Tags

,


Semalam habis nonton film Hugo bersama seorang kawan di salah satu mall di Jakarta Selatan. Hugo Cabret seorang bocah yatim piatu yang senang mengutak-atik mesin mengikuti kesukaan ayahnya seorang tukang jam. Sepeninggal ayahnya Hugo dipelihara oleh pamannya Claude Cabret seorang petugas penjaga jam di stasiun kereta kota Paris. Mereka tinggal di ”apartemen” yang disediakan untuk penjaga jam di dalam tabung jam stasiun yang luput dari perhatian orang di sekitar stasiun. Ketika sang paman menghilang, Hugo dengan sendirinya mengambil alih tugas menjaga jam stasiun tetap berputar sesuai waktunya dan memperbaiki jika ada kerusakan tanpa ada seorang pun tahu. Dunia Hugo sebatas lubang jam tempat dia mengarahkan pandangannya ke seantero stasiun memperhatikan lalu lalang orang yang turun naik kereta, aktifitas para pemilik toko di stasiun dan menghindar dari kejaran Gustav inspektur stasiun ketika keluar dari persembunyian untuk mencuri makanan dari toko roti.

Hugo

Hari-harinya diisi dengan mengutak-atik otomaton sebuah robot tak bertuan ditelantarkan dan ditemukan ayahnya di museum yang belum selesai diperbaiki saat ayahnya meninggal. Hugo percaya bahwa ada pesan khusus ayahnya yang akan membawanya pada sebuah rahasia jika otomaton ini berfungsi kembali. Untuk itu, dia kerap mencuri spare part dari toko mainan milik Georges Méliès yang ada di dalam stasiun untuk melengkapi bagian robot yang hilang. Suatu hari dia tertangkap basah dan manual book otomaton harta berharganya disita oleh papa Georges.

Untuk mendapatkan bukunya kembali, papa Georges memintanya bekerja kapan pun dia bisa di tokonya. Hugo meminta bantuan Isabelle anak baptis papa Georges untuk memastikan bukunya tidak dibakar. Harapannya pada otomaton semakin bersinar ketika Hugo menemukan kunci berbentuk hati yang selama ini dicari untuk menjalankan manusia robotnya di kalung Isabelle. Dalam imajinasinya Hugo melihat dunia ini sebagai sebuah mesin besar yang terdiri atas bagian-bagian sesuai dengan kebutuhannya tanpa ada suku cadangan tambahan. Jadi jika dunia ini seumpama mesin yang besar, Hugo yakin dirinya bukan bagian tambahan tapi dia ada karena satu alasan.

Gambar yang dihasilkan oleh otomatom membawanya ke gedung arsip film untuk mencari tahu Voyage to the Moon; film yang dulu ditonton Hugo bersama ayahnya dan menemukan Georges Méliès sebagai pembuat film kawakan. Pada akhirnya, apa yang selama ini berusaha dikubur dan dilupakan oleh papa Georges yang dianggap sebagai luka yang menyakitkan terungkap lewat otomatom. Di dunia nyata sosok Georges Méliès memang benar adanya, beliau adalah seorang ilusionis yang kemudian melebarkan sayap menjadi pembuat film terkenal Perancis.

All of us were made for a purpose, If you lose your purpose it’s like you’re broken – [Hugo Cabret]

Hugo meraih berbagai penghargaan di ajang bergengsi film internasional diantaranya kategori best cinematography, best art direction, best visual effects, best sound editing dan best sound mixing dari 11 (sebelas) nominasi di Academi Award 2011. Banyak filosofi tentang kehidupan yang disampaikan dengan sederhana namun memiliki makna yang dalam tersirat sepanjang film yang diadaptasi dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick ini.

Hugo mengingatkan kita akan momen-momen bersejarah berupa jejak leluhur dalam perjalanan kehidupan ini tidak untuk dilupakan tapi dilestarikan. Hugo mengajarkan kita tentang bagaimana meraih mimpi dan menyegarkan memori saya pada satu obsesi yang tertunda.[oli3ve]