Tags

,


Sie Teng San ditugaskan oleh gurunya untuk berbakti dan membawakan obat buat ayahnya yang terluka saat pertempuran dengan Souw Po Tong. Sie Teng San putera panglima perang Kerajaan Tang – Sie Jin Kwie, menjadi korban salah sasaran panah ayahnya saat masih kecil. Teng San yang dianggap sudah mati ternyata diambil dan dihidupkan kembali oleh Dewa Onggo yang mengangkatnya menjadi murid. Sesuai petuah gurunya, Teng San berangkat menjemput ibunya Liu Kim Hwa dan adiknya Sie Kim Lian di Liong Bun sebelum menemui ayahnya. Sementara itu Sie Jin Kwie yang tidak sadarkan diri, rohnya terlepas dari raga melayang-layang ke akhirat. Di akhirat penjaga Buku Langit memperlihatkan takdir masa depannya kelak Sie Jin Kwie akan mati oleh anak panah Sie Teng San.

Demikian penggalan lakon Di Negeri Sihir, babak terakhir dari Trilogi Sie Jin Kwie produksi Teater Koma di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Sabtu (10/03/12). Setelah Sie Jin Kwie (2010) dan Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011), babak ini lebih banyak mengisahkan Sie Teng San. Pertemuannya dengan duo bersaudara ketua perampok, Touw It Houw yang cebol dan adiknya Touw Sian Tong yang berisi banyolan asal muasal munculnya pungutan jalan tol.

Kisah cinta yang pelik diwarnai pertumpahan darah dan pertikaian dengan penguasa ilmu sihir Hwan Li Hoa putri Hwan Hong jenderal Tartar yang diramalkan oleh gurunya akan menjadi istri dari Sie Teng San. Karena kedua ayah mereka adalah musuh bebuyutan ditambah kekerasan hati Sie Teng San yang tidak rela menikahi ahli sihir.

Kisah Sie Jin Kwie sendiri merupakan legenda rakyat Tiongkok pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907 Masehi). Roman sejarah yang di Indonesia dibagi dalam dua sekual cerita Sie Jin Kwie Berperang ke Timur dan Sie Jin Kwie Berperang ke Barat. Untuk produksi ke-126 ini, Teater Koma secara khusus menampilkan 350 potong desain kostum dan ornamen yang didominasi dengan motif batik peranakan.

Nano Riantiarno dalam catatan Sie Jin Kwie dan Batik, memaparkan bahwa pemilihan motif batik peranakan sebagai dasar motif busana Sie Jin Kwie di Negeri Sihir; ditentukan setelah mereka melakoni perjalanan budaya ke sentra batik Trusmi Cirebon, Pekalongan, Semarang, Jepara, Rembang, Lasem, Solo dan Yogyakarta. Maka selama lima jam mata penonton pun dimanjakan oleh detail tata panggung yang apik dan keindahan kostum para pemain.

Hal ini tampak jelas pada upacara penghormatan peti Kaisar Lie Sie Bin dan Sie Jin Kwie yang terdengar adalah tangis milangi yaitu ratapan yang dinyanyikan untuk mengenang seseorang yang meninggal dalam budaya Batak. Selama menunggu pementasan dimulai dan saat rehat selama 15 menit, penonton juga dapat menyaksikan perjalanan panjang Teater Koma selama 35 tahun sejak berdiri pada 1 Maret 1977 lewat pameran foto di lobby Graha Bhakti Budaya TIM.

Sie Jin Kwie masih dipercayakan kepada Rangga Riantiarno putera Nano dan Ratna Riantiarno yang tahun lalu berhasil menyutradarai Antigoneo. Ade Firman Hakim yang berperan sebagai Said bin Mad dalam Sangkala 9/10 meski baru bergabung dengan Teater Koma dipercaya memerankan Sie Teng San sedang Hwan Li Hoa diperankan oleh Tuti Hartati. Sie Jin Kwie Di Negeri Sihir akan dipentaskan sepanjang bulan Maret 2012 di GBB TIM dengan harga tiket Rp 150,000 | Rp 100,000 | Rp 50,000 (weekdays) dan Rp 200,000| Rp 150,000 | Rp 75,000 (weekend). Informasi tiket bisa menghubungi bagian tiket GBB TIM di (021)31934740 – 31937325.

Trilogi Sie Jin Kwie memberi inspirasi jalanilah hidup dengan hati lapang. Bahwa dalam kehidupan ini sering kita bertarung/berkutat dengan masalah yang sebenarnya tidak ada namun diciptakan di alam pikiran sehingga mempengaruhi kita, saleum [oli3ve].

Advertisements