak usang itu tergeletak di atas meja di salah satu sudut rumah peninggalan Thomas Matulessy atau yang dikenal dengan Kapitan Pattimura di Saparua. Sampul merahnya menarik perhatian terlebih saat mata terantuk pada tulisan samar-samar yang menyembul di antara tumpukan DVD dan beberapa kotak kaset yang berserakan di atasnya.

Sendiri di ruangan ini menggoda rasa penasaran menggerakkan tangan menyingkirkan satu per satu barang yang menindih si buku. Perlahan lembar demi lembar kertas yang menguning dimakan usia itu terbuka di atas meja membuat mata terbelalak. Hati berdebar menyusuri rangkaian kata yang tertuang di dalamnya. Takjub!

Detik-detik hukuman mati ini dijalankan, Martha Christina dihentar masuk ke dalam benteng oleh Marinir Belanda agar jangan melihat ayahnya ditembak mati. Residen J.A. Neijs yang ditunjuk oleh Buijskes untuk mewakilinya datang beritahukan Paulus Tijahahu bahwa sudah tiba waktunya hukuman mati akan dilaksanakan.

Sementara Paulus Tijahahu bertelut di tengah-tengah tanah lapang, tampil Guru Kepala Sekolah Soselisa ke muka dan dengan suara yang nyaring dalam bahasa Melayu bacakan Do’a Bapa Kami yang menghentarnya kembali ke pangkuan Penciptanya dengan kata-kata ini:

Bapa kami yang di Surga,
dikuduskanlah namaMu,

datanglah kerajaanMu,
jadilah kehendakMu,
di bumi seperti di Surga.
Berilah kami hari ini makanan
kami, yang secukupnya
dan ampunilah kami  akan kesalahan kami,
seperti  kami juga mengampuni orang yang
bersalah kepada kami,
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan
Kuasa dan Kemuliaan sampai selama-lamanya.
A m i n (Mat. 6:9-13),-

Benteng Beverwijk, Sila, Nusa Laut tempat Kapitan Paulus Tijahahu ayahanda Martha Christina Tijahahu dieksekusi pada 17 November 1817

Benteng Beverwijk, Sila, Nusa Laut tempat Kapitan Paulus Tijahahu ayahanda Martha Christina Tijahahu dieksekusi pada 17 November 1817

Dengan berakhir Do’a Bapa Kami ini, Pangeran O Toussan mengangkat klewangnya ke atas, pertanda bahwa penembakan akan berlangsung. Terdengarlah komando …. dan Trrrrraaaang ….. Kapitan Paulus Tijahahu rebah dan mati.

Ujung mata mendadak memanas terdesak bendungan air yang tiba-tiba meluap tanpa sempat ditahan. Senyapnya ruangan melegakan hati perlahan mengusap linangan air mata dengan ujung lengan kaos.

Roh perempuan perkasa itu seperti melesak ke relung jiwa. Gerakannya melebur menjadi gemuruh yang mendentam sudut hati memaksa mata yang haus dan menjadi liar menyusuri setiap kata yang terbentang lebar di depannya.

Sesudah itu detasemen tersebut berbaris meliwati mayat Paulus Tijahahu yang tak bernyawa itu dengan mengutukinya. Karena banyak kawan-kawan mereka telah mati dalam pertempuran-pertempuran. Mayat yang tak bernyawa ditusuk dengan sangkur, karena mereka sakit hati, kawan-kawan mereka telah tertinggal di Wae Sisi. Itulah suatu peradaban berpesta dengan penderitaan rakyat. Sesudah itu Martha Christina dikeluarkan dari dalam Benteng Beverwijk dan diantarkan kepada Guru Kepala Sekolah di Abubu. Tak setetes air mata pun ia keluarkan; ia berjalan dengan langkah tetap, dikerumuni oleh rakyat dari pulau.

Patung Martha Christina Tijahahu di atas bukit Karang  Panjang, Ambon

Patung Martha Christina Tijahahu di atas bukit Karang Panjang, Ambon

Bagaimana rasanya melihat ayah yang disayangi, dihormati, yang dengannya setiap saat berjalan bersama mengangkat senjata untuk bela negeri tinggal jasad bersimbah darah di depan mata? Gelombang rasa semakin bergemuruh, menyesakan dada.

17 November 1817 di hari ayahnya dieksekusi, Martha Christina Tijahahu baru berusia 17 tahun; ia lahir 4 Januari 1800. Ibunya meninggal saat Martha Christina masih balita, dia dibesarkan sang ayah seorang panglima perang; kapitan dari negeri Abubu, Nusa Laut. Sifat pemberani yang diwariskan ayahnya, mengobarkan semangat juangnya untuk ikut bergerilya mendampingi sang ayah yang telah memasuki usia senja sebagai Matessi yang Kabaressi. Dirinya harus siaga senantiasa untuk melindungi kapitannya. Bersama Kapitan Pattimura, mereka berjuang untuk mengusir penjajah dari Maluku; bergerilya dari pulau Nusa Laut hingga Saparua.

