Tags

, , , , , , , , ,


Jakarta, 4 Pebruari 2012 Sebuah perjalanan menyusuri sejarah bangsa diawali dari Menteng Pulo, tepatnya dari makam Brigadir Jenderal AWS Mallaby, Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds dan Letnan Philip Osborne. Mallaby tewas dalam pertempuran di depan Gedung Internatio, Surabaya pada 30 Oktober 1945; beberapa jam setelah tercapai kesepakatan antara Indonesia dan Inggris untuk mengakhiri kekacauan di Surabaya. Hingga kini tak diketahui dengan pasti Mallaby tewas karena terkena peluru pejuang Indonesia ataukah terjangan peluru dari pasukannya sendiri. Sedangkan Loder-Symonds dan Osborne meninggal dalam kecelakaan pesawat yang jatuh dan terbakar di bandara Morokrembangan, Surabaya pada 10 November 1945.

Kunjungan singkat yang berlangsung pada suatu pagi di awal Pebruari 2012 itu, menyisakan kerinduan untuk menyusuri jejak pertempuran Surabaya 1945.

Juanda, 16 Mei 2012 Pk 08.20 singa udara yang membawa saya dari Cengkareng mendarat dengan mulus di landasan Juanda. Terbang tanpa bagasi, saya langsung keluar dari terminal kedatangan. Di luar saya mencari pak Teguh supir dari travel yang sudah dipesan dua hari sebelumnya; yang akan membawa berkeliling kota Pahlawan. Tujuan pertama adalah mencari tempat untuk mengisi tanki yang mulai kriuk-kriuk, Pecel Murni pun dipilih dengan pertimbangan berada di pinggir jalan besar yang dilalui saat menuju ke kota. Saya begitu bersemangat karena akan memulai sebuah petualangan seru ala saya dengan menggiring pak Teguh mengikuti itinerary sederhana yang telah dipersiapkan. Niat awal mampir ke Surabaya hanyalah transit setengah hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan Malang. Andilala, saya malah tergoda tawaran seorang sahabat untuk mewakilinya berziarah ke makam Opanya di Kembang Kuning. Let’s get rock Soerabaja!

Sebelum ke Kembang Kuning, saya telah membuat janji dengan pihak Sampoerna untuk mengikuti wisata Surabaya Heritage Track (SHT) pada pk 13 dengan rute Hok Ang Kiong Temple – Chinesche – Arab Kamp. Sebenarnya kawasan tersebut bisa didatangi sendiri, tapi ternyata saya punya sifat norak tingkat tinggi dan tergoda untuk naik SHT keliling kota. Sayangnya niat tersebut hanya sampai tertuang di itinerary karena jadwal kunjungan menjadi ngaco bin ajaib setelah berkeliling kota, tergoda dan keasikan mengunjungi tempat yang tak tercantum dalam daftar tempat yang hendak dikunjungi. Salah satu godaan tersebut adalah Hotel Majapahit!

1337792168606676059

Hotel yang dulu dikenal dengan Hotel Oranje (atau Hotel Yamamoto pada jaman penjajahan Jepang), adalah tempat terjadinya insiden bendera pada 19 September 1945. Kala itu pemuda Soerabaya marah melihat Merah Putih Biru mengangkasa di hotel yang menjadi tempat penginapan tentara Sekutu setelah mendarat di Morokrembangan. Seorang pemuda nekat naik ke atas atap merobek warna birunya dan menaikkan sang Dwi Warna berkibar di angkasa. Tiang bendera tersebut masih tetap berdiri gagah, dan di dinding bagian bawahnya tercantum sebuah prasasti tentang insiden bendera yang menjadi awal meletusnya api revolusi. Kami pun menyusuri hotel dari belakang hingga ke lobby, keluar masuk toilet, melihat detail ornamen yang ada dan tentunya mengambil beberapa gambar. Di shopping center, saya bertanya kepada seorang petugas untuk memastikan letak Gedung Internatio agar tidak salah jalan sehingga terjadilah percakapan berikut:

“Siang mbak, pernah dengar Gedung Internatio? Posisi persisnya di sebelah mana Jembatan Merah ya?” “Gedung Internasional? gedung apa itu mbak?” “Hmmm….maaf mbak asli Surabaya?” si mbak mengangguk dengan pasti “Pernah dengar pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang terjadi di sekitar Jembatan Merah dan menewaskan Jendral Mallaby?” Si mbak menggeleng sambil menyahut dengan penuh semangat,”Ooooh, mungkin adanya di sekitar kota tua mbak! di sana banyak gedung tua yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding. Ini ada beberapa foto lama mungkin mbak kenal salah satunya.”

