Tags

, , ,


Ibu Lola di acara Festival Kota Tua, Jakarta

Ibu Lola di acara Festival Kota Tua, Jakarta

Kabar meninggalnya ibu Aurora Tambunan saya terima tadi siang menjelang jam istirahat melalui messenger dari seorang kawan. Kaget karena sebelumnya tidak ada berita tentang sakitnya, sampai mendapat kofirmasi bahwa berita itu benar adanya. Ibu Lola demikian biasa beliau disapa, saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meninggal Rabu (26/10) pk 10.25 setelah dirawat di RS Gleneagles, Singapura. Bagi mereka yang akrab dengan revitalisasi kota tua Jakarta dan kegiatan sejarah di seputar Jakarta pastilah mengenal sosok beliau. Meski menduduki posisi penting beliau selalu ramah dan tidak angkuh.

Saya mulai mengenal sosoknya ketika beliau masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Jakarta. Beliau cukup aktif di milis Batmus (=Sahabat Museum) yang saya ikuti dan rajin mengirim email tanpa mencantumkan embel-embel jabatan siapa beliau kecualipenutup berupa salam dari si Lola Tea. Hal ini membuat saya terkecoh sehingga sempat berkirim email yang membuat saya malu hati ketika mendapat informasi siapa yang menggunakan id Lola Tea tersebut.

Beliau adalah orang yang berada di balik revitalisasi kota Tua Jakarta dan selalu terbuka menerima saran/masukan bahkan komplen yang diajukan oleh anggota milis untuk pengelola museum maupun pemprov DKI yang dinilai tidak berkenan di mata penikmat sejarah. Beliau tidak pelit berbagi informasi rencana maupun kegiatan seputar konservasi bangunan tua di Jakarta Kota. Kecemasan sempat melanda para pecinta museum ketika tersebar kabar beliau akan ditarik menjadi asisten DKI satu, khawatir apa yang telah dirintis oleh beliau selama ini tidak akan diteruskan oleh penggantinya. Kedekatannya dengan komunitas-komunitas yang sering berkegiatan di seputar kota tua ini jugalah yang membuat sosoknya akrab dengan masyarakat.

Suatu hari ketika hendak berkunjung ke salah satu museum di Jakarta saya didekati oleh preman meminta bayaran karena melihat saya menenteng kamera. Kejadian seperti ini terutama dialami oleh para pengunjung yang hendak mengabadikan kunjungannya ke museum tertentu yang belum banyak dikunjungi. Jika melihat gelagat orang mau memotret para preman akan langsung mendekat seakan mereka yang pegang wewenang di situ.

Di lain kesempatan saat asik memotret di museum yang lain, petugasnya meminta saya untuk tidak lama-lama memotret karena dia takut dimarahi preman yang ada di depan pasar. Wow, jadi yang berwenang di museum adalah preman? Ketika hal tersebut saya ceritakan ke beberapa kawan, mereka serta merta bilang,“lapor bu Lola!” Masalah palak memalak di museum ini pun terjawab dengan dikeluarkannya peraturan memotret dan berkegiatan di museum yang dikeluarkan pada awal tahun 2007.

aturan foto museum

Peraturan memotret di kawasan museum

Kecintaannya pada musik pulalah yang membuat pelataran museum mulai menjadi tempat pertunjukan musik dan hiburan bagi masyarakat. Salah satu contoh gebrakannya adalah Jazz at the Museum sebagai bagian dari kegiatan Java Jazz on the Move. Hiburan gratis bagi masyarakat yang menjadi ajang pemanasan bintang-bintang yang akan tampil di ajang tahunan Java Jazz Festival. Jika kita tengok kebelakang, enam tujuh tahun yang lalu kawasan kota tua Jakarta masih sepi dari pengunjung. Sekarang setiap akhir pekan warga mulai memadati daerah kota tua untuk berekreasi sehingga kawasan tersebut menjadi sangat ramai terlebih jika pada saat yang bersamaan ada pameran, festival kota tua dan lain sebagainya.

JJOTM di Museum Fatahilla, Jakarta

JJOTM di Museum Fatahilla, Jakarta

Lola Tambunan

si Lola Tea di pembukaan JJOTM

Selamat jalan ibu Lola, terima kasih telah mengangkat kota tua menjadi kawasan wisata murah meriah yang tertata dengan baik bukan hanya bagi warga Jakarta tapi juga bagi pengunjung yang datang dari luar Jakarta. Senyum, keramahan dan jasa ibu akan selalu melekat di hati kami. [olive]