Tags

, , , ,


Koq bisa? Eng ing eng *pasang muka chibi chibi*

Siapapun yang berkesempatan mengunjungi Sabang pasti bela-belain untuk bisa mengabadikan diri di Tugu Km Nol bukan? Meski tugu penanda letak geografis bagian barat Indonesia ini tidak berdiri tepat di atas garis terluar barat Indonesia, tak ada yang mempertanyakannya.

Pantat yang tadinya enggan bergerak mulai dilanda gelisah saat bis yang membawa kami dari Sabang memasuki Kawasan Hutan Wisata Sabang. Berkali-kali menengok jarum jam di pergelangan tangan menghitung menit demi menit bersiap berlari. Bukaaaan! Bukan untuk mengabadikan momen di atas puncak Km Nol tapi karena kebelet pipis hahaha.

tugu kilometer nol

Tugu Km Nol, Sabang

tugu kilometer nol

Prasasti letak geografis titik km nol yang ditentukan dengan menggunakan GPS, penuh hiasan 😦

Melangkah dari bilik kecil yang agak spooky tertutup bayangan pohon, seekor monyet tersenyum geli melihat ekspresi kepuasan di muka saya. Menghindari dirinya mendekat, pura-pura deh buang muka gak melihat aksi cari perhatiannya.  Mata memandang ke-30an orang umpel-umpelan meniti undakan ke lantai atas monumen Km Nol antri untuk berpose di depan prasasti garis lintang. Hmmm, kebiasaan para pejalan narsis ;). Sedikit tip buat yang suka jalan, bila mengunjungi satu tempat jangan terbawa arus berlomba untuk berpose di satu titik yang umum dilakukan oleh pengunjung lainnya. Kreatif dikitlah, jangan habiskan waktu untuk mengantri! Eksplorasi tempat itu dan temukan hal-hal unik lainnya.

tugu kilometer nol

Prasasti peresmian Tugu Km NoL, Sabang

Saya tak menemukan informasi kapan bangunan setinggi 22,5 m dengan diameter 15 m ini dibangun/dirancang oleh siapa selain sebuah prasasti di lantai dasar yang ditandatangani oleh mantan Wapres, Try Sutrisno bertanggal 9 September 1997 sebagai penanda waktu peresmian tugu. Beberapa coretan seperti kata “TAWAKAL” menghiasi prasasti yang ada di monumen ini. Sepertinya yang meninggalkan coretan itu tak berakal sampai mengotori tempat wisata!

tugu kilometer nol

penanda titik NOL km barat Indonesia (dok. Lita Jonathans)

Penanda titik kilometer nol sendiri sebenarnya ada di lantai dasar yang sering dilewatkan oleh pengunjung karena lebih tertarik untuk meniti anak tangga ke puncak. Bisa dipahami karena penampakan bangunan bawah hanya berupa hall kecil yang terbuka, bila tak melongok ke dalam prasasti di lantai itu gak akan tampak. Ibarat pepatah kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak!

tugu kembar sabang merauke

Tugu Sabang Merauke dengan tulisan berbahasa Jawa di pucuknya

Tugu Km Nol Sabang memiliki kembaran yang dibangun di Sota, Merauke. Setelah berkunjung ke Sabang, biasanya seorang pejalan akan terusik untuk menjejakkan kaki di Merauke. Kawan saya malah membuat satu trip khusus untuk mengunjungi dua titik di ujung timur dan barat Indonesia ini dalam satu perjalanan ujung ke ujung lewat darat, laut dan udara.

Karena belum berkesempatan terbang ke ujung timur Indonesia, saya cukup puas bisa berada di Sabang; berdiri di bawah Tugu Sabang – Merauke menikmati indahnya Teluk Sabang sambil berkhayal menjejak di Merauke. Tugu setinggi 33,6 meter ini menjulang di tengah kota Sabang tepatnya di kawasan Kota Atas depan kantor Walikota Sabang. Pada prasastinya tercantum September 1997, dibangun atas kerjasama BPP Teknologi dengan pemerintah Daerah Istimewa Aceh.

tugu kilometer nol

Sertifikat Kilometer Nol Indonesia, sah! 😉

Psst, sebenarnya saat berada di sini berharap menemukan sebuah pintu untuk menembus batas waktu yang bisa dilewati sehingga muncul di Sota hahaha. Eh, tapi bangga donk pulang dari Sabang menenteng sertifikat km nol Indonesia bernomor 57877 yang ditandatangani oleh Walikota Sabang, Zulkifli H. Adam. Seumur-umur mengunjungi tempat wisata, baru kali ini pulang membawa sertifikat, I love Aceh! Sekarang paham donk kenapa judul tulisan ini menjejak Merauke di Sabang? [oli3ve]

Advertisements