Tags

, , , , , , ,


Hari jelang senja saat langkah kami sampai di gerbang taman belakang kantor Walikota Jakarta Selatan, Minggu (30/9). Dari balik pagar sebuah bangunan menjulang di tengah taman langsung saya kenali sebagai Monumen Ade Irma Suryani. Demi melihat ada bayangan seseorang di salah satu bagian gedung, saya melayangkan isyarat bertepuk tangan sambil berteriak. Entah karena sibuk, panggilan tak berjawab; namun seketika saya menyadari pintu gerbang tidak terkunci karena dorongan badan saya membuatnya bergeser.

makam ade irma suryani

Sepasang burung melintas di atas Monumen Ade Irma Suryani Nasution

Monumen Ade Irma Suryani Nasution, tulisan itu terpampang di bagian atas monumen yang kini berdiri tegak di hadapan saya. “Mungkin anak-anak sekarang termasuk keponakan saya tak banyak yang mengenal siapa Ade Irma Suryani”, imbuh seorang kawan yang menemani berkunjung ke makam Ade Irma kala berbincang sambil selonjoran di pelataran monumen.

“Anak saja jang tertjinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ajahmu”

Tulisan di bagian depan makam samar-samar terbaca karena sudah mulai pudar, ada desiran halus yang tiba-tiba mengalir mengikuti denyut nadi saat berdiri di sisi pembaringan Ade Irma. Tanpa sadar, mulut mendendangkan lirik lagu kanak-kanak yang saya pelajari semasa SD dahulu:

akan kuingat selalu, Ade Irma Suryani
waktu dipeluk dipangku ibu
dengan segala kasih
kini ia terbaring di pangkuan Tuhan
senang dan bahagia hatinya
kini ia terlena tertidur terbaring
nyenyak di pelukan Tuhannya

ade irma suryani

Kamboja kuning di pelataran makam Ade Irma Suryani

makam ade irma suryani

Pusara Ade Irma Suryani

Irma Suryani Nasution (Adik), demikian nama yang tertera di atas nisan putri Jenderal Besar AH Nasution, lahir pada 19 Pebruari 1960 dan menghembuskan napas terakhir pada 6 Oktober 1965. Tubuh Ade terkena terjangan 6 (enam) biji timah panas pasukan Cakrabirawa pada 30 September 1965 di depan kamar tidur utama rumah orang tuanya. Pak Nas sendiri yang menjadi target Cakrabiwara oleh istrinya Johana, dibantu untuk kabur melalui pintu belakang. Ajudan Pak Nas yang juga tinggal di rumah itu, Kapt Pierre Tendean ikut menjadi korban penculikan pada malam yang dikenal dengan Gerakan 30 September.

makam ade irma suryani

Pelataran makam dilengkapi bangku untuk bercengkerama

makam ade irma suryani

Salah satu gambar di Monumen Ade Irma Suryani Nasution, memperlihatkan Soeharto saat mengunjungi makam Ade Irma didampingi Pak Nas

Melihat senyapnya komplek makam Ade Irma, dengan gampang bisa ditebak tak banyak yang berkunjung ke sini. Hal ini didukung dengan pecahan vas bunga di bagian depan pusara dan keringnya sebuah vas bunga lainnya di sisi depannya. Beberapa foto yang dipajang di Monumen Ade Irma sudah tampak lusuh dan memudar karena terpaan air hujan dan paparan panas matahari. Malah ada bagian yang tampak kosong, entah belum diiisi gambar atau ada yang mencopotnya.

Tak ada penjaga makam yang menghampiri kami sepanjang menanti senja dengan bercengkerama menikmati keripik pisang di pelataran monumen. Hanya ada seorang gadis kecil berkaos merah muda yang tampak melintas ke arah gerbang dan kemudian berbalik ke dalam kompleks walikota tanpa bertegur sapa dengan kami.

makam ade irma suryani

Komplek Makam dan Monumen Ade Irma Suryani Nasution di belakang Kantor Walikota Jakarta Selatan

Makam Ade Irma sebelumnya berada di Taman Pemakaman Umum (TPU) Blok P, Kebayoran sebelum dilakukan penggusuran komplek TPU untuk pembangunan Kantor Walikota Jakarta Selatan pada 1998. Makam Ade Irma adalah satu-satunya makam yang tertinggal yang kemudian dilengkapi dengan sebuah monumen yang dibangun pada 2002. Tak adanya petunjuk ke lokasi ataupun informasi mengenai tempat tersebut, menjadikan tempat ini tak banyak diketahui publik.

Bersamaan dengan gema azan maghrib, kami pun bersiap untuk beranjak setelah sebelumnya memungut dan memetik beberapa kembang di pelataran makam untuk diletakkan di atas pusara Ade Irma. Lampu penerangan yang ada di sekitar makam sepertinya tidak berfungsi membuat tempat itu mulai gelap. Ketika langkah sampai di gerbang, kami kaget karena gerbangnya telah digembok! Oleh sopir truk yang hendak menurunkan barang di belakang makam, kami diminta bersabar karena mereka telah menghubungi petugas keamanan untuk membukakan pintu gerbang. Hampir setengah jam menunggu tak terlihat tanda-tanda petugas mendekat ke lokasi, berempat kami terpaksa memanjat pagar untuk pulang. Selamat beristirahat Ade Irma. Salam sejarah! [oli3ve]

*re-post. sebelumnya diposting dan HL di Kompasiana, 1 Oktober 2012