Tags

,


Dampak kondisi ekonomi yang sedang carut-marut membuat warga sebuah kota kecil yang tadinya hidup tenang dilanda keresahan. Pemerintah yang digambarkan lewat sosok Walikota sedang mati-matian mempertahankan tetap berlangsungnya pembangunan kota dengan bantuan dana dari para investor. Warga yang kehilangan pekerjaan sudah sekian lama menunggu menjadi karwayan hotel baru yang pembangunannya terhambat karena kekurangan dana. Yang sudah meninggal pun “rela” tengkorak dan tulang belulangnya dipindahkan dari tempat peristirahatan ditumpuk dalam karung di sebuah tempat menunggu dikremasi di krematorium yang belum dibangun. Para investor menuntut penambahan lahan untuk lapangan golf dengan menggusur pemakaman warga yang berada di atas bukit; jika lahannya tidak dibebaskan mereka mengancam untuk membatalkan suntikan dana.

Konflik penggusuran makam tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan menjadi obyek wisata yang dijual oleh pengelola perjalanan di kota itu. Para wisatawan bersemangat mengikuti tur kubur ke atas bukit karena penasaran dengan berita-berita yang mereka dengar dan baca di koran tentang seorang gadis yang mati-matian mempertahankan makam saudaranya agar tidak dibongkar. Sayang mereka tidak bisa menemui gadis tersebut di taman pemakaman, padahal diantara wisatawan ada yang ikut tur karena ingin berfoto bersama si gadis. Klara, nama gadis itu berpikir bahwa pendiriannya untuk mempertahankan kuburan adiknya Andrew akan mendapat perlindungan dari sang paman yang saat itu menjabat sebagai Walikota. Sebagai keponakan tersayang Walikota, Klara percaya sang paman selalu mendengarkan keluhannya sementara di sisi lain Walikota seperti makan buah simalakama menghadapi ulah keponakannya. Walikota mendapat tekanan dari para investor untuk segera menggusur lahan pemakaman atau dana tidak dialirkan, sedangkan untuk menggusur lahan pemakaman beliau dihadapkan pada konflik bathin haruskah menyingkirkan keponakan sendiri?

antigoneo

Antigoneo

Beragam konflik terjadi di bukit itu, dari konflik secara fisik hingga pertentangan bathin karena beragam misi/kepentingan. Seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya kