Tags

, ,


Tanda waktu sudah menunjukkan pk 19.30, Budianto bolak-balik merapikan riasan di wajahnya dan memulas foundation untuk menutupi lengannya yang bertattoo. Setengah jam lagi Budianto dan kawan-kawan harus bersiap di belakang panggung menunggu giliran untuk tampil sesuai dengan bagiannya. Di ruang tengah lantai dua, para pria berjejer di depan cermin: ada yang masih asik memoles wajahnya, merapikan kostum sembari bercanda satu sama lain. Sementara di ruang pojok, para wanita juga sibuk membenahi riasan dan sanggulnya. Setiap sabtu siang mereka berkumpul di Gedung Wayang Orang Bharata, berlatih untuk pementasan di malam harinya.

Malam itu Budianto berperan sebagai Bima adik kandung Yudistira dalam lakon Begawan Kilat Buwono (Gareng Menjadi Bharata Guru). Kami mengobrol santai dengan Mas Budi, memperhatikan cara dia memoles diri sambil sesekali menyahuti pertanyaan keponakannya yang mondar-mandir menanyakan pernak-pernik yang dikenakan sang paman “Iki opo pakle?” Mas Budi berbagi cerita tentang keseharian mereka di luar panggung, tentang keluarga besarnya, tentang kompleks perumahan Bharata dimana mereka tinggal sembari mengisap sebatang rokok putih yang terselip di jari tangan kanannya. Biar lengkap diajaknya Sakuni yang diperankan oleh Mas Bianto untuk ikut mengobrol dan berbagi kisah Bharatayuda bersama kami.

Budianto dan Bianto adalah bagian dari paguyuban Wayang Orang Bharata yang berdiri sejak 5 Juli 1972. Para pemainnya adalah keluarga besar turun temurun yang hidup dari seni peran dalam dunia pentas wayang orang. Regenerasi pemain di paguyuban ini dilakukan dari anak-anak para pemain senior yang sekarang aktif. Minat dan kecintaan mereka bertumbuh karena seringnya melihat latihan dan pementasan orang tuanya. Kebanggaan dan kecintaan mereka pada dunia seni serta kelompok inilah yang membuat mereka bertahan. Kalau pun ada ada orang luar yang ikut bergabung menurut Mas Budi biasanya tidak bertahan lama karena tidak bisa lebur dengan kehidupan mereka.

13309947271813469842

13309948101312519361

Dalam bayangan saya gedung berkapasitas 250 kursi itu tak akan penuh, namun menjelang pementasan terlihat jejeran bangku satu per satu mulai diisi. Paguyuban Wayang Orang Bharata tetap bertahan di tengah ramainya serbuan hiburan asing. Umumnya jika kita menonton di gedung pertunjukan penonton tidak diperkenankan membawa makanan dari luar. Malahan tak jarang disita oleh petugas keamanan di pintu masuk. Berbeda di tempat ini, penonton malah dibebaskan memesan makanan dari luar dan menikmatinya sambil menonton pementasan wayang orang. Untuk memastikan hal ini, saya sengaja mendatangi penjaga di loket sebelum duduk di bangku VIP yang sudah dipesan dari siang. Meski saya bukan orang Jawa sementara bahasa pengantar yang digunakan dalam pementasan adalah bahasa Jawa, di atas panggung terdapat running text untuk membantu penonton yang tidak mengerti bahasa Jawa memahami jalan cerita. Sesekali guyonan pemain terutama para punakawan di atas panggung pun membuat perut dikocok-kocok hingga larut malam. Kalau pun ada kalimat yang saya tidak mengerti, saya bertanya pada Ken asli Jawa yang duduk di sebelah saya.

13309948942018646525

1330994960557366163

Di tengah pementasan, saya tak mau ketinggalan memesan ketoprak yang menurut lidah saya itu adalah ketoprak terenak sedunia. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk menonton pementasan wayang orang ini karena harga tiket sangat terjangkau : VIP Rp 50,000, Kelas I Rp 40,000 dan balkon Rp 30,000. Pementasan setiap Sabtu malam (malam Minggu) pk 20.00 di Gedung Wayang Orang Bharata Jl Kalilo 15 Senen Jakarta Pusat. Foto lainnya bisa dinikmati di SINI. [oli3ve]

sebelumnya diposting di Kompasiana dan terbit di lembaran Freez Kompas Kamis (8 Mar 2012).