Tags

, , ,


Menghindari berdesak-desakan dan gelantungan di bis, seminggu ini saya berangkat dan pulang kerja untuk sementara memilih menumpang kendaraan yang sedikit lebih “nyaman”. Tetap naik bis, tapi yang bisa duduk walau mengeluarkan ongkos lebih dengan jarak tempuh lebih lama karena jalurnya mutar-mutar. Semalam saya pulang dari kantor dengan menumpang bis patas AC16 jurusan Lebak Bulus – Rawamangun.

Seperti biasa bila sampai di bundaran Senayan, bis ‘ngetem menunggu penumpang yang keluar dari perkantoran di sekitar Senayan. Saat itulah naik seorang pemuda yang berpakaian rapi dan bersih, awalnya saya pikir seniman jalanan tapi kok tidak menenteng gitar atau alat musik lainnya? Mungkin dia hendak membaca puisi, pikir saya sambil memperhatikan dia melangkah ke depan bis. Dari segi penampilan dia lebih sopan dan rapi dari yang biasanya lusuh dan kucel, walau kadang ketemu juga seniman jalanan yang bersih dengan suara yang merdu.

Selamat malam bapak ibu kakak, mohon maaf jika kehadiran saya di sini mengganggu. Bukan tujuan saya untuk mengganggu namun hanya ingin mengetuk hati nurani bapak ibu kakak bla ..blaa …blaaa. Pada dasarnya semua agama itu sama, maaf bukan maksud saya menggurui tapi semua arahnya kepada Tuhan YME …..nama saya Nizar, Nizar Mochtar Habibie …”

Kurang lebih begitulah dia membuka penampilannya untuk menarik simpati penumpang yang sebagian besar terlihat letih setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor. Nizar memulai kisah masa kecil hingga usia 11 tahun dihabiskan di Madiun sebelum kembali ke bumi Sriwijaya tepatnya di Plaju Sumatera Selatan untuk meminta restu dari orang tuanya merantau ke Jakarta. Di Jakarta, dia menyambung hidup dengan kerja serabutan hingga melakukan pekerjaan hina merampas, mencuri dan merampok barang orang lain demi menikmati narkoba.

“Tanah Abang adalah saksi bisu kenajisan yang saya lakukan”. Dia berjalan mondar-mandir dari depan ke belakang dengan mengatur suara dan napasnya bak seorang artis teater dalam pementasan. Sebuah earphone dari brand ternama entah itu imitasi atau asli menyembul dibalik di leher bajunya terlihat dengan jelas saat dia berdiri di sisi depan bangku saya.

Dari hari ke hari orang semakin kreatif untuk mendapatkan simpati dari sesama tanpa perlu bersusah payah serta berkeringat. Tapi baru kali ini saya mendengar seorang ODHA blak-blakan di depan umum mengumbar status dan meminta belas kasihan dari penumpang bis. Akibat menggunakan obat-obatan terlarang, Nizar mengaku dirinya positif mengidap HIV dan 7 (tujuh) tahun lalu dokter memvonis hidupnya tak akan lebih dari 5 (lima) tahun lagi sebelum dikafani dan diangkut dengan keranda jenazah.

Untuk lebih mengundang simpati, Nizar mengeluarkan sebuah botol obat ARV bekal dari dokter yang harus dikonsumsi untuk menopang hidupnya. Dia juga menunjukkan beberapa strip obat yang menurut pengakuannya, dosisnya sudah dikurangi dari semula dikonsumsi 750mg menjadi 250mg saja (saya lupa nama obat yang dia sebutkan). Lalu dia pun mengaku vonis dokter tersebut telah dipatahkan setelah dirinya dinyatakan sembuh dari HIV pada 6 Pebruari 2012 lalu!

Terakhir dia sujud di lantai bis dan mulai memanjatkan doa untuk dirinya, seisi bis serta keluarganya, memohon ampunan karena telah tersesat dan sekarang telah menemukan kembali kedamaian kembali ke jalanNya. Sambil memanjatkan doa dia mulai mengedarkan pundi dari depan hingga belakang sambil tak lupa berpesan,”… saya tidak memaksa bapak/ibu/kakak untuk mengulurkan tangan, mungkin ada yang lebih layak untuk mendapatkan rizki itu, apapun kitabmu Injil, Taurat, Zabur atau Quran kembalilah padanya blllaaaaaaa …blaaa ..blaaaaa

Almarhumah mantan Menkes Endang Rahayu dan kemenkes telah banyak melakukan upaya untuk membantu para penderita HIV/AIDS ataupun kanker. Kita pun tahu beliau sendiri berpulang pada Rabu (2/4) lalu setelah berjuang dengan penyakit kanker paru-paru stadium lanjut yang dideritanya.

Untuk HIV/AIDS sendiri, saat ini pemerintah telah menanggung semua obat anti retrovirus (ARV) serta obat lainnya terkecuali vitamin) bagi penderita. Merunut dari pengakuannya (entah itu benar atau tidak), Nizar Mochtar Habibie (entah ini nama sebenarnya atau bukan saya pun tak tahu) yang mengaku berusia 29th ini adalah ODHA atau Orang Dengan HIV/AIDS. Kalau dulu HIV/AIDS mungkin hanya menyebar di sekitar orang pemakai obat terlarang atau yang berperilaku seks bebas. Namun saat ini siapa pun rentan terhadap penyebaran HIV/AIDS, bahkan seorang ibu rumah tangga atau bayi tak tahu apa-apa yang masih dalam kandungan bisa saja tertular. Penyebarannya bisa dari jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah, hubungan seks bebas atau melalui ibu yang positif HIV kepada bayi dalam kandungan atau saat menyusui.

Dari data Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI berikut kita bisa melihat berapa kumulatif kasus HIV/AIDS di 33 propinsi di Indonesia per Desember 2011:

13360925401285921781

Kalau sampai ada ODHA turun ke jalan mengumbar status dan mengemis untuk alasan pengobatan serta penyambung hidup sepertinya ini meragukan. Kenapa? Menurut saya, ini trik baru yang digunakan oleh seseorang untuk memelas kepada sesama, kalaupun ada ODHA yang sampai buka status itu biasanya disampaikan di forum dengan tujuan kampanye kesehatan bukan untuk mengemis! [oli3ve]