Tags

, , ,


Baru kali ini review sebuah buku tanpa ada niat untuk beli, tapi kalau ada yang mau ngasih ya akan diterima dengan senang hati😉

Buku ini baru diluncurkan pada Minggu, 11 Maret 2012 di Gedung Dewan Pers Jakarta ,ditulis oleh seorang wartawan senior di lingkungan istana Derek Manangka. Setelah seminggu dipajang, pas balik lagi ke toko buku eh sudah ada yang dibuka sampulnya. Jadilah menerapkan sistem baca kebut dengan teknik skimming dan scanning sambil menunggu waktu ibadah.

Meski penulisnya mengatakan buku ini berisi kisah hidup Moerdiono mantan Menteri Sekertaris Negara jaman eyang Harto dalam posisinya sebagai negarawan dan menteri, namun dari judulnya sudah bisa ditebak buku ini bertutur tentang apa dan siapa. Kedekatan Pak Moer dan Poppy sudah menjadi bahan berita pers sejak lama, semenjak Pak Moer masih aktif sebagai salah satu orang kepercayaan Pak Harto dan Poppy sebagai model papan atas Indonesia.

As a human, saya tersentuh dengan peliknya hubungan yang mereka jalani dan berusaha ditutupi dari publik selama sekian puluh tahun. Di bagian awal buku ini ada beberapa pendapat dari figur terkenal seperti Eep Saefullah, Wiranto dll tentang Moerdiono. Semakin ke tengah isinya bisa ditebak tentang Poppy – Moerdiono, bagaimana kedekatan mereka termasuk kedekatan pak Moer dengan Gadis anak angkat Poppy yang pernah diperebutkan juga dengan saudaranya. Tentunya semua dari sudut pandang Poppy khan Pak Moer sudah berpulang 7 Okt 2011 silam.

Menurut pandangan awam saya, buku ini dikemas untuk mengusik orang² tertentu; ingin menunjukkan kalau Poppy-lah satu²nya orang yg peduli di masa² sakit hingga akhir hayat pak Moer. *ok itu adalah haknya dan yang tahu tentulah keluarga mereka*

Hal ini terlihat jelas dalam bahasan masa 17 bulan Poppy merawat pak Moer. sampai² ada foto saat pak Moer tergolek di ranjang dengan keterangan Poppy membersihkan pup-nya dibantu 3 orang suster.

Untuk melengkapi isinya buku dilengkapi beberapa foto kenangan yang konon tidak untuk dikonsumsi publik dibeberkan di bagian akhir seperti : kegiatan sembayangan yang digelar Poppy setiap malam di pusara pak Moer selama seratus hari (?), lalu foto² kenangan saat mereka liburan berdua di dalam mau pun luar negeri, foto saat² pak Moer kontrol ke Singapur dan selama dirawat di rumah/rumah sakit dll.

Lalu di bagian akhir, ada pernyataan Poppy bahwa bendera merah putih yang dipakai untuk menutup peti pak Moer akhirnya diantarkan ke rumahnya oleh pejabat dari SetNeg sebagai bukti penghargaan atas jasanya sebagai pendamping pak Moer beberapa hari setelah pemakaman. Sepengetahuan saya, biasanya bendera diserahkan setelah upacara militer di tempat pemakaman.

Tanpa melihat dengan tujuan apa pun buku ini dibuat, saya tetap salut dengan pak Moer, salah satu tokoh idola saya sewaktu kecil.