Tags

, , ,


Matahari tepat di atas ubun-ubun saat langkah kami memasuki pelataran Kebun Raya Bogor (KRB) Sabtu (23/6). Akhirnya setelah empat atau lima tahun dari kunjungan terakhir, baru kali ini punya kesempatan lagi untuk bermain ke kebon besar. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 9,500/pengunjung kami memulai perjalanan berkeliling kebun. Jalan-jalan kali ini saya ditemani seorang kawan yang mauan diajak wisata makam ke Bondongan, Bogor. KRB sebenarnya tidak ada dalam daftar kunjungan, hanya saja karena masih malas untuk balik ke Jakarta kami iseng aja mampir setelah mengisi perut di Suryakencana.

Adalah Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1811-1816) yang merintis KRB. Raffless yang senang dengan tanaman menyulap halaman di belakang istana Buitenzorg yang luas menjadi sebuah taman. Tak jauh dari pintu masuk, terdapat monumen untuk mengenang Olivia Mariamne, istri Raffless yang meninggal pada 1814 karena sakit. Makamnya sendiri berada di Kebon Jahe Kober atau sekarang Museum Taman Prasasti, Jakarta. Kami terus melangkah ke dalam KRB hingga sampai di depan monumen Reinwardt (Prof.Caspar George Karl Reinwardt), ahli botani Jerman yang mulai mengumpulkan berbagai jenis tanaman untuk diteliti di kebun botani yang menjadi cikal bakal KRB pada 18 Mei 1817, juga seorang perintis pembuatan herbarium. Pada 1816, Reinwardt diangkat menjadi Menteri Bidang Pertanian, Seni dan Ilmu Pengetahuan di Jawa.

Kuhl & Hasselt

Johan Conraad van Hasselt (kiri) dan Heinrich Kuhl bersahabat hingga ke liang kubur (sumber gambar : http://www.tropenmuseum.nl)

Teringat makam Belanda yang tanpa sengaja kami temukan pada kunjungan lima tahun lalu, saya lalu mencari-cari jalan kecil menuju pemakaman tersebut. Papan penunjuk makam yang kecil baru terbaca setelah keluar dari dalam hutan bambu karena mendengar seorang anak kecil membacanya keras-keras. Ohhh, ada toh petunjuknya? Di komplek pemakaman yang diberi nama Dutch Graveyard atau Makam Belanda ini, terdapat 42 makam namun hanya 38 yang memiliki identitas. Letak makam di tengah hutan bambu membuat banyak pengunjung kurang tahu tempat ini. Kalau bukan karena rasa penasaran dengan jalan setapak di antara pohon bambu, bisa jadi sampai sekarang saya pun tak akan tahu di situ ada makam. Karena petunjuk makamnya juga kecil di balik sebuah pohon menempel dekat pagar istana. Harap maklum, jika masuk ke sini bisa jadi anda hanya seorang diri atau berpapasan dengan dua atau tiga orang yang bisa jadi kesasar. Oleh karenanya waspadalah …waspadalah!

Hei loook! Seee, Kuhl and Hasselt!” seru seorang pengunjung yang tiba-tiba muncul di samping saya. Seruan perempuan muda berjilbab itu membuat saya penasaran menanti apa yang akan dilakukannya. Saya berdiri di luar pagar mengamatinya masuk ke dalam pelataran komplek, duduk di depan makam dan meminta kawannya untuk mengabadikan momen bersejarah “perjumpaan dengan idola” itu.

Siapa Kuhl dan Hasselt yang sepintas terdengar seperti Hansel and Gretel di kuping?

Kuhl & Hasselt

Makam Kuhl dan Hasselt di Kebun Raya Bogor

Heinrich Kuhl dan Johan Conraad van Hasselt adalah dua sahabat ahli biologi muda yang tergabung dalam The Netherlands Commission for Natural Sciences. Mereka dikirim ke Hindia Belanda pada 1820 untuk bekerja di KRB, untuk mempelajari aneka spesies flora dan fauna sebagai bahan penelitian yang kemudian dikirim ke Museum Leiden. Kuhl meninggal delapan bulan setelah kedatangannya di Bogor karena infeksi liver menjelang usianya yang ke-24 pada 14 September 1821. Sepeninggal sahabatnya, Hasselt terus melanjutkan penelitian namun karena sakit dia pun meninggal pada 1823. Untuk mengenang profesornya di Universitas Groningen, Theodore van Swinderen; Kuhl menamai spesies burung beo Afrika yang ditemukannya pada 1820 dengan Agapornis swindernianus. Nama Kuhl melekat di sejumlah spesies burung, ikan maupun mamalia. Persahabatan Kuhl dan Hasselt ternyata tidak hanya di dunia nyata, hingga ke liang kubur pun mereka tetap bersama.

Makam lain yang ada di KRB diantaranya makam D.J. de Eerens Gubernur Jenderal ke-45 (1836-1840), Cornelis Potmans administrator toko obat dan A.Prins seorang ahli hukum yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Hindia Belanda (Raad van Nederlandsch Indie). Tak jauh dari rimbunan bambu sebuah monumen berdiri di tengah taman untuk mengenang Johannes Elias Teijman, Direktur KRB (1830-1869) yang juga merintis Kebun Raya Cibodas.

Sebelum pulang, kami sempatkan untuk mampir ke bekas rumah dinas Kepala KRB yang sekarang menjadi Guest House Nusa Indah dan masuk ke Museum Zoologi. Pk 16.15 kami berjalan kaki memyusuri Jl Juanda ke Stasiun KA Bogor menanti commuter line membawa kami kembali ke Jakarta, saleum [oli3ve]

Re-post dari Kompasiana yang sempat Headline pada 25 Juni 2012