Tags

, ,


Satu alasan utama datang ke Erasmus Sabtu sore (17/03/2012) untuk menonton Black Butterflies adalah lokasi pengambilan gambar film ini di Afrika Selatan, negara impian untuk dikunjungi suatu hari nanti. Lebih mantap lagi setelah iseng mencari informasi tokoh Ingrid Jonker yang diceritakan di film dan menemukan salah satu puisinya dibacakan oleh Nelson Mandela pada pidato pertamanya di depan parlemen Afrika Selatan 24 Mei 1994.

black butterfly

Black Butterflies adalah kisah kehidupan, percintaan, konflik ayah anak dalam perjalanan hidup seorang penyair terkenal Afrika Selatan Ingrid Jonker (Carice van Houten). Konflik bermula dari penolakan sang ayah yang bercerai dengan ibunya ketika Ingrid dan kakaknya Anna masih kecil. Di rumah ayahnya, Ingrid menempati sebuah kamar kecil di bagian belakang rumah sederetan dengan kamar pembantu. Di kamar inilah sebagian besar buah pikirannya dituliskan langsung ke dinding yang bercat putih kusam.

Berlatar belakang isu politik pada masa rezim apartheid berkuasa di Afrika Selatan yang ditunjukkan lewat sikap otoriter Dr Abraham Jonker (Rutger Hauer) seorang anggota parlemen dari Partai Nasional yang pro apartheid. Dihantui oleh insiden terbunuhnya seorang anak kecil dalam demonstrasi anti rasis yang dilakukan oleh sekelompok warga kulit hitam di Nyanga yang berlangsung di depan matanya, Ingrid menuliskan sebuah puisi yang kelak membuat nama Ingrid Jonker mendunia. Puisi yang dirobek oleh ayahnya karena bertentangan dengan pandangan politis sang ayah yang khawatir sepak terjang Ingrid mengancam posisinya. Tulisan-tulisan Ingrid yang bernada anti apartheid sering mengalami hambatan publikasi termasuk terkena cekal di tangan ayahnya yang juga seorang penulis dan editor yang bertanggung jawab terhadap sensor publikasi karya seni dan literatur.

Hidup nomaden berpindah dari satu hotel ke hotel di Cape Town bersama Simone buah perkawinannya dengan Pieter Venter, hubungan asmaranya dengan Jack Cope (Liam Cunningham) novelis senior merangkap mentornya yang diwarnai perselingkuhan, perasaan bersalah karena aborsi hal terlarang yang ditangani oleh dukun beranak, ketergantungan pada minuman alkohol dan rokok serta masalah keuangan membuat tekanan hidupnya semakin kompleks. Diantara masalah tersebut, karyanya mendapat penghargaan dalam satu lomba dimana Ingrid mendapat kesempatan mengunjungi Eropa ditemani Eugene Maritz (Nicholas Pauling) penulis selingkuhannya.

Sekembali dari Eropa, Ingrid yang mengalami depresi berat sempat menjalani perawatan kejiwaan di salah satu rumah sakit. Tidak kuat dengan segala tekanan yang dihadapinya, Ingrid mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun ke laut pada 19 Juli 1965 di usia yang masih sangat muda 31 tahun.

Remember
to see in my eyes,
For the sun that I now cover forever
with black butterflies

[Ingrid Jonker]

Black Butterflies ditutup dengan seorang gadis berlari di pantai Cape Town diiringi suara Nelson Mandela saat mengapresiasi karya Ingrid Jonker sebelum membacakan puisi β€œDie Kind wat Doodgeskiet is deur Soldate in Nyanga” (The Child that Dead in Nyanga). Film yang dibuat tahun 2011 ini merupakan produksi bersama Jerman, Belanda dan Afrika Selatan disutradari oleh Paula van der Oest; memenangkan 6 (enam) penghargaan SAFTAs (South African Film and Television Awards).

Ingrid Jonker lahir 19 September 1933, pada 2004 mendapat penghargaan Silver Order of Ikhamanga dari Presiden Thabo Mbeki atas kontribusinya pada literatur yang memperjuangkan hak asasi manusia. Sebuah monumen berbentuk sepeda roda tiga dibangun untuk mengenang Ingrid Jonker di Gordon’s Bay tempat Ingrid menghabiskan masa kecil, masa-masa bahagia dan mengakhiri hidupnya.[oli3ve]

Advertisements