Tags

, , , ,


Tekad sudah bulat persiapan sudah mantap; langit gelap tak mengurungkan niat dan langkah untuk menonton Sang Penari di salah satu mall di daerah Senayan Minggu sore (13/11) lalu. Ya, demi menajamkan memori sehari sebelumnya saya sempatkan melahap (lagi) isi Ronggeng Dukuh Paruk yang saya comot di toko buku langganan tempat biasanya saya menumpang untuk membaca. Ketika membeli tiket, saya perhatikan tak banyak yang berminat dengan Sang Penari.

Hal ini terlihat dari perbandingan jumlah bangku yang terjual dan yang masih kosong, tak jauh berbeda menjelang pemutaran film. Duduk satu deret dengan pasangan pensiunan yang suaminya tak henti-henti berbisik menerangkan kejadian tahun 1965 kepada istrinya yang terus bertanya dan sepasang muda-mudi yang sengaja memilih dua bangku di pojokan. Di depan kami seorang ibu membawa tiga anaknya yang beranjak dewasa.

Lalu di sisi kiri saya dua orang bule yang sudah berumur, di depan mereka empat anak muda yang seorang sepanjang film lebih sering menatap layar blackberry-nya, sedang di deretan belakang dipenuhi oleh orang-orang muda; ada yang datang berpasangan ada yang berkelompok.

ronggeng dukuh paruk

Buku Ronggeng Dukuh Paruk & tiket nonton

Sang Penari bercerita tentang kehidupan, cinta, budaya turun temurun dan pergerakan politik di Dukuh Paruk; sebuah dusun terpencil di sekitar Banyumas-Jawa Tengah. Walau dusun itu dikelilingi sawah namun warganya sudah lama tidak panen padi. Mereka sangat miskin, buta huruf dan mengandalkan hidup sebagai buruh tani kebun singkong. Meski hidup dalam kemiskinan warga pedukuhan memegang teguh keyakinan akan perlindungan dari leluhurnya Ki Secamenggala yang kuburannya berada di tengah kampung. Setiap hari warga dukuh datang memanjatkan doa membawa sesajen di depan kubur keramat itu agar kehidupan pedukuhan aman tentram. Serta kebanggaan terhadap kesenian lokal yang dipuja dan merupakan satu-satunya hiburan yang membuat harga diri dan pamor pedukuhan itu semarak hingga kampung tetangga: ronggeng. Apa yang menarik disimak dari film ini?

Cinta dan pengorbanan
Berteman sedari kecil, bertumbuh bersama sebagai anak yatim piatu yang kehilangan orang tua karena petaka tempe bongkrek yang melanda kampung mereka membuat Srintil dan Rasus memiliki ketertarikan satu sama lain. Keteguhan hati keduanya pada pilihan hidup membuat mereka tidak bisa bersatu. Srintil dari kecil terobsesi menjadi ronggeng dan ketika akhirnya dia dinobatkan menjadi ronggeng yang dipuja oleh semua orang, hati Rasus terluka. Dia menyadari tidak bisa memiliki Srintil seutuhnya semenjak Srintil menjalani malam bukak klambu.

Meski bergelimang harta dari pentas sana sini dan berlimpah hadiah dari warga yang memujanya, ada yang kurang dalam diri Srintil. Hatinya selalu merindukan kehadiran lelaki yang bisa melindunginya, lelaki yang benar-benar menyayanginya bukan sekedar menginginkan tubuhnya. Tak berdaya memperjuangkan cintanya, Rasus memilih kabur dari negeri kecilnya Dukuh Paruk berharap bisa mengobati luka hatinya dan memilih mengabdi di markas (tentara). Berbeda dengan film/drama percintaan lainnya, Sang Penari tidak mengumbar kata-kata sayang, cinta dan semacamnya. Cinta itu tumbuh dalam hati setiap insan, dia adalah anugerah maka nikmatilah.

Adegan yang mengundang tawa adalah ketika Nyai Kartareja menggali tanah di bawah jendela kamar Srintil menanam sebutir telur yang sudah diberi mantra untuk memutuskan tali kasih Srintil dan Rasus. Kekuatan magis itu dibungkam oleh siraman air kencing Srintil.

Hak mutlak perempuan atas tubuhnya sendiri
Tidak gampang untuk menjadi seorang ronggeng karena secara kultur Dukuh Paruk mempercayai ronggeng adalah titisan leluhur. Hanya mereka yang mendapatkan indang (wangsit) dari Ki Secamenggala yang akan menjalani berbagai prosesi sebelum resmi dikukuhkan menjadi seorang ronggeng oleh dukun ronggeng Kartareja. Ada konsekuensi yang harus diterima oleh Srintil ketika dinobatkan menjadi ronggeng, dia tidak boleh hamil dan melahirkan anak. Ketika naluri wanitanya memanggil, Srintil merindukan menimang anak dari Rasus lelaki yang diam-diam menempati suatu tempat khusus di hatinya. Sayang hal itu tidak akan pernah terjadi karena peranakannya telah dikoyak secara paksa oleh dukun ronggeng.

