Tags

, , , ,


Mengunjungi Aceh adalah satu impian yang menjadi kenyataan dalam sekejap ketika menyambut tawaran plesiran ke Aceh pada minggu kedua Oktober lalu. Jejak pertama di Banda Aceh berawal dari Kerkhof Peutjut, makam militer terbesar yang terletak di tengah kota, di depan lapangan Blang Padang. Kerkhof Peutjut kami kunjungi saat tetes hujan masih menyisakan jejaknya di pelataran makam.

Kerkhof (bahasa Belanda) secara harafiah berarti halaman gereja, sedang Peutjut sendiri berasal dari kata Poteu Cut (Peutjoet/Pocut) yang artinya putera kesayangan. Pocut adalah Putera Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam, putera kesayangan Sultan Iskandar Muda; Meurah Pupok. Sayang karena keterbatasan waktu, dalam kunjungan kemarin tak sempat menghampiri makamnya yang berada di tengah areal seluas 3,25 hektar ini.

Plang Kerkhoff Peutjut yang dibaharui setelah tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004

Plang Kerkhof Peutjut yang dibaharui setelah tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 (dok. Lita Jonathans)

Gerbang Peutjut akan menyambut langkah saat memasuki Kerkhoff Peutjut, Banda Aceh.

Gerbang Peutjut akan menyambut langkah saat memasuki Kerkhof Peutjut, Banda Aceh. (dok. Lita Jonathans)

Gerbang kehormatan Peutjut yang dibangun pada tahun 1893 berdiri gagah menyambut langkah setiap pengunjung Kerkhoff Peutjut. Di pucuk gerbang terdapat tulisan dalam bahasa Belanda, Melayu dan Jawa berbunyi, Aan onze kameraden, gevallen op het van eer ( = Untuk sahabat kita, yang gugur di medan perang). Sedang di dinding gerbang terpatri nama-nama mereka yang dimakamkan di Peutjut, daerah- daerah pertempuran Aceh termasuk beberapa peristiwa yang terjadi di Aceh.

“In Memoriam Generaal-Majoor J.H.R. Köhler, Gesneuveld 14 April 1873″, tulisan pada salah satu prasasti yang melekat di gerbang Kerkhoff Peutjut, Banda Aceh itu menyentil sekelebat memori yang melintas perlahan di dalam kepala. Köhler! Nama itu mengingatkan pada sebuah prasasti di Museum Taman Prasasti yang beberapa kali disambangi.

Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, pimpinan tentara kerajaan Belanda membawa 3000-an serdadu menapakkan kakinya di bumi Serambi Mekkah pada 6 April 1873 untuk merebut Aceh. Satu langkah yang dilakukan oleh Belanda setelah Perjanjian London yang disepakati bersama Inggris pada 1871; yang salah satu pasalnya berbunyi Inggris memberikan kekuasaan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Pada 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang terhadap Aceh dan mengirimkan pasukan ekspedisi dibawah komando Köhler ke Aceh.

Monumen Köhler yang berada di depan pintu masuk Kerkhoff Peutjut dengan latar belakang Museum Tsunami

Monumen Köhler yang berada di depan pintu masuk Kerkhoff Peutjut dengan latar belakang Museum Tsunami (dok. Lita Jonathans)

Setibanya di Aceh, Köhler dan pasukannya berhasil merebut Mesjid Raya Baiturrahman untuk dijadikan basis pertahanan. “O, God, ik ben getroffen!”, hanya berselang seminggu setelah kedatangannya, Köhler tewas tertembus peluru seorang pemuda pejuang dan penembak jitu Aceh pada 14 April 1873 di halaman mesjid itu.

Köhler dimakamkan di Kebon Jahe Kober (sekarang Museum Taman Prasasti) Jakarta, atas permintaan rakyat Aceh; sisa tulang belulang Köhler digali dan dipindahkan ke Aceh. Köhler akhirnya dimakamkan kembali dengan upacara militer pada 19 Mei 1978 di Kerkoff Peutjut dengan makam berbentuk monumen yang sama persis dengan makamnya di Kebon Jahe Kober; hanya tinggi dan ukurannya lebih kecil. Dengan posisi berdiri di tengah pintu masuk, bisa dikatakan monumen Kohler adalah masterpiece yang ada di Kerkhoff Peutjut.

