Tags

, , , , , , , ,


Sebelum melanjutkan menulis, terlebih dahulu saya mohon ijin kepada The Esjepe’s pemilik tagline di atas karena telah menginspirasi saya untuk meminjamnya sebagai judul tulisan ini😉 *happy wedding anniv mak bapak*

Teduh ya ;)

Teduh ya😉

Apa yang hadir dalam benak kamu ketika melihat gambar di atas? Keren, teduh, hijau, sepi? Ehhmmm … tahu kan ya itu dimana? Iya, kuburan hehehe

Dua minggu lalu ada setetes bangga meneduhkan hati ketika satu pencapaian ditorehkan dalam catatan sejarah perjalanan menyusuri makam kehormatan saat melangkah ke dalam Ereveld Kalibanteng, Semarang. Genggaman selamat disodorkan Alice yang juga turut menenami langkah pertama saat menjejak di Ereveld Menteng Pulo, Jakarta, 22 Juli 2006 silam. Akhirnyaaaaa …. hari pentahbisan itu datang juga! Sabtu, 9 Maret 2013 saya menyatakan diri lulus menjadi penjelajah makam (kehormatan) setelah menuntaskan kunjungan ke 7 (tujuh) ereveld/makam kehormatan yang ada di Indonesia dalam kurun waktu 6 (enam) tahun. Seperti menyelesaikan pendidikan dasar pada masa sekolah dulu. Semacam pendidikan dasar menyusuri jejak sunyi. Karena setelahnya banyak menyusuri tempat tak biasa yang penampakannya memerlukan kekuatan iman.

Ketujuh ereveld yang sudah dikatamkan itu adalah:

ereveld kalibanteng

Change the way you SEE Indonesia @Ereveld Kalibanteng, Semarang

Ereveld/Makam Kehormatan adalah taman pemakaman yang dikelola oleh OorlogsGravenStichting (OGS) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda yang berada di bawah naungan Kedutaan Besar Belanda. Taman kehormatan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir para korban perang dari masa pendudukan Jepang, baik dari kalangan militer maupun sipil.

Satu di antaranya yang memegang peran penting adalah Jenderal Simon Spoor, panglima tertinggi tentara kerajaan Belanda (KNIL/Koninklijk Nederlands Indisch Leger) di Hindia Belanda (1945 – 1949). Makam Simon Spoor akan kamu jumpai ketika bertandang ke Ereveld Menteng Pulo. Lalu dari kalangan sipil ada Prof Dr A. Mochtar, Direktur Lembaga Eijkman pada masa perang dunia kedua yang dieksekusi oleh Jepang. Prof Mochtar dimakamkan dalam satu liang bersama 9 (sembilan) jasad lainnya karena tubuhnya sudah tak dikenali.

Senang menghabiskan waktu senggang mencari dan berkunjung ke kuburan tua adalah kesenangan yang sedikit bahkan berlebihan anehnya bagi mereka yang merasa dirinya normal, terlebih karena kesenangan itu dijalani oleh seorang perempuan manis yang bangga menyebut diri si #TukangKuburan. *hahahahaaaa, lempar tahu!*

Kadang sindiran dilayangkan oleh mereka yang mengaku peduli tapi tak jua mengerti meski paparan alasan panjang kali lebar membentang. Bertolak belakang ketika berjumpa dengan beberapa perempuan super yang ternyata kesenangannya sama. Yang ditanyain adalah,”Lip, kamu pernah malam-malam ke kuburan gak?”

Bertandang ke kuburan bagi saya bukan sekadar datang duduk berdoa terus pulang, tapi bisa menghabiskan waktu lebih dari sejam bahkan berjam-jam. Karenanya kuping ini pun sudah terlatih menerima rentetan tanya seperti,”nggak ada tempat lain yang lebih menarik dari kuburan? loe ngapain aja kalo ke kuburan?” Biasanya kalau lagi malas, saya cukup menanggapi dengan memberikan perbandingan terhadap kegemaran seseorang ngider di mall. Apa coba yang dilakukan berjam-jam pegel-pegelin kaki keluar masuk butik tapi gak beli apa-apa? Sama kan? Yang membedakan adalah minatnya! Mari kita saling menghargai itu😉

Aaaggghhhh, saya jadi teringat seorang kawan yang menanti tulisan dari setiap perjalanan yang tak disetor-setor. Indonesia ini luas, tak sanggup saya jelajahi setiap sudutnya dan tuliskan sendiri, kenapa kita tidak berbagi? Ceritakanlah padaku apa yang kamu dapat di mall yang dingin itu, dan datanglah kemari untuk mengetahui apa yang kutemui saat menyusuri petak-petak bisu untuk mengenang mereka yang telah pergi.

ereveld candi

I change my way I SEE Indonesia Dangerously Beautiful

Setinggi apapun jabatan yang kau pegang saat ini, sepongah apapun congormu berkumandang, sehebat apa pun kan kau pandang rendah manusia lain di sekitarmu; ketika sampai pada titik akhir, yang tertinggal hanyalah sebuah nisan bisu. Kepada siapa engkau berharap tempat peristirahatanmu kan senantiasa terpelihara & doa untukmu tetap terangkai?

they shall not grow old
as we that are left grow old
age shall not weary them
nor the years condemn
at the going down of the sun
and in the morning
we shall remember them
we shall remember them …

Antjol, 1942 – 1945

Bersyukur atas setiap kesempatan yang diberi olehNya untuk menikmati Indonesia dengan cara yang berbeda, I Change my Way I SEE Indonesia. Itulah sepenggal kisahku, sekarang ceritakan padaku bagaimana kau menikmati Indonesia. [oli3ve]