Tags

, ,


Mau makan steak kualitas hotel yang murah tanpa perlu merogoh kantong dalam-dalam? Steak Hotel by Holycow tempatnya! Maka, satu Sabtu siang suasana romantis tercipta di lantai dua sebuah tempat makan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Segelas es lemon tea segar mengalir ke tenggorokan, penghalau dahaga dan peredam protes dari kawasan kampung tengah. Ya, resah mulai melanda perut setiap kali melirik pesanan tetangga kiri kanan satu per satu menghampiri meja.

“Sebelum sausnya dicampur ke daging, cobain deh makan 1 – 3 potongan daging steaknya dan nikmati kelezatannya!” Sapaan Wynda Mardio pemilik Steak Hotel by Holycow pada peserta Get Urbanized IX, membuat kampung tengah semakin penasaran.

Seperti membaca sinyal SOS yang dikirimkan dari perut, dalam sekejap pesanan well done Wagyu Tenderloin dengan mushroom sauce terhidang di depan mata. Dua lapis daging bakar dengan side dish mashed potato dan spinach alias tumis bayam dilengkapi irisan tomat cherry merah sungguh menggoda. Hmmmm …. setelah membayangkannya dalam seminggu terakhir, kini penampakan aslinya hadir dan pasrah digerayangi.

steak hotel by holycow

Wagyu Tenderloin pesanan saya di Steak Hotel by Holycow

Sebagai orang yang tak begitu menggemari daging (merah), ada alasan tertentu kenapa saat mematut-matut menu pilihannya jatuh pada kombinasi sajian di atas.

  • Berdasarkan masukan dari Oom saya ketika pertama kali diajak makan steak hotel di awal 1990-an di restoran berputar yang ada di rooftop Hotel Panghegar Bandung, Panyawangan Restoran. “Pilihlah tenderloin jika ingin daging yang empuk!” Maka sejak itu setiap kali ada acara makan steak, pilihan gak jauh-jauh dari tenderloin atau T-bone.
  •  Menghindari mulut mengunyah kelamaan dan didukung perut yang kelaparan, mashed potato yang lembut adalah pendamping steak yang tepat. Sedang mushroom sauce dipilih atas rekomendasi yang terima order dan ternyata memang jempol!
  •  Terakhir, untuk tingkat kematangan saya minta well-done agar lebih yakin daging yang masuk perut benar sudah matang.

Wagyu dari kata wa = Jepang dan gyu = sapi, adalah daging sapi super lembut dan empuk karena diambil dari sapi pilihan. Sapi-sapi tersebut sedari kecil dirawat dan diperlakukan dengan sangat istimewa dan tidak dituntut untuk bekerja keras sehingga daging/otot dagingnya tidak mengencang.

Wynda yang menemani kami icip-icip menambahkan bahwa wagyu mereka dipesan langsung dari Australia. Untuk menyiasati kenaikan harga daging sapi di pasaran, mereka sudah memiliki keterikatan perjanjian dengan pihak pemasok sehingga harga yang diberikan sebisa mungkin tidak berdampak pada harga steak di Steak Hotel by Holycow. Dari segi kualitas, Wynda menjamin segala proses pemotongan daging hingga wagyu mereka sajikan sesuai dengan standard halal. Agar lebih meyakinkan, mereka juga menengok langsung peternakan sapi di Australia.

steak hotel by holycow

Good things come to people who Do Good

Kalau untuk side dish, bayam dan kentang adalah pasokan dari petani lokal! Bayam atas kerja sama dengan  Indonesia Berkebun sedang kentang dari dataran tinggi Dieng yang memang terkenal pulen, manis dan gurih.

Dalam waktu dekat Steak Hotel by Holycow akan menambah satu TKP (Tempat Karnivora Pesta), istilah untuk cabang mereka dengan konsep garden rooftop di kawasan Sabang, Jakarta. Dengan penambahan tersebut maka nantinya Steak Hotel by Holycow akan memiliki tiga TKP untuk melengkapi TKP Radio Dalam dan TKP Kemang.

Menyimak penuturan Wynda, pemilihan nama untuk restoran semata karena teringat film Warkop DKI dimana steak hotel diagungkan sebagai makanan mahal dan bergengsi. Sedang holycow adalah slank Inggris Amerika yang maknanya kira-kira serupa dengan OMG! Astaga naga! Jadi dari namanya, Steak Hotel by Holycow ingin menyampaikan kepada penikmat daging mereka menyediakan daging bakar istimewa yang setara sajian hotel dengan harga yang terjangkau. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 44,000 – Rp 250,000; cukup terjangkau kantong kan?

Mengusung misi berterima kasih pada alam yang selama ini telah banyak memberi manfaat pada manusia, Steak Hotel by Holycow menerapkan konsep goes green dengan menggunakan used material dalam penataan ruang di setiap TKP-nya. Sebagai contoh di TKP Radio Dalam, sebuah kontainer diangkut langsung dari Tanjung Priok untuk ditempatkan di lantai dua bangunan ketimbang membangun bangunan baru yang lebih mahal. Atau temaramnya ruangan di TKP Kemang karena menghemat solar energy yang digunakan di ruangan yang didominasi merah tersebut.

Pada kesempatan yang sama Selina Liman, founder Urbanesia, mengatakan ini kali pertama Get Urbanized mempertemukan anggota Urbanesia dan Kompasianer di satu meja. Harapan para karnivors sih kita bisa diundang untuk icip-icip lagi pada saat pembukaan TKP baru di Sabang.

Setelah icip-icip, maka lidah saya berkata rasa adalah pilihan! Bagi lidah saya yang tidak terlalu suka rasa berlebihan, steak yang saya nikmati terlalu banyak ladanya! Jadi, lain waktu jika bertandang ke Steak Hotel by Holycow, saya pastinya akan meminta agar daging pilihan saya jangan dilumuri bumbu berlebih.  Untuk mushroom sauce, mashed potato dan spinach-nya jempol deh! Pengen mencoba? Datang saja ke:

Steak Hotel by Holycow
#TKPKemang
Jl Kemang Raya No 95, Jakarta Selatan
Buka setiap hari pk 11.00 – 14.00 dan  17.00 – sold out

Bagi pengunjung yang berada di TKP jangan lupa untuk berkicau dengan menyebutkan @holycow_radal untuk mendapatkan Red Velvet Cup Cake dan @tipcojuice untuk tambahan juice sehat. Selamat makan.[oli3ve]