Tags

, , , , ,


Langit biru menyambut ayunan langkah menuruni bis yang membawa kami dari Ambon ke Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, Sabtu pagi (17/11). Deretan kendaraan pribadi menyesaki lahan parkir yang tak begitu lapang di mulut dermaga, menjadikan suasana tampak lebih ramai dari hari sebelumnya. Nusa Laut, negeri yang menjadi tujuan perjalanan pagi ini bersama Komunitas Sahabat Museum (Batmus) setelah  sehari sebelumnya puas mengunjungi Pelauw, Haruku dan Hila.

“Ayo nona, langsung naek spitbot!” sapa seorang bapak yang wara-wiri di atas dermaga. Bapak yang wajahnya saya kenali sebagai salah seorang yang kemarin menyorongkan kakinya sebagai pijakan untuk turun ke speedboat. Saya menyambut sapaannya dengan melempar senyum, lalu beranjak menikmati pagi di dermaga dengan ikut mengantri di toilet darurat. Dua jam perjalanan dari Tulehu ke Nusa Laut menjadi pertimbangan untuk mengosongkan isi tanki menghindari hasrat buang air kecil di tengah laut.

Dermaga pelabuhan Tulehu, Ambon di pagi hari yang diabadikan dengan Lumia 920

Dermaga pelabuhan Tulehu, Ambon di pagi hari diabadikan dengan Lumia 920

Ferry yang mengangkut penumpang dari Tulehu ke Saparua, diabadikan dengan Lumia 920 dari dalam speedboat yang melaju kencang

Ferry yang mengangkut penumpang dari Tulehu ke Saparua, diabadikan dengan Lumia 920 dari dalam speedboat yang melaju kencang

Di dalam speedboat saya memilih duduk di singgasana yang juga berfungsi sebagai jendela sekaligus pintu di sisi kiri. Posisi strategis untuk menikmati perjalanan karena setiap saat bisa melongokkan kepala dan badan keluar. Dino, ‘nyong Ambon yang duduk di belakang saya tak hentinya menyebut nama tempat-tempat yang kami lewati. “Itu Oma!” seru Dino dengan kepala menempel ke jendela. Awalnya saya pikir dia menunjuk rumah omanya kala pandangan terantuk pada deretan rumah yang tampak dari jauh saat kami melintasi sebuah daratan. Ternyata yang dimaksud adalah pulau Oma, salah satu negeri/kampung di Haruku.

Kejadian berulang ketika kami melintasi pulau Ouw. Saya bertanya tiga kali  demi memastikan Dino tidak mengaduh karena kesakitan ketika kata “ouw” meluncur dari bibirnya. Siapa yang tidak tahu lagu yang dipopulerkan oleh Bob Tutupoli, Ouw Ulate? Syairnya terinspirasi dari keindahan pulau Ouw, negeri di wilayah Saparua, Maluku Tengah.

Ouw ulate, Tanjung Ouw ulate
tanjung si barane, Tanjung Ouw ulate
satu dua tiga dan empat lima anam di Kayu Manis
sinyo Ambon hitam dan manis, kalau ketawa manis sekali

Benteng Beverwijk nampak di kejauhan menjelang Nusa Laut diabadikan dengan Lumia 920

Benteng Beverwijk nampak di kejauhan menjelang Nusa Laut diabadikan dengan Lumia 920

Dermaga Nusa Laut dilihat dari kompleks pemakaman Sila yang diabadikan dengan Lumia 920

Dermaga Nusa Laut dilihat dari kompleks pemakaman Sila yang diabadikan dengan Lumia 920

Menjelang Nusa Laut, sekelompok lumba-lumba terlihat di kejauhan menari dengan riang mempertontonkan lekukan tubuhnya yang gemulai.Ujung ekornya seksi meliuk-liuk menggoda mengajak untuk mendekat. Wooowww, surprise! karena sebelumnya Dino bilang,”seng ada lumba-lumba di sini kaka.” Saking semangatnya ingin mengabadikan tarian lumba-lumba, kami berlomba menjejali jendela yang ada di sisi kanan speedboat. Akibatnya badan speedboat miring ke kanan karena berat sebelah membuat sopir panik, “Jangan banyak kanan! kasih kiri!”

