Tags

, ,


Awal April lalu sebuah berita heboh tentang pelecehan seksual di taksi yang menimpa seorang artis ramai dibicarakan orang. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan terjadinya kasus seperti ini. Dari salah memilih taksi yang layanannya terpercaya, sopir yang otaknya tidak sehat hingga dandanan penumpang yang mengundang pikiran lain. Tapi Blue Bird? Bukankah si burung biru adalah armada yang dikenal masyarakat dengan kualitas pelayanan yang cukup terpercaya selama ini?

Jika kita tengok peristiwa 4-5 tahun ke belakang mungkin kepercayaan terhadap burung biru masih cukup tinggi karena beberapa kasus seperti penodongan, perampokan maupun pelecehan seksual sebagian besar terjadi pada armada lain. Meski sempat terkena imbas berita miring karena kejadian tersebut terjadi di taksi berwarna biru, tapi bila ditilik dengan seksama ternyata warna biru dan logo taksinya berbeda. Bagaimana dengan sekarang?

bluebird

sumber gambar: Admin Kompasiana.com

Beberapa hari ini saya memperhatikan ada banyak keluh kesah tidak mengenakkan yang dialami oleh beberapa kawan saat menumpang burung biru yang disampaikan melalui jejaring sosial maupun curcol langsung. Sebagai pelanggan burung biru, saya pun mengingat-ingat pengalaman sendiri selama kurun waktu setahun ini. Setiap orang punya standard dan pertimbangan tersendiri untuk menentukan pilihan taksi mana yang menurutnya baik dari segi pelayanan demi kenyamanan dalam bepergian. Untuk urusan kantor, saya selalu menggunakan burung biru karena adanya fasilitas dari perusahaan tempat saya bekerja untuk menggunakan jasa Blue Bird.

Pengalaman terakhir yang gak mengenakan terjadi bulan lalu. Bersama dua orang kawan kami menyetop sebuah armada burung biru dari Pusaka Group (bisa dibedakan dari logonya bukan burung terbang tapi “sayap”?) di depan pasar Bendungan Hilir,Jakarta Pusat. Hari itu Minggu pagi pk 07.30 dan kami hendak beribadah di salah satu gereja di kompleks Kopasus Cijantung, Jakarta Timur.

“Selamat pagi pak, kita ke Kopassus Cijantung ya pak.”
“Lewat mana mbak, tol apa biasa?”
“Bapak tahu lewat tol?” *geleng-geleng* “Kalau lewat jalan biasa?” *geleng-geleng lagi*

Mendengar pembicaraan tersebut, kawan saya yang satu lebih banyak tinggal di negeri Kincir Angin sedang yang seorang tidak mengenal daerah Cijantung saling berpandangan lalu bisik-bisik,”Gimana nih?”

“OK pak, kita lewat jalan biasa.”
“Tolong diarahkan ya mbak, saya baru tiga bulan datang dari Jawa blom hapal Jakarta.” *gubraksss, kawan saya mukanya pucat pasi padahal sudah sarapan bubur*
“Baik pak, nanti kita lewat Pasar Minggu aja luruuuuuuuuuus sampai TB Simatupang ya.”

Kejadian di atas mengingatkan saya pada pengalaman sebelumnya karena setelah dihitung-hitung ternyata dalam setahun ini sudah lebih dari tiga kali saya naik Blue Bird yang sopirnya mengaku baru tiga bulan bekerja dan tidak tahu jalan. Lebih parah lagi mereka juga baru tiga bulan tinggal di Jakarta! Dari pengalaman teman dan pengalaman sendiri, berikut ini adalah cacatan sopir burung biru:

  • Sopir sudah sangat jarang menanggapi sapaan salam dari penumpang ketika masuk kendaraan.
  • Sopir tidak menyalakan lampu ketika penumpang bersiap turun saat naik taksi di malam hari. Sebagian besar sopir akan buru-buru menyalakan lampu ketika penumpang menyodorkan uang dalam nominal yang lebih dari ongkos yang tertera di argo tanpa meminta kembalian. *ini salah satu trik saya nyindir sopir ;)*
  • Tak ada lagi sapaan, “Mohon dicek kembali barangnya, jangan sampai ketinggalan pak/bu/mbak/mas! Selamat pagi/siang/sore/malam” saat penumpang hendak turun.
  • Sopir lebih banyak TIDAK TAHU jalan untuk menuju satu lokasi dan ngeyel ketika diarahkan melalui jalan pintas/jalan tikus. Ngakunya gak tahu koq ngeyel?
  • Sopir akan memasang tampang manyun sepanjang jalan setelah mengetahui jarak yang ditempuh adalah jarak pendek. Kenapa gak ditolak aja penumpangnya kalau memang tidak mau mengambil jarak pendek?
  • Sopir mulai berani mengambil penumpang jarak jauh saat timer-nya (jam kerjanya) sudah memberi peringatan jam pulang sehingga di jalan melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
  • Sopir menerima telepon dan membalas sms saat sedang mengemudi.
  • Ada yang punya pengalaman lain? silahkan ditambahkan

Jika kita menilik sejarah pemilihan nama Blue Bird, tentunya setiap unsur dalam perusahaan transportasi publik yang cukup besar dan punya nama ini dibekali pengetahuan dasar mengenai standar pelayanan saat mulai bergabung. Nama Blue Bird diambil dari legenda Eropa tentang doa dan harapan seorang gadis kecil yang ingin mencari kebahagiaan dengan berpedoman pada kejujuran, pelayanan dan peduli pada sesama. Nah, Blue Bird dibangun atas dasar nilai-nilai tersebut seperti yang dituliskan dalam sejarah perusahaan yang bisa dibaca di sini.

Dengan memperhatikan kemerosotan pelayanannya, para pelanggan pun mempertanyakan kemana larinya filosofi servis ANDAL (=Aman, Nyaman, muDah dan persoNAL) yang didengung-dengungkan pihak manajemen Blue Bird? Semoga pihak manajemen Blue Bird tidak sebatas menyampaikan servis berkualitas dengan mengabaikan perilaku sumber daya manusianya yang menjadi ujung tombak di lapangan. Salam dari pelanggan setia yang mulai mempertimbangkan pelayanan si putih yang cepat. [oli3ve]