Tags

, , , , , ,


Riuh rendah suara pembeli dan pedagang tawar menawar barang diselingi deru mesin motor, klontengan becak serta bunyi sendok beradu dengan mangkok dari pedangan gerobak keliling yang melintas di tengah sempitnya jalan pasar; membuat pejalan kaki mesti rela berbagi jalan di tengah beceknya jalan berpaving blok. Itulah ritme nadi pasar pagi di kawasan Pasar Lama Tangerang, Banten sehari-hari yang berlangsung dari subuh hingga pk 13.00.

Pk 11.15 penjual sayur dan penjual ikan segar di depan gerbang sebuah rumah bergaya Tiongkok kuno yang menggelar tenda dagangan di samping dan depan rumah, mempersilahkan kami masuk. Wowwwwww! Siapa sangka, di tengah-tengah pasar becek kami akan menemui bangunan tua yang telah disulap menjadi sebuah museum yang cukup dikenal oleh warga sekitar dengan nama Museum Benteng Heritage (MBH).

Kedatangan kami disambut oleh seorang ibu yang pagi itu bertugas di depan loket. Setelah membayar tiket masuk (HTM) kami dipandu oleh Nila berkeliling museum yang terdiri dari penggabungan dua buah rumah yang memiliki 2,5 lantai. Satu kebetulan, Nila adalah salah seorang keturunan dari keluarga Pang yang dulu membuka usaha studio foto Pang yang sangat terkenal di Jl Cilame satu jalan dengan MBH.

Benteng Heritage, sebuah realisiasi mimpi gila Udaya Halim seorang keturunan Cina Benteng dalam mengumpulkan serpihan jejak leluhurnya dengan segala ketekunan laksana metoda cut and paste mozaik pada relief kuno yang membuat pengunjung kagum pada isi bangunan ini. Dalam satu kesempatan berlibur ke Indonesia bersama keluarganya, Udaya tergerak untuk membeli sebuah rumah tua yang berdiri di seberang bekas rumah orang tuanya untuk dijadikan museum. Udaya yang menjalankan usaha di bidang pendidikan, melaksanakan mimpinya membeli dan merestorasi rumah di Jl Cilame 20 dengan biaya dari kantong sendiri. Sembari merampungkan restorasi yang berjalan selama 2 (dua) tahun (2009 – 2011), Udaya mendadak menjadi sejarawan dengan menggali berbagai informasi seputar peranakan Tionghoa Benteng, mempelajari sejarah dan mengumpulkan artefak untuk kelengkapan museumnya.

Cina Benteng adalah nama yang melekat pada masyarakat peranakan Tionghoa yang berdiam di sekitar kali Cisadane, Tangerang. Disebut demikian karena dahulu di sepanjang kali terdapat sebuah benteng pertahanan yang dibangun VOC untuk berlindung dari serangan kerajaan Banten. Ada beragam versi kedatangan leluhur Tionghoa di sekitar Cisadane, konon mereka adalah keturunan dari pasukan Ceng Ho yang sempat melakukan pendaratan di Cisadane saat berlayar ke Nusantara. Sedang sebagian adalah para pengungsi yang melarikan diri dari Batavia ketika terjadi peristiwa pembantaian besar-besaran terhadap etnis Tionghoa di Jakarta atau yang dikenal dengan pembantaian Batavia 1740.

MBH dikelola secara swadana oleh sang pemilik tunggal dan koleksinya berasal dari koleksi pribadi serta sumbangan dari warga sekitar Tangerang, kolektor benda kuno serta pemerhati budaya Tionghoa Peranakan di Indonesia. Salah satu contoh koleksi yang cukup menarik adalah sebuah mesin tik kuno yang dulu dipergunakan oleh Oey Kim Tiang (OKT). OKT adalah sastrawan, tokoh budayawan Tionghoa, pengarang dan penyadur cerita silat yang telah mengalami pasang surut pergerakan dan penjarahan terhadap etnis Tionghoa di Tangerang. Di mesin tik tersebut terpasang selembar kertas berisi surat yang diketik oleh OKT di usia senja ditujukan kepada Prof Harimurti (HE Harimurti Kridalaksana, pensiunan Guru Besar FIB Universitas Indonesia dan mantan Rektor Unika Atmajaya). Benteng Heritage dilengkapi dengan perangkat multimedia yang membantu pengunjung untuk melihat dokumentasi proses restorasi dari sebuah rumah tua yang tak terawat hingga menjadi sebuah museum yang indah dilengkapi dengan informasi seputar Jakarta Tempo Doeloe. Dari sekian banyak museum di Indonesia, MBH yang diresmikan dan dibuka untuk umum pada 11 November 2011 ini; kualitasnya setara dengan House of Sampoerna di Surabaya dan Museum Bank BI di Jakarta Kota.

museum benteng heritage, pasar lama tangerang, cina benteng

Museum Benteng Heritage

Manusia boleh saja menghancurkan kehidupan dan menolak kehadiran seseorang namun cinta yang telah mengakar di dalam hati pada tanah kelahirannya; Indonesia tidak pernah luntur. Meski telah menjadi permanent resident di Perth, Udaya yang memboyong keluarganya meninggalkan Indonesia pada saat kerusuhan 1997 melanda ibukota tidak pernah bisa melepaskan rasa cintanya pada negeri ini.

Hari semakin sore, setelah seharian berkeliling di sekitar Pasar Lama Tangerang dan mengobrol seru dengan Pak Hendra di serambi MBH yang sekaligus berfungsi sebagai Waroeng Heritage; kami pun undur diri. Salut untuk Udaya Halim dan tim dalam mengelola salah satu peninggalan bersejarah sebagai bekal pengetahuan bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal keberagaman budaya negerinya. Kehadiran MBH sebagai museum peranakan Tionghoa pertama di Indonesia, adalah satu hal yang membanggakan sehingga Indonesia pun punya museum peranakan yang bisa disandingkan dengan Baba and Nyonya Heritage Museum di Malaka atau Museum Peranakan dan Chinese Heritage Museum di Singapore.

Benteng Heritage Museum
Jl Cilame No 18/20 Pasar Lama
Tangerang 15111, Banten
Telp 021-445.445.29

HTM:
Umum Rp 20,000
Pelajar/Mahasiswa Rp 10,000
English Language Tour Rp 50,000

Jam Operasional:
Selasa – Jumat pk 13:00 – pk 18.00, Sabtu – Minggu pk 11.00 – pk 19.00, Senin TUTUP

Melangkah keluar dari museum saya teringat dengan pepatah Cina yang terpasang di salah satu tiang pintu ruangan di lantai dua,”Kawan lama datang bagai angin menyejukkan”.

Bila berkunjung ke Pasar Lama Tangerang, jangan melewatkan untuk mampir juga ke Klenteng Boen Taek Bio salah satu kelenteng tertua di Indonesia yang didirikan pada 1684, mengunjungi pabrik kecap tertua yang berdiri th 1882 dengan proses pembuatan kecapnya masih dilakukan secara tradisional, melihat dari dekat rumah-rumah bergaya Tiongkok yang masih tersisa serta menikmati kuliner khas di seputar Pasar Lama Tangerang. Salam budaya. [oli3ve]

Advertisements