Pk 10.30 sauh ditambatkan di pantai Sila. Kami disambut seorang bapak yang diperkenalkan sebagai perwakilan Raja Sila tak jauh dari gerbang desa yang bertuliskan,”Salib Inilah Lantera Allah.” Pulau Emas, itulah julukan untuk Nusa Laut yang mengandalkan cengkeh sebagai hasil bumi utamanya. Penduduk Nusa Laut dan sekitarnya menjemur cengkeh di jalan maupun di halaman rumah mereka. Wanginya segar terbawa angin hingga ke bibir pantai.

g menuju Desa Sila dengan tulisan Salib Inilah Lantera Allah di atasnya

g menuju Desa Sila dengan tulisan Salib Inilah Lantera Allah di atasnya

Pemandangan yang umum dijumpai kala berjalan-jalan di Maluku adalah tikar-tikar yang digelar di pekarangan atau di jalan untuk menjemur cengkeh.

Pemandangan yang umum dijumpai kala berjalan-jalan di Maluku adalah tikar-tikar yang digelar di pekarangan atau di jalan untuk menjemur cengkeh.

Gugusan negeri di selatan Pulau Seram, Maluku Tengah ini adalah negeri asal perempuan perkasa nan elok, pahlawan Maluku, Christina Martha Tijahahu. Nusa Laut terdiri atas tujuh negeri yang meliputi Sila, Leinitu, Nalahia, Ameth, Titawaai, Abubu dan Akoon. Masing-masing negeri dikepalai oleh seorang raja, gelar yang diperuntukkan bagi kepala adat yang dipilih secara turun temurun untuk memimpin satu desa adat atau negeri di Maluku. Nusa Laut dapat dicapai dengan kapal cepat yang berangkat dari Tulehu setiap Selasa dan dari Nusa Laut setiap Rabu dengan biaya Rp 60,000/orang.

Hati terpikat sejak langkah pertama diayun memasuki desa Sila. Jalan berkarpet pasir, deretan rumah tua dengan pekarangan luas yang tertata rapi serta sambutan warganya yang ramah menyejukkan hati. Kami beristirahat sejenak di halaman rumah raja Sila, bercengkerama dengan warga yang senang kedatangan tamu dari jauh. Anak-anak kecil berlarian keluar dari pekarangan, berlomba memasang gaya di depan kamera yang siap mengabadikan senyum manis mereka.

Gereja Protestan Maluku Eben-Haezer, Sila salah satu gereja tua di Maluku

Gereja Protestan Maluku Eben-Haezer, Sila salah satu gereja tua di Maluku

Seorang gadis kecil tampak berjalan menuju Benteng Beverwijk, Sila

Seorang gadis kecil tampak berjalan menuju Benteng Beverwijk, Sila

Dari rumah raja kami beranjak ke Tanjung Puttilessy dan menyempatkan mampir ke Gereja Eben-Haezer, gereja tua yang berada di tengah desa Sila. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1719 dengan penataan bangku yang masih memisahkan antara bangku untuk raja dengan jemaat biasa. Bangku raja berada di deretan belakang, tepat di tengah ruang ibadah berhadapan-hadapan dengan dengan mimbar. Puas menikmati isi gereja, langkah dilanjutkan ke Benteng Beverwijk.

Bangunan tiga lantai berbentuk segi empat berdiri kokoh menghadap ke laut Banda dengan pekarangan hijau yang lapang di depannya. Jika diperhatikan dengan seksama, bentuknya serupa dengan Benteng Amsterdam di Desa Hila  Di halaman benteng ini, tepat 195 tahun dari hari kami berkunjung; Kapitan Paulus Tijahahu, ayah Christina Martha ditebas kepalanya oleh Belanda pada 17 November 1817. Bangunan yang sekarang telah dipugar mengikuti bentuk aslinya ini, dibangun sekitar tahun 1654 oleh Admiral Verhoeven.

Bagi penikmat alam bawah laut, snorkeling di sekitar perairan Nusa Laut sangat menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Dan sebagai pecinta situs tua, melihat di kejauhan ada benda yang menyembul di antara semak di bibir pantai adalah bonus dari pejalanan ini. Anugerah terindah ketika melangkah di antara makam raja-raja Sila ditemani oleh bapak E. Soselisa, Raja Sila. Kembali dari makam, sekotak nasi kuning pun tandas dalam sekejap, nikmat turun ke perut ditemani buaian angin pantai di halaman rumah keluarga raja.

