Tags

, , , ,


Sepiring bubur ayam yang dibeli dari tukang bubur keliling baru saja tandas saat ketukan piring tukang ketoprak dan alunan musik tukang roti bersahut-sahutan di depan rumah. Irama pagi yang membawa ingatan saya pada acara paskah semalam di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan. Di tengah pujian dinaikkan, song leader memberitahu seantero GBK kehadiran Pak Kumis dan mempersilakan beliau memberi sambutan. Pk 19, 2 (dua) buah mobil yang sudah disiapkan di ujung tribun VIP meluncur perlahan membawa Pak Kumis dan rombongan ke panggung utama.

Sesuai dengan agenda yang tercantum di blog-nya, semalam Pak Kumis memang dijadwalkan untuk “Menghadiri Paskah bersama dan HUT ke-5 Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship”. Inti sambutannya adalah mengucapkan selamat paskah buat semua umat Kristiani di Jakarta. Walau lahir dan dibesarkan dalam keluarga muslim beliau selama 12 tahun menimba ilmu di sekolah Jesuit jadi tahulah pendidikan kristen. Di akhir sambutan Pak Kumis berpesan pilihlah [saya] yang terbaik di bulan Juli nanti.

foke

Foke menyapa warga di Petak Sembilan, Glodok

Turun dari panggung Pak Kumis diantarkan kembali dengan mobil terbuka, melambaikan tangan dari pinggir lapangan ke arah jemaat diiringi gerimis ke tribun VIP sebelum meninggalkan GBK. Sejam kemudian kembali pujian dihentikan sejenak memberi jeda kepada Menkokesra Agung Laksono yang juga hadir di lapangan untuk memberi sambutan.

Karena firman tak jua dibagikan, jelang pk 22 berlima kami terpaksa beranjak dari bangku bersama beberapa umat lainnya saat Ruth Sahanaya yang berduet dengan Harvey Malaiholo tengah mengangkat pujian. Pk 22 tepat kami duduk mengelilingi gerobak soto menikmati nasi goreng dan soto gedhor di trotoar samping fx Senayan. Iseng-iseng saya membuka pembicaraan dengan bapak penjual soto.

Pak tiap malam mangkal di sini?”
Iya, biasanya jam segini sudah habis tapi karena hari ini ada paskahan dan pak Kumis lewat jadi sama Satpol PP disuruh minggir dulu. Biasa mbak, rakyat kecil harus menyingkir saat petinggi datang

Ucapan si bapak membuat saya teringat pada sebuah gambar yang terpampang di koran ibukota beberapa hari lalu saat Jokowi berbincang dengan penjual nasi goreng di daerah Gajah Mada dan makan siomay di emperan dengan rakyat kecil. Lalu melayang ke imlek Januari lalu, ketika berpapasan dengan Foke yang sudah lama tidak berkunjung ke Petak Sembilan akhirnya muncul juga di Vihara Dharma Bhakti. Para pedagang kaki lima (PKL) yang biasanya memenuhi kawasan Glodok hari itu sepi karena dihalau oleh Satpol PP agar menyingkir selama seminggu sampai Pak Kumis selesai kunjungan.

Lha wong sehari-hari mereka berdagang di sana koq. Okelah, kalau memang itu kawasan bebas dari PKL cobalah dirapikan dan disediakan kawasan buat mereka berdagang yang juga memudahkan bagi pelanggannya datang ke sana. Bukankah para PKL itu membayar iuran supaya bisa berdagang di tempat yang dilarang tersebut?

Pilihan ada di tangan Anda warga Jakarta. Gunakanlah hak pilih Anda dengan baik di Juli 2012 nanti dan pilihlah yang benar-benar terbaik menurut Anda. Jangan dipilih kalau akhirnya dicerca juga, kasihan kan   😉 , saleum [oli3ve].

Advertisements