Tags

, , , , ,


Sabtu (18/02/2012) pk 18.30 .. stasiun Jakarta Kota atau biasa disebut Beos terlihat sedikit lengang. Beberapa calon penumpang menunggu kedatangan kereta dengan duduk santai di bangku peron sembari memencet-mencet HP atau mengobrol dengan teman di sebelahnya. Petugas di pintu pengecekan tiket pun terlihat santai melayani calon penumpang.

Namun suasana berbeda tampak di hall yang berada di sisi kanan stasiun. Hall dengan langit-langit yang tinggi Sabtu kemarin menjadi tempat yang dipilih oleh sebagian orang untuk menikmati malam minggu. Meski di tengah ruangan digelar karpet yang cukup empuk, beberapa diantaranya sengaja memilih duduk senderan ke dinding dan yang lain merapatkan diri di sekitar pilar.

mochtar soemodimedjo

Mochtar Soemodimedjo, Sutradara Kereta Api Terakhir lagi ngobrol dengan KompasTV didampingi menantunya

Masing-masing memilih tempat yang dirasa nyaman dalam ruangan yang agak panas karena tidak berpendingin walau beberapa kipas angin yang menempel di dinding ditambah empat kipas angin besar telah ditegakkan di dalam ruangan untuk menghalau panas. Suasana ini mengingatkan saya pada perayaan 80 tahun stasiun Beos yang digelar di tempat yang sama dua tahun lalu sambil mendengar cerita Ghijsel yang dituturkan oleh Poetri Suhendro. Yang membedakan kali ini acaranya bukan mendengarkan cerita tapi nonton bareng (nobar) film Kereta Api Terakhir.

Pk 19.00 hall sudah dipenuhi 300 orang yang mulai mengatur posisi duduk senyaman mungkin agar bisa bertahan duduk selama 3 jam! Kereta Api Terakhir adalah film romansa perjuangan produksi tahun 1981 dengan latar belakang sejarah perang kemerdekaan Indonesia; diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya MayJen RM Slamet Danusudirjo atau yang dikenal dengan nama pena Pandir Kelana. Film produksi bersama Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dan PJKA (kini PT Kereta Api Indonesia) ini termasuk salah satu film Indonesia yang pembuatannya menelan biaya cukup besar sekelas Janur Kuning maupun Serangan Fajar. Ketika ditanya berapa biaya yang dihabiskan untuk pembuatan film, Mochtar Soemodimedjo sang sutradara peraih penghargaan Lifetime Achievement FFI 2006 yang hadir memberikan kata sambutan sebelum pemutaran film enggan menjelaskan secara rinci.

kereta api terakhir

Yang lagi seru nonton Kereta Api Terakhir di hall stasiun Beos, Jakarta

Kisahnya berawal dari tindakan Belanda yang belum rela melepas Indonesia yang sudah merdeka, melanggar perjanjian Linggarjati dengan melancarkan Agresi Militernya pada 21 Juli – 5 Agustus 1947. Belanda berusaha untuk menguasai titik-titik penting Indonesia yang menjadi lumbung pangan serta mengincar jalur transportasi. Kereta api sebagai urat nadi yang menghubungkan kota-kota di pulau Jawa pun menjadi sasaran untuk dilumpuhkan Belanda. Karenanya markas besar tentara di Yogyakarta memutuskan untuk menarik semua rangkaian kereta dari Purwokerto ke Yogyakarta. Kereta yang diberangkatkan ke Yogyakarta itu sekaligus mengangkut pengungsi. Letnan Sudadi, Letnan Firman dan Sersan Tobing bekerjasama dengan Kol. Gatot Subroto mendapat tugas untuk mengawal kereta dari stasiun Purwokerto. Mereka sempat kewalahan mengatur para pengungsi yang memaksa naik ke dalam kereta yang sudah penuh karena ketakutan mendengar Belanda semakin mendekati kota.

Kereta Api Terakhir merupakan road movie pertama di Indonesia dengan alur cerita berfokus pada kereta terakhir yang diberangkatkan dari stasiun Purwokerto ke Yogyakarta. Kereta dengan kondektur Bronto ini dikawal oleh Letnan Firman dan Sersan Tobing. Perjalanan mereka tidak mulus dari gerbong yang terbakar, digempur pesawat Belanda di tengah jalan, juga diwarnai kisah asmara alias cinlok di atas kereta. Meski mengambil setting dalam suasana perang, Kereta Api Terakhir tidak didominasi suara tembakan atau deru pesawat pembom tapi juga diwarnai adegan maupun dialog yang mengundang tawa. Kegalauan Letnan Firman yang jatuh cinta pada pandangan pertama untuk mentukan pilihan pada gadis yang ternyata kembar, juga tak ketinggalan gaya kocak Sersan Tobing (diperankan oleh Gito Rollies) bernyanyi dengan gitar dari Kol. Gatot Subroto melantunkan karya Ismail Marzuki Rindu Lukisan dan Jangan Ditanya Kemana Aku Pergi di markas maupun saat menunggu keberangkatan kereta di stasiun. Tidak mengherankan jika selama pemutaran film penonton dibuat tegang, tertawa bahkan bertepuk tangan campur haru. Kereta Api Terakhir didukung oleh deretan pemain yang menjadi bintang pada jamannya: WD Mochtar dan istrinya Sofia WD, Marlia Hardi, Bangun Sugito atau yang tenar dengan nama Gito Rollies, HIM Damsyik, Doddy Sukma, Deddy Sutomo, Rizawan Gayo dan Pupung Harris.

kereta api terakhir, batmus

Peserta nobar yang bertahan sampai akhir film

Mengingat durasi film yang cukup panjang 172 menit (2 jam 52 menit) untuk menghalau angin, seduhan teh atau kopi panas serta bandrek tersaji sebagai pelengkap penganan kecil membuat mata enggan berpaling dari layar. Penonton yang membawa bekal makan malam sendiri pun bebas untuk menyantap bekalnya. Tepat pk 22.00 setelah berfoto bersama dengan sutradara, para peserta nobar yang bertahan sampai film selesai satu per satu meninggalkan stasiun Beos. Mereka menanti kereta terakhir dan transjakarta terakhir yang membawa kembali ke tujuan masing-masing dengan perasaan puas.

batmus, kereta api terakhir

Pak Mochtar Soemodimedjo berfoto bersama pejabat KAI, Sahabat Museum dan IRPS

Kegiatan nobar ini diprakarsai oleh komunitas Sahabat Museum (Batmus) bekerjasama dengan pencinta kereta api Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) dan didukung oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Tertarik untuk mengikuti kegiatan Batmus atau IRPS? Silahkan menghubungi melalui alamat berikut:

Sahabat Museum
Website : http://www.sahabatmuseum.com
Milis : SahabatMuseum-subscribe@yahoogroups.com
Email : adep@cbn.net.com
Facebook : http://www.facebook.com/SahabatMuseum
Twitter : @sahabatmuseum

Indonesia Railway Preservation Society
Website : http://www.irps.or.id
Email : secretariat@irps.or.id

Bagaimana dengan anda, apa kegiatan malam minggu anda kemarin? [oli3ve]