Prasati Köhler yang berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh; penanda tempat Köhler tewas diterjang peluru

Prasati Köhler yang berada di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh; penanda tempat Köhler tewas diterjang peluru (dok. Lita Jonathans)

Tak jauh dari monumen Köhler, kita  dapat melihat monumen untuk mengenang Marsose menjulang tinggi di tengah kompleks pemakaman. Marsose adalah pasukan khusus yang dibentuk pada 20 April 1890 untuk menghadapi serangan gerilyawan Aceh pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal van Teijn. Perang Aceh berlangsung selama 31 (tiga puluh satu) tahun (1873 – 1904) dan dalam sejarah Belanda dicatat sebagai perang terpanjang dengan catatan kelam melebih pengalaman pahit mereka pada Perang Napoleon.

Monumen Marsose yang dikenal juga sebagai Monumen Pengusaha Perkebunan, dibangun untuk mengenang Korps Marsose

Monumen Marsose yang dikenal juga sebagai Monumen Pengusaha Perkebunan, dibangun untuk mengenang Korps Marsose

Monumen Marsose dipersembahkan oleh para pengusaha perkebunan berkebangsaan Belanda dari pantai timur Aceh dan dari daerah Deli pada tahun 1930 di ulang tahun Korps Marsose yang ke-40. Banyak Marsose yang tewas dalam perang dimakamkan di Kerkhoff Peutjut dan nama-nama mereka dapat dilihat di gerbang Peutjut.

Setiap makam di Kerkhoff Peutjut memiliki kisahnya sendiri, dari yang meninggal karena penyakit kolera, terkena serangan jantung hingga yang tewas di medan perang. Jangan heran bila menemukan makam seorang prajurit lebih cantik atau lebih gagah dari kuburan seorang perwira dengan jabatan yang tinggi. Makam tersebut dibangun dan dipercantik kembali oleh keluarga ataupun pengagum mereka bahkan dengan menambahkan pesan khusus ataupun monumen untuk mengenang jejak orang yang dicintai.

Monumen Peel untuk mengenang Mayor Jenderal J.L.H. Pel yang meninggal karena serangan jantung di perkemahan Kroeng Tjut. Jenazahnya sendiri terbaring di satu tempat di Kerkhoff Peutjut yang tak diketahui posisi tepatnya.

Monumen Pel untuk mengenang Mayor Jenderal J.L.H. Pel yang meninggal karena serangan jantung di perkemahan Kroeng Tjut. Jenazahnya sendiri terbaring di satu tempat di Kerkhoff Peutjut yang tak diketahui posisi tepatnya. (dok. Lita Jonathans)

Kerkhoff Peutjut satu jejak sejarah yang masih tersisa di Aceh, satu dari sekitar 40 (empat puluh) tempat pemakaman militer Belanda yang ada di Banda Aceh. Sebagian besar makam tersebut “hilang” tak berjejak, sebagian lagi tersapu air saat tsunami melanda Aceh pada tahun 2004.

Berdasarkan catatan dari Buku Panduan Kuburan Militer Peutjut yang diterbitkan pada tahun 2007, disebutkan dari sekitar 2,200 makam prajurit yang ada di Peutjut, terdapat 35 makam prajurit dan 118 perwira Angkatan Laut Kerajaan. Jumlah pasti makam di Peutjut sudah tidak dapat ditemukan lagi karena semua dokumen dan berkasnya hilang sejak pendudukan Jepang pada Maret 1942.

Hamparan makam di salah satu sudut Kerkhoff Peutjut

Hamparan makam di salah satu sudut Kerkhoff Peutjut

Setelah pendudukan Jepang, Peutjut tidak lagi menjadi kuburan eksklusif untuk memperingati kehadiran Belanda dan Perang Aceh, karena di sana kemudian dijadikan semacam tempat pemakaman umum. Peutjut kini dikelola oleh Yayasan Dana Peutjut (Stichting Peutjut – Fonds) yang didirikan pada 29 Januari 1976 atas inisiatif J.H.J. Brendgen, seorang kolonel Marsose sangat prihatin melihat kondisi makam militer setelah kunjungannya ke Aceh.

Langkah telah dijejakkan, dalam hati sebuah janji disematkan satu hari nanti akan kembali menyusuri setiap jejak yang tertinggal di Kerkhoff Peutjut, Banda Aceh. Beranjak dari Peutjut, mata saya terpaku pada tulisan di kaki sebuah makam. Salam perpisahan dari seorang suami, seorang ayah pada istri dan anak yang dikasihinya “In my solitute with memories that never dies, I’m praying dear all above send back my love” [oli3ve]