Tags

, ,


Senyum enggan lepas dari bibir Anwar Congo. Matanya terpejam, kedua tangannya diangkat. Bersisian dengannya berdiri para korban yang dulu meregang nyawa di tangannya. Musik mengalun ringan, bidadari-bidadari dalam balutan busana yang indah dipandang mulai meliukkan badan, menari diiringi Born Free-nya Andy Williams.

born free, as free as the wind blows
as free as the grass grows
born free to follow your heart
 
live free and beauty surrounds you
the world still astounds you
each time you look at a star

Jeratan belenggu perlahan terlepas dari leher para korban. Salam damai dan syukur mengalir dari bibir mereka. Meski perjuangan hidup diakhiri secara paksa, perjumpaan di nirwana bawa sukacita,”terima kasih telah mengeksekusi saya.” Pita merah putih berbandul sepuhan emas pun dikalungkan ke leher Anwar Congo. Senyumnya semakin lebar, di wajahnya terpancar suka cita menjadi pahlawan di mata para korbannya.

Anwar Congo bergaya ala koboy dalam The Act of Killing (dok. http://jagalfilm.com)

Anwar Congo bergaya ala koboy dalam The Act of Killing (dok. http://jagalfilm.com)

Potongan kisah dalam The Act of Killing/Jagal di atas mengingatkan pada The Passion of Christ, saat Yesus menjalani eksekusi di Golgota dalam konteks yang berbeda. Dua pesakitan yang disalib di kiri kanannya memberikan reaksi berbeda melihat Yesus disiksa. Yang seorang mencibir, yang seorang ragu,”akankah bertemu DIA di Surga?”

Ketika bimbang perlahan mengalir dalam jiwa sebagai dampak satu tindakan yang bertentangan dengan nurani; seringkali pembenaran subjektiflah yang dikedepankan. Berbagai cara ditempuh untuk menentramkan hati dari kejaran rasa bersalah hingga kreatifitas berimajinasi pun mengemuka.

Surprise! Mungkin itu kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa ketika mendapat undangan tertutup dan kesempatan menonton The Act of Killing (TAoK) disaat semua orang penasaran terhadap film ini. Film dokumenter yang mengisahkan pengakuan Anwar Congo yang telah menghabisi nyawa orang-orang yang dituduh/dicurigai sebagai komunis dan etnis Tionghoa di Medan dan sekitarnya pada tahun 1965 – 1966. Ratusan nyawa melayang di tangannya diiringi tarian cha-cha, sedikit minuman keras agar lebih rileks dan hilangkan gundah sebelum leher korban dijerat dengan kawat besi. Anwar Congo, preman pasar yang naik pangkat saat menerima kepercayaan militer menjadi algojo/jagal untuk mencari, menemukan dan mengeksekusi targetnya.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan sejarah Indonesia setitik borok yang berusaha ditutupi di balik baju kebesaran, dikorek-korek dan ditunjukkan pada dunia dari sudut pandang pelakunya. Rencana awal penggarapan TAoK hanyalah sebatas proyek disertasi Joshua Oppenheimer dengan perjanjian akan diputar setelah tokoh dalam film ini meninggal. Namun entah dengan pertimbangan apa, TAoK lalu diputar pada September 2012 lalu di Festival Film Toronto dan menuai beragam tanggapan.

Bagi yang kuat menonton Hotel Rwanda, Sometimes in April atau The Last King of Scotland, saya yakin siap mental melihat adegan-adegan lucu hingga yang menjijikkan dalam TAoK. Peristiwa pembantaian etnis di Rwanda maupun kisah Idi Amin the butcher of Uganda itu dikecam dunia sebagai perbuatan terkutuk, pelanggaran HAM dan para pelaku kejahatannya pun dibawa ke pengadilan internasional. Bagaimana dengan Indonesia?

Peristiwa kelam September 1965 hingga kini masih samar, para pelaku yang menjadi otak peristiwa itu tak pernah dikenai sanksi. Sementara para korban beserta keluarganya berjuang untuk bertahan hidup di negara yang katanya penghuninya cinta damai. Konon, kabarnya tragedi September 1965 baru di tahun 2012 ini memasuki tahap proses pelaporan!

