Tags

,


Ketika pertama kali mengenal dan merasakan nikmatnya mengabadikan suatu kejadian di depan mata dengan benda bernama kamera, hasrat untuk mereguk kenikmatan itu selalu menggebu setiap saat. Seringkali bathin ikut bergolak ketika benda pemuas hasrat itu tidak terbawa di tas sedang jari jemari mulai gatal untuk beraksi. Akhirnya agar tidak “kecolongan” kesempatan, kemana-mana selalu disimpan di dalam tas; mau digunakan atau tidak yang penting saat diperlukan ada.

Hal seperti ini wajar dialami oleh seseorang yang sedang getol-getolnya dan bergairah dengan hobi baru, demikian juga dengan Ibu Ani Yudhoyono. Sebagai manusia tentulah beliau juga sedang bergairah dengan kegemaran beliau bermain dengan kameranya. Saya perhatikan peralatan fotonya semakin meningkat dari yang hanya menenteng kamera saku, pindah ke prosumer, belakangan terlihat menggunakan DSLR. Malahan Ibu Ani sudah berhasil mengadakan pameran tunggal untuk koleksi fotonya dan meluncurkan buku fotografi The Colours of Harmony, a Photography Journey beberapa waktu lalu di Galeri Nasional Jakarta.

Ketika hobi disalurkan dengan baik pada jalur yang benar, hasilnya juga berdampak positif. Sayangnya ada satu hal yang dilupakan oleh Ibu Ani dalam menekuni hobi memotretnya. Lho, wajar donk orang mengalami peningkatan dalam menekuni hobi, tak ada larangannya kan?

Kemarin saya mencoba mencari berita seputar pembukaan SEA Games XXVI yang berlangsung Jumat (11/11) lalu karena tidak sempat melihat liputannya. Ketika berhasil menemukan sebuah video yang diunduh di laman Youtube, betapa kagetnya saya melihat tampilan awal video tersebut adalah gambar berikut:

Ani Yudoyono

Gaya ibu Ani saat memotret di PON Palembang

Satu tanda tanya besar muncul di kepala saya,”Ibu Ani jadi wartawan foto?” Ingin mengetahui tanggapan orang lain, gambarnya saya pasang di facebook. Dalam sekejap berbagai komentar muncul diantaranya: gak elegan, gak pantas, kurang pada tempatnya, boleh aja donk namanya juga lagi suka motret dan sebagainya.

Mari kita coba kupas sedikit beberapa poin penting dari gambar Ibu Ani dan peralatan tempurnya yang ditangkap kamera pada pembukaan SEA Games di Palembang ini:

  • Tidak nyaman: peralatan berupa sebuah kamera DSLR dengan lensa panjang yang dipasang di penyanggah (tripod) di depan si ibu membatasi gerak-gerik beliau.
  • Tidak sopan/tidak menghargai lawan bicara: ketika diajak berbicara oleh istri Gubernur Sumatera Selatan (?) yang duduk di sampingnya Ibu Ani berbicara sambil meneropong dengan kameranya.
  • Tepuk tangan sambil keukeupan kamera: ini dampak dari poin pertama, mungkin takut kameranya jatuh Ibu Ani tepuk tangan sambil memeluk kameranya.
  • Pamer: apa yang ada dalam pikiran anda ketika melihat seseorang mempertontonkan sesuatu tidak pada tempatnya? Ibu Ani ke Palembang mendampingi presiden melakukan tugas malah asik foto-foto dengan kamera besarnya. Memangnya wartawan foto?
  • Tidak pantas: sebagai tuan rumah sebuah perhelatan besar yang dihadiri oleh duta-duta negara di kawasan Asia Tenggara, tidak pada tempatnya unjuk kebolehan memotret.

Ibu Ani mempunyai hobi fotografi itu bagus dan tidak salah, setiap orang berhak menekuni hobinya. Hanya saja mungkin Ibu Ani belum sempat belajar tata krama fotografi jadi belum bisa membedakan boleh atau tidak, pantas atau tidak menenteng kamera besar saat seharusnya duduk manis di panggung kehormatan [olive].

Advertisements