Jawaban si mbak shopping center membuat gerakan tangan pura-pura membenarkan posisi bandana yang sebenarnya tidak bergeser sedikit pun, demi menghalau rasa nano-nano yang tiba-tiba menusuk ulu hati. Saya kembali ke mobil dengan tetap berpikir positif, mungkin si mbak tadi bersekolah di luar negeri sehingga kurang mengenal sejarah kotanya sendiri. Tapi logatnya koq medok Jawa Timuran ya? 😉

1337792691245192943

Dari Majapahit, kami mengitari Grahadi sebelum memutuskan untuk masuk dan memarkir kendaraan demi melihat sekelompok anak TK sedang asik berlatih untuk persiapan Parade Senja yang akan digelar esok sore. Parade Senja digelar setiap bulan pada tanggal 17 dan pada hari tersebut masyarakat diperkenankan untuk masuk ke Grahadi. Berhubung esok harinya saya sudah harus sampai di Malang, maka kenapa tidak mencoba hari ini? Gedung Grahadi dibangun pada tahun 1796 sebagai rumah peristirahatan pejabat Belanda, saat ini difungsikan sebagai Gedung Negara untuk resepsi, pertemuan dan menerima tamu negara. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari laman Aroeng Binang Project serta berkirim surat listrik dengan Mas Aroeng, ada ketentuan kunjungan ke Grahadi. Sebelum kunjungan, pengunjung diminta berkirim surat tiga hari sebelumnya ke Kepala Bagian Rumah Tangga Biro Umum Setwilda Tk. I Jawa Timur, Jl. Pahlawan 110 Surabaya. Sayangnya surat yang saya layangkan dengan layanan kilat seminggu sebelum kunjungan maupun surat listrik untuk mencari informasi ke Disbudpar Propinsi Jawa Timur tak mendapat tanggapan hingga saya kembali ke Jakarta.

Gedung Grahadi menjadi saksi bisu sejarah tempat dilangsungkannya perundingan antara tentara Sekutu dan Indonesia pada 29 – 30 Oktober 1945. Sekutu diwakili oleh Panglima Divisi 23 Inggris Mayor Jenderal Hawthorn,Brigadir Jenderal Mallaby, Wing Commander Pugh. Sedang juru runding Republik diwakili oleh Soekarno, Moh. Hatta, Amir Sjarifoeddin, Soedirman, Doel Arnowo, Soengkono, Atmadji, Soemarsono dan Bung Tomo. Hadir pula TD Kundan, warga keturunan India yang bertindak sebagai penerjemah. Di seberang Grahadi berdiri tegap patung RM Soeryo, mantan Gubernur Jawa Timur yang banyak memegang peranan penting semasa terjadinya Pertempuran Surabaya 1945.

13377927691147758834

Keasikan mengaso di Grahadi, kami ngebut makan siang di daerah Genteng demi mengejar waktu ke Sampoerna. Saya baru tahu, ternyata lalu lintas Surabaya hampir serupa dengan Bandung yang kebanyakan satu arah! Jika anda salah belok, silahkan berputar-putar untuk kembali pada jalan yang benar! Apes, keluar dari Genteng kejebak macet di sekitar Bubutan padahal sopirnya sok yakin hanya butuh 15 menit untuk sampai di Sampoerna. OK, jadwal kembali berubah, saya minta diantarkan ke Kembang Kuning. Sampai di gerbang Kembang Kuning, pak Teguh melirik bingung saat saya memberi aba-aba petunjuk arah hingga sampai di depan gerbang Ereveld (Makam Kehormatan) Kembang Kuning.

“Mbak pagarnya digembok. Waaah ada preman, mbak!” saya mengikuti pandangan pak Teguh melirik keluar jendela. Ternyata kami disambut oleh sekelompok preman Kembang Kuning, dua orang yang tadinya mengaso di atas sebuah makam menghampiri dengan berjalan kaki dan seorang tiba-tiba muncul bertelanjang dada meraung-raung di atas sadel motor berputar di depan mobil. Bukannya sok berani, tapi saya harus turun dari kendaraan untuk membunyikan bel agar dibukakan pintu oleh penjaga. Melempar senyum manis, bersikap sopan, menyapa selamat siang meski dipandangi dengan penuh curiga oleh preman kuburan.

“Mau kemana mbak?” “Besuk pak!” sambil terus melangkah dengan hati-hati hingga tangan meraih tali lonceng dan membunyikanya dengan keras. Saya kembali masuk ke kendaraan, mengunci pintu dan menanti petugas yang bergegas dengan motor ke depan gerbang. Melihat tujuan kami benar ke Makam Kehormatan, para preman lalu bubar jalan.