Sebagai bintang dalam sebuah film, Anwar Congo & Adi Zulkadry didandani sebelum pengambilan gambar (dok. http://jagalfilm.com)

Sebagai bintang dalam sebuah film, Anwar Congo & Adi Zulkadry didandani sebelum pengambilan gambar (dok. http://jagalfilm.com)

Kembali ke TAoK; Anwar Congo, sejawat algojonya Adi Zulkadry serta kawanan geng mereka adalah manusia biasa yang juga butuh eksistensi diri! Popularitas adalah satu hal yang ingin mereka nikmati dengan membeberkan perbuatan mereka lewat TAoK. Melalui TAoK mereka punya kesempatan untuk dikenal sebagai bintang dan menunjukkan bagaimana mereka mengakhiri sesamanya. Beragam teknik penjagalan dibeberkan dimulai dengan bagaimana cara menenangkan korban dari rasa takut, teknik membunuh agar darah tidak banyak berceceran hingga tips membuat korban tersenyum menghadapi ajal, mereka peragakan kembalil. Dalam satu bagian, Anwar sendiri mengambil peran sebagai korban dan mencoba meresapi apa yang dirasakan oleh korbannya ketika hendak dibantai. Adegan ini menyentil sisi kemanusiaan Anwar yang perlahan dihinggapi kegelisahan,“ Mungkin begini ya rasanya jadi orang yang dulu saya bunuh?” Kepalanya terkulai, badannya lemas, sesal terpancar dari paras dan suaranya yang melemah.

Di sela adegan kekerasan, kuping turut geli mendengar obrolan di meja para petinggi satu organisasi dalam pertemuan wilayah di Medan. Dari pembahasan bagian tubuh wanita hingga dalam sekejap berubah posisi duduk yang kusyuk memanjatkan doa pada Yang Kuasa. Yang menonton pun tertawa ngakak mendengar curhat Anwar Congo dan Adi Zulkadry di pinggir kolam. Bak psikolog berpengalaman, Adi menasehati Anwar agar sesekali bertandang ke dokter syaraf untuk mengobati penyakit susah tidurnya. Di saat Adi bangga bila suatu saat dibawa ke Den Haag untuk diadili karena akan terkenal ke seantero jagad; Anwar mulai resah dengan masa lalunya,“bagaimana kalau ternyata apa yang kulakukan dulu salah?”

TAoK membuat kita haus! Haus akan informasi yang selama ini ditutupi. Beragam tanya akan beranjak ke permukaan: benarkah Pancasila adalah ideologi yang tepat untuk dianut oleh bangsa ini? Apakah Pemuda Pancasila yang digelari organisasi paramiliter memang dibentuk/dilatih untuk berlaku dan bertindak di luar kontrol? Sanggupkah masyarakat awam melihat tokoh idola dan panutan mereka bertutur secara vulgar dan transparan dalam TAoK? Bagaimana dengan generasi muda kita, sudah cukup akrabkah mereka dengan pelajaran sejarah bangsanya?

Sebuah diskusi ringan selepas kegelian diantara ketegangan seusai menyimak TAoK mengantarkan pada beberapa poin untuk direnungkan bersama:

    • Satu tanya yang mengemuka dalam diskusi ringan namun sedikit berat jika ditilik dari topik yang dibahas. Apa yang salah dari peristiwa September 1965? Manusianya ataukah sistem pemerintahannya? Penerapan dan pembenaran satu sistem (doktrin pemahaman yang keliru) yang dipaksakan telah menggerogoti watak manusianya hingga rusak.
    • TAoK membangkitkan memori dan emosi yang selama ini ingin dikubur oleh mereka yang masih bersinggungan langsung dengan masa kelam itu (para pelaku, korban dan keluarga mereka). Sanggupkah kita membuka pintu maaf dan mengampuni orang yang telah menorehkan luka itu?
    • Demi melindungi orang-orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan film ini, nama mereka disulap menjadi Anonim.
    • TAoK hanyalah satu bagian dari kisah masa lalu yang selama ini ditutupi demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Publik sangat perlu diberi asupan informasi akan maksud dan tujuan pembuatan film ini untuk apa? Meski mendalami studi genosida, perlu diketahui pada sisi mana sang sutradara yang adalah orang asing menempatkan diri dalam memandang Indonesia.
    • Terakhir, satu pesan sebelum menonton TAoK adalah tolong buka mata hatimu dan tanya pada diri masing-masing,”Seberapa jauh kita (saya) memahami arti persatuan, kesatuan, sejarah perjalanan bangsa, persaudaraan dan cinta kasih di negeri ini? Siap dan kuatkah kita (saya) bertahan menerima goncangan?”

TAoK wajib ditonton oleh mereka yang mengaku orang Indonesia, cinta Indonesia, peduli Indonesia dan peduli pada sejarah serta perjalanan bangsa Indonesia. Akankah TAoK diputar untuk khalayak pada peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) 10 Desember 2012 sesuai impian para pekerja di balik film ini? [oli3ve]