… tidak sebutir air mata pun mengalir dari kedua matanya dari muka yang sayu. Ketahanan fisik, mental dari seorang  pemudi Ina, berani, penuh sifat pendekar, baik dalam front pertempuran yang baru 4 hari lalu, dan kini ia harus hadir pada kematian ayahnya, semuanya ini dihadapinya dengan tidak mengeluarkan air mata. Mata sayu yang digambarkan oleh Ver Huell tidak mengandung “dendam”

Karena usianya masih belia dan menjadi yatim piatu, Martha Christina diserahkan ke dalam pengawasan Guru Kepala Sekolah Abubu. Namun kepergian sang ayah membakar jiwa berontak dari dalam diri Martha Christina. Tak ada kata penghiburan yang bisa melunakkan jiwanya, ia kembali mengangkat  tombaknya keluar masuk hutan bergerilya, berjuang demi bebasnya negeri. Dirinya sudah dianggap gila, ia menolak segala macam bantuan dan menghindari kontak dengan siapa pun.

Desember 1817, Martha Christina ditangkap dalam satu operasi militer dan dinaikkan ke atas kapal Eversten untuk diasingkan ke Pulau Jawa. Selama di kapal dia diperlakukan dengan baik, tapi dirinya menolak untuk memakan makanan yang diberikan oleh penjajah. Ia melakukan aksi mogok makan hingga badannya menyusut, ia jatuh sakit namun menampik segala upaya pengobatan yang dijaminkan oleh Ver Huell. 1 Januari 1818 kala malam menjelang, kapal Eversten berada di antara pulau Buru dan Manipa; Martha Christina kembali ke pangkuan sang Khalik. Derai air mata mengiringi kepergiannya, jelang pergantian hari jasadnya dilarung ke laut Banda dalam satu upacara militer.

Pada upacara pemakamannya Ver Huell menulis: saya turunkan mayatnya pada malam hari dengan teduh dalam laut; tentu dengan hati yang terharu, sedikit banyak dengan air mata.

Selaku seorang anak perempuan yang mencurahkan cinta kasih kepada ayahnya, tidak pernah ia tinggalkan dalam hari ketuahannya, sekalipun di medan tempur yang berbahaya, tetap berada pada sisinya. Sifat pendekar, berani, kesatria baik di medan tempur maupun sampai pada detik-detik terakhir dimana ayahnya akan dihabiskan. Ia masih berusaha sekuat tenaganya untuk dapat menyelamatkan ayahnya. [Thomas Matulessy, Kapitan Pattimura hal. 97 – 102 karya Z.M.A Matulessy]

christina martha tijahahu

Prasasti di bawah monumen Martha Christina Tijahahu, Karang Panjang, Ambon

195 tahun berlalu dari hari kepergian Kapitan Paulus Tijahahu …

Sabtu, 17 November 2012 pk 11 saya mengayun langkah perlahan ke dalam Benteng Beverwijk mencoba menyusuri jejak yang pernah ditinggalkan perempuan pemberani dari Nusa Laut. Mencoba meresapi apa yang terjadi di lengan benteng yang menghijau kala eksekusi terhadap Kapitan Paulus Tijahahu diberlakukan. Lalu siang ini, di rumah Kapitan Pattimura ada energi yang menggerakkan langkah ke sudut ruangan yang luput dari perhatian; satu kisah perjalanan hidup Christina Martha tersaji di depan mata.

Bapa Matulessy mendadak muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Buru-buru saya menyeka aliran anak sungai yang meluncur deras di kedua pipi dengan punggung tangan sebelum beliau memergokinya. Pfiuuuuh! Sembari meredakan debaran jantung, perlahan saya menutup kembali buku bersampul merah yang beberapa lembarannya telah mengoyak emosi, memporak-poranda suasana hati dan bangkitkan satu semangat di dalam dada. Aaaah, energi apa gerangan yang menyusup dalam jiwa?

Kini, nama perempuan pemberani Bunga Cengkeh dari Maluku itu terserak menjadi nama jalan, nama gedung, taman dan satu di antara tiga perempuan penuh inspirasi yang namanya diabadikan pada lambung kapal perang RI, KRI Martha Kristina Tiahahu. Dua nama lain adalah milik dua perempuan Nanggroe: KRI Cut Nyak Dien dan KRI Malahayati.

buku pattimura

The power of the book, kekuatan yang menggetarkan jiwa

Perempuan pemberani itu tetap setia berdiri gagah memegang tombak dengan pandangan tak lepas mengawasi Laut Banda. Dengan segala hormat, saya memandangi sosoknya dengan kekaguman yang luar biasa, mencoba bercermin pada semangat juangnya yang tak pernah pupus. Sebelum kaki beranjak dari bukit Karang Panjang, Ambon; sebuah ritual kecil kupersembahkan padanya sang Mutiara dari Nusa Laut, Martha Christina Tijahahu. Satu hari aku akan kembali usi Ata, ke negerimu dimana hati telah tatambat. Saleum [oli3ve].

*****

catatan perjalanan PTD Ambon – Haruku – Saparua – Nusa Laut
15 – 18 Nopember 2012 bersama Nokia Indonesia dan Sahabat Museum
*maaf ya catatannya telat terbit*

silahkan baca juga catatan dari #nunusakutrip lainnya di sini:

Advertisements