Gundukan-gundukan yang menarik di bibir pantai Sila

Gundukan-gundukan yang menarik di bibir pantai Sila

Ditemani bapa Soselisa, Raja Sila blusukan menyibak 2 buah makam raja Sila yang diselimuti semak

Ditemani bapa Soselisa, Raja Sila blusukan menyibak 2 buah makam raja Sila yang diselimuti semak

Satu hal yang tak terpisahkan dari setiap perjalanan adalah dokumentasi. Setelah 450D kawan sejati yang selalu menemani perjalanan kejang-kejang dan terkapar di Benteng Amsterdam pada hari kedua di Maluku, smartphone-lah yang diandalkan untuk mengabadikan jejak dan aktualisasi diri ke seisi jagad: sedang dimana, ‘ngapain dan dengan siapa? Beruntung sebelum berangkat dibekali Nokia Lumia 920, handphone pintar berbasis Windows Phone 8!

Butuh bergadang semalaman untuk mengakrabkan diri dengan Lumia 920 yang saya terima beberapa jam sebelum berangkat ke Maluku. Lumia 920 menjadi andalan untuk merekam jejak baik berupa foto maupun video sepanjang perjalanan meyusuri kepulauan Maluku. Beberapa fitur terbaru yang ditawarkan mengobati sesal karena kolapsnya 450D.

Fitur yang cukup seru dari Lumia 920 adalah layar PureMotion HD+ displaynya yang sangat sensitif merespon sentuhan ujung jari. Bahkan saat iseng membungkus jari yang basah sehabis bermain air dengan ujung kaos dan ketika dicoba dengan menggunakan ujung kuku pun responnya cepat. Keunggulan lain dari piranti ini adalah, warna gambar yang dihasilkan sangat menggoda. Dengan layar berukuran 4,5 inchi tampilan gambar menjadi lebih besar dan masih samar terlihat meski di bawah terik matahari.

Berbekal pengalaman berkawan dengan DSLR, memegang Lumia 920 bangkitkan rasa penasaran terlebih saat hendak merekam gambar kala matahari sudah tenggelam. Sebagai handphone pintar, Lumia 920 menyediakan beberapa fitur pemotretan layaknya kamera digital yang bisa diatur dan disesuaikan dengan selera masing-masing penggunanya. Contoh saat memotret di malam hari, selain diatur ke mode Night, ISO, WhiteBalance maupun Eksposure masih bisa diutak-atuk.Untuk mendapatkan hasil yang sesuai keinginan, ekperimen pun menjadi kawan karib.

Mencoba fitur Nokia City Lens di Cafe Panorama, Ambon sehari sebelum 450D kolaps

Mencoba fitur Nokia City Lens di Cafe Panorama, Ambon sehari sebelum 450D kolaps

Lumia 920 dilengkapi Lensa Carl Zeis dengan teknologi PureView menjadikan video yang direkam bebas blur. Meski kamera bergoyang kala diayun-ayun di dalam speedboat atau di tempat yang pencahayaannya kurang, tetap bisa merekam gambar dengan baik. Nokia City Lens, adalah fitur unggulan lainnya yang kurang berhasil saat diuji coba di Maluku namun sukses menemukan tempat-tempat yang diincar saat kembali ke Jakarta.

Terlepas dari gangguan turunnya daya tahan battery yang menyerap banyak energi saat digunakan untuk browsing dan merekam gambar bergerak, Lumia 920 praktis untuk diajak bertualang. Untuk menyiasati battery kolaps, saya membajak powerbank salah seorang teman jalan hahaha. Jadi walau kamera DSLR kolaps, semua kenangan dan jejak dari perjalanan menyusuri Maluku Tengah dapat terekam dengan baik berkat Lumia 920.

Salam kami dari Nusa Laut! Foto bersama Angel dkk di Desa Sila, Nusa Laut

Salam kami dari Nusa Laut! Foto bersama Angel dkk di Desa Sila, Nusa Laut

Senyum terindah pun enggan beranjak saat kaki kembali menyentuh bening air laut dan melangkah dengan riang ke speedboat. Lambaian tangan dari bapa raja dan senyum ramah warganya mengiringi langkah kami meninggalkan Sila. Perjalanan yang menyenangkan, kami pulang membawa ragam kenangan yang takkan terlupakan. Hati beta tatambat sudah di Nusa Laut.[oli3ve]

**tulisan sebelumnya dishare dan menjadi headline di Kompasiana, Jumat, 7 Des 2012 serta dimuat di Wanita Indonesia, Januari 2013.

Advertisements