Tags

, ,


Rasanya pengen mengklaim diri dan bilang ke seantero dunia sebagai yang paling berbahagia semalam. Semua berawal dari komunikasi lewat pesan singkat yang dikirimkan oleh seorang idola Jumat lalu yang menawarkan sepucuk undangan Java Jazz Jakarta 2013. Karena terlanjur punya janji, kami tak sempat bersua dan diganti dengan ajakan,”Rabu ada acara? Mau gak menenami ke @america?” Pengirim pesan singkat tersebut adalah seseorang yang sedang gencar-gencarnya menenun cinta dan kebanggaannya pada tenun Toraja, Dinny Jusuf.

Awalnya saya pikir akan ada presentasi tentang tenun dan sebangsanya hingga pesan berikutnya mengabarkan doi menjadi salah satu penerima Indonesian Women of Change Awards. Woooowwwww, turut bangga karena mengikuti lika-liku perjalanan dalam membagikan cinta dan mewujudkan mimpinya untuk Toraja. Women of Change Awards adalah penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Amerika kepada para wanita berprestasi lewat komunitasnya.

Dinny Jusuf, pendiri dan pemilik Toraja Melo

Dinny Jusuf, pendiri dan pemilik Toraja Melo

Para peraih penghargaan yang semalam hadir di @america adalah:

  • Dinny Jusuf, Perdagangan dan Investasi
  • Tri Mumpuni, Perubahan Cuaca dan Lingkungan
  • Baihajar Tualeka, Demokrasi dan Kerakyatan
  • Major Ratih Pusparini, Keamanan
  • Veronica Colondam, Pendidikan

Kelima perempuan super ini ketika ditanya apa alasan mereka menggeluti pekerjaannya? jawabannya adalah karena CINTA! Veronica Colondam merangkumnya begini,”we are doing a business to give hope & love. Kita dikaruniai talenta untuk menjadi berkat buat sesama.” Kereeeeeen!

Dinny Jusuf menerima penghargaan dari Scot Marciel, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia

Dinny Jusuf menerima penghargaan dari Scot Marciel, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia

Bahagia banget bisa berada diantara mereka yang super ini, datang ke acara semalam pun bersama dua perempuan super yang banyak menginspirasi dan memberi warna perjalanan. Satu yang paling surprise adalah akhirnya bisa bertemu dan berpelukan dengan penulis idola ibu Endang Moerdopo, uhuiiiiiiy!

Meski datang telat karena isi tanki dulu hingga kehabisan tempat duduk, ternyata ada hikmahnya juga. Saya kebagian tangga untuk duduk tepat di sebelah Wakil Dubes Amerika Serikat Ibu Kristen F. Bauer tapi baru menyadari itu jelang penghujung acara hahahaha.

Ketika pulang saya kembalii flashback perjalanan selama 6 (enam) bulan terakhir ini. Ternyata tanpa sadar saya bertemu, berkenalan dan bersahabat dengan perempuan-perempuan super yang menjadi inspirasi buat banyak orang. Tanpa sadar saya pun menyusuri jejak para perempuan super dari masa lampau Tjut Nyak Dien, Christina Martha Tijahahu, Laksamana Malahayati dan menyusul segera berjumpa dengan RA Kartini.

Pengen segera nyanyi lagu Ibu Kita Kartini deh ;)

Pengen segera nyanyi lagu Ibu Kita Kartini deh 😉 *menghitung jam waktu*

Perjalanan ini sepertinya sudah diatur sedemkian rupa sehingga memberi cahaya di hati. Acara semalam ditutup pembacaan dua buah surat RA Kartini oleh Lola Amaria diiringi petikan  gitar Ade Inama.

Jadi, beralasan donk kalau saya bilang menjadi orang paling berbahagia sedunia, hadir di acara untuk perempuan  super, melihat idola & sahabat menerima penghargaan, duduknya pun selonjoran dikelilingi idola.

Silahkan dibaca juga tulisan terkait tentang Bersimbiosis Mutualisma dengan Idola.

Advertisements