Saya disambut oleh pak Edy yang mengantarkan ke blok yang nomornya saya dapat dari staff OGS Jakarta sehari sebelum berangkat. Sampai di depan makam saya kirim pesan singkat ke sahabat yang sedang diayun Lorena dari Jakarta menuju Malang, mau titip salam apa buat sang Opa? Berlutut di depan makam, saya memanjatkan doa dan berbisik lirih,”Opa selamat siang, saya datang mewakili sahabat saya, cucu Opa yang tidak sempat hadir menyampaikan sun sayang buat Opa tercinta. Selamat beristirahat, saya pamit ya Opa.” Sebelum mengitari makam yang lain sesuai permintaan, saya pun minta bantuan pak Teguh untuk mengambil gambar saya di depan makam Opa sebagai barang bukti.

13377932371849811091

Ereveld Kembang Kuning satu dari 7 (tujuh) makam kehormatan Belanda yang ada di Jakarta, Bandung, Cimahi, Surabaya dan Semarang dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan Belanda (OGS). Di tengah-tengah taman pemakaman berdiri monumen Karel Doorman untuk mengenang para korban dalam Pertempuran Laut Jawa (Slaag in de Java Zee). Pertemuran Laut Jawa adalah salah satu pertempuran laut terlama di awal Perang Pasific yang dimulai pada 27 Pebruari 1942 di Utara Surabaya-Selatan Bawean dan berakhir di Teluk Banter pada 1 Maret 1942.

Di salah satu plakat monumen tertulis : Setelah jatuhnya Manila dan Singapura, Surabaya menjadi pangkalan Angkatan Laut terbesar yang terakhir di Kawasan Asia Tenggara. Dari pelabuhan laut inilah pada 26 Pebruari 1942 eskader sekutu yang terdiri dari kapal-kapal perang Belanda, Inggris, Amerika dan Australia dibawah pimpinan Laksama Muda Karel WFM Doorman, berangkat untuk menggagalkan pendaratan balatentara Jepang di Jawa Timur. Pertempuran dengan armada Jepang pada 27 Pebruari 1942 menyebabkan tenggelamnya tiga kapal perang Belanda Hr.Ms. Java, Hr.Ms. Kortenaer dan Hr.Ms. De Ruyter. Untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam pertempuran di Laut Jawa tersebut, maka monumen Karel Doorman ini diresmikan pada tahun 1954. Kini monumen ini menjadi lengkap dengan dicantumkannya 915 nama prajurit tersebut. Pembuatan plakat ini didanai oleh: Stichting Het Gebaar dan Karel Doorman Fonds.

Usai berpanas ria di Kembang Kuning, kami menuju Peneleh dan kembali harus berputar arah karena salah belok gara-gara mengikuti jalan beraspal. Penampilan Makam Belanda Peneleh sangat bertolak belakang dengan Makam Kehormatan Kembang Kuning. Meski pada papan kusam yang berdiri di samping pintu masuk tercantum kompleks pemakaman ini berada di bawah pengawasan Dinas Pertamanan Pemkot Surabaya, ternyata kondisinya sangat terlantar. Kumuh, terbengkalai, rusak parah dan menjadi tempat tinggal para tuna wisma yang seenaknya menjemur pakaian di atas makam serta menjadi tempat mangkal sekawanan kambing yang buang hajat sesuka hati. Makam Peneleh adalah salah satu makam modern abad ke-18, 20 tahun lebih muda dari Kebon Jahe Kober atau Taman Prasasti di Jakarta. Dibuka pada 1814, kompleks ini dilengkapi dengan krematorium yang masih berdiri kokoh di sisi belakang taman disanggah empat pilar yang tinggi.

Sejam mengitari tempat ini saya menemukan beberapa makam tokoh-tokoh pada masa lalu seperti PJB de Perez – wakil ketua Dewan Hindia Belanda (Raad van Indie Gouvernments), Frederik Jan Stokhuyzen – Laksamana Madya yang memimpin ekpedisi Belanda ke hulu Krueng Tamiang dan memegang komando di sekitar perairan Aceh selama Perang Aceh. Lalu ada makam para suster Ursulin yang mendarat pertama kali di Hindia Belanda pada 1856 dan membuka sekolah TKK di Kepanjen sebagai cikal bakal berdirinya Santa Maria serta makam Martinus van den Elzen, salah satu pastur Yesuit yang pertama datang ke Hindia Belanda pada 1859.