Satu hal yang menggugah adalah para wanita tidak sakit hati ataupun cemburu ketika suami mereka menghabiskan malam dengan ronggeng cantik Srintil. Kepuasan dan kebanggaan terpancar di wajah mereka ketika suaminya menyelesaikan “tugas”. Setelah melalui pergumulan batin yang hebat, Srintil bangkit melawan tatanan ronggeng yang selama ini dianggap gampangan. Srintil tetap akan menjadi ronggeng namun dia menyadari memiliki hak seutuhnya atas tubuhnya, dia yang berhak menentukan dengan siapa akan berbagi bukan ditentukan oleh dukun ronggeng karena gemerincing uang.

Kebodohan dan kepolosan dimanfaatkan untuk pergerakan politik
Keluguan, kemiskinan dan kebodohan warga Dukuh Paruk yang tidak mengenal aksara dimanfaatkan oleh Bakar untuk menyebar propaganda partainya. Bakar menggoyang emosi warga lewat pembagian caping merah, kostum baru bernuansa merah untuk grup calung/ronggeng, memutar radio benda asing buat orang dusun dan menanggap ronggeng sebagai kesenian rakyat di rapat-rapat partai untuk menarik simpati mereka. Karena kepolosannya juga, kedamaian Dukuh Paruk ikut terusik dalam penumpasan PKI di tahun 1965.

Mereka diciduk tentara, digiring ke tempat pengasingan dimana banyak jiwa-jiwa tak berdosa dibantai secara massal karena dicurigai sebagai antek-antek PKI. Satu bagian perjalanan bangsa Indonesia yang banyak dihilangkan dalam pelajaran sejarah bangsa ini. Peristiwa G30S/PKI dituturkan dengan halus namun sangat mengena: arit yang tergeletak di jalan setelah peristiwa pembersihan kampung, warga sekitar pasar Dawuan yang ketakutan melihat truk tentara melintas dan berlari menutup rapat pintu rumahnya, warga yang diinterogasi satu-satu di ruang tertutup berhadapan dengan tentara yang digambarkan lewat sepatu dan bedil, bangsal gelap yang diisi oleh ratusan orang secara berdesakan karena sempit, barisan warga menanti ajal dan bunyi pedang saat nyawa tercabut dari raga yang kemudian dilemparkan begitu saja ke dalam air.

Adegan yang mengingatkan pada film Schlinder’s List ketika orang-orang Yahudi dibawa ke kamp konsentrasi. Tak ada kata PKI yang terlontar sepanjang film. Tengah berkonsentrai ke layar, bapak di sebelah saya berkicau,”Sarwo Edhi tahu ini tapi ditutup-tutupi, itu kuburan massal…” (Sarwo Edhi yang dimaksud adalah panglima RPKAD masa itu, siapa tak kenal beliau?).

sang penariProstitusi terselubung
Bagian ini mengingatkan pada berita di Koran Tempo yang sambil lalu saya baca di warung indomie di belakang kantor dua hari lalu tentang sesuatu yang “wah” di rutan Salemba. Meski berada di tahanan, Srintil masih bisa dipaksa keluar menghirup udara “kebebasan” untuk memenuhi panggilan pelanggan dengan istilah dipinjam ke petugas jaga. Keuntungan bukan buat dirinya, tapi dipanen oleh sahabat masa kecilnya dengan iming-iming akan dipertemukan dengan Rasus.

Keteguhan hati
Pilihan sudah ditentukan, setelah dibebaskan Srintil tetap meronggeng bukan mentas di rapat-rapat partai atau perhelatan tapi mengamen di pasar. Bersama Sakum penabuh calung pengiring setianya, mereka menghibur warga di sekitar pasar Dawuan. Pertemuannya dengan Kopral Rasus di pasar itu, tidak menggoyahkan hatinya.

Sang Penari, satu dari sedikit film Indonesia yang berhasil menggoyahkan iman saya untuk melangkah ke studio XXI. Sedikit saran bagi yang ingin menjiwai film ini silahkan baca juga Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Buat yang belum menonton, sempatkanlah dan tetaplah bijaksana dalam menyaring setiap informasi lewat pandangan mata dan pendengaran kita  [olive].

Sebelumnya diposting dan menjadi Headline di Kompasiana, 18 Nopember 2011

Advertisements