Yang paling menarik dari semua makam di atas adalah, makam Gubernur Hindia Belanda ke-47 Pieter Merkus yang memerintah pada 1841-1844. Makam yang berdiri di sisi TePeEs alias Tempat Pembuangan Sampah ini, saya sambangi setelah dirayu dan diajak dengan paksa oleh seorang kakek yang tiba-tiba muncul di depan saya saat melangkah masuk ke makam Peneleh. Rasa penasaran mengalahkan rasa was-was karena mendengar ada makam gubernur Perancis di sana, membuat langkah mengikuti si kakek dengan menjaga jarak biar tak terlalu kelihatan semangatnya. Sedih melihat pagar makam yang hitam berkarat terkena asap dan api dari pembakaran sampah, ditambah aroma busuk dari tumpukan sampah serta kotoran kambing yang bertebaran di sekitar makam. Merkus meninggal karena sakit pada 2 Agustus 1844 di Huize Simpang atau yang sekarang dikenal sebagai Gedung Grahadi. Pernah ada wacana revitalisasi makam Peneleh menjadi kawasan terbuka untuk publik pada th 2008 dengan bantuan dana dari PBB dan Pemerintah Belanda. Namun sayang, hingga hari ini tak ada perubahan yang berarti di kawasan tersebut.

1337795709904141027

Mengusir rasa sedih yang tiba-tiba menyelimuti, saya lanjut mengunjungi rumah HOS Tjokroaminoto di Jl Peneleh VII yang pernah menjadi tempat kost Bung Karno. Di rumah ini saya hanya bertemu dengan seorang tukang yang sedang membongkar ubin di ruang tamu. Ia mengijinkan saya untuk melihat isi rumah yang sedang direnovasi serta tak lupa mengangsurkan buku tamu. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya sempatkan untuk mampir ke toko buku Peneleh yang ada di seberang rumah HOS Tjokromanito dan mengobrol singkat dengan Muhammad cucu dari yang empunya toko buku. Menurut Muhammad, toko buku Peneleh awalnya adalah percetakan pertama yang ada di Surabaya; namun dia tak tahu pasti tahun berapa tulisan percetakan diganti menjadi toko buku. Di toko buku inilah dulu para tokoh Sarikat Islam sering berkumpul dan berdiskusi termasuk Soekarno muda.

1337793496603643045

Senja mulai menghampiri kota Pahlawan saat kami meluncur ke Tugu Pahlawan. Terhalang padatnya lalu lintas di lampu merah karena bertepatan dengan jam pulang kerja, kami sampai di lokasi tepat saat satpam yang bertugas bersiap untuk menggembok pintu masuk. Ternyata saya datang telat, karena waktu kunjungan hanya sampai pk 14.30; sementara saya berdiri di depan pagar pada pk 16.00. Ya sudah, setelah memotret patung Soekarno Hatta dari luar pagar saya mengajak pak Teguh untuk beranjak dari sana. Tiba-tiba satpamnya memanggil, mempersilahkan saya untuk masuk dan berkeliling menikmati kawasan Tugu Pahlawan sementara pengunjung lain diminta bergegas untuk keluar. Horeeeeeee! Meski Museum 10 Nopember telah tutup tak mengapa, mungkin di hari Minggu saya masih punya kesempatan untuk bertandang ke sini. Jadilah di kawasan seluas 1,3 ha ini saya berjalan sendiri sampai bertemu pasangan yang sedang melakukan sesi foto prewedding di bawah Tugu Pahlawan.

1337793592517815851

Monumen Tugu Pahlawan didirikan pada 10 Nopember 1951 untuk mengenang keberanian para pejuang Surabaya pada Pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945. Di kawasan ini juga terdapat Makam Pahlawan Tak Dikenal dan beberapa patung tokoh pergerakan seperti Soedirman, R.Muhammad, Mayjend Soengkono, Bung Tomo serta Gubernur Soeryo. Minggu pagi (17/05) ketika iseng mampir ke sana, ternyata museumnya juga tutup dengan alasan yang dikemukakan oleh seorang petugas sedang ada loading perlengkapan pameran. Koq bisa? Padahal empat hari sebelumnya, satpam baik hati yang memperkenankan saya masuk hanya mengatakan akan ada pameran di halaman luar bukan di dalam museum!

Padamu generasi: tanpa pertempuran Surabaya, sejarah bangsa dan negara akan menjadi lain.

Tulisan pada batu prasasti yang teronggok di depan pintu masuk museum mengiringi langkah saya menuju gerbang, berterima kasih pada pak Satpam yang tak mau memberitahu namanya namun telah memperkenankan saya menikmati dari dekat kawasan Tugu Pahlawan.

Pk 17.30 meleset jauh dari janji 15 menit berkeliling, kami pun undur diri dari Tugu Pahlawan menuju HOS Sampoerna. Bukan untuk naik SHT tapi sekedar memotret bis wisata itu dan memenuhi janji saya mengajak pak Teguh mengunjungi museum Sampoerna. [oli3ve]

Bahan Bacaan: Pertempuran Surabaya November 1945, 2012 – Des Alwi Tulisan ini sebelumnya dipostkan dan jadi Headline Kompasiana, 24 Mei 2012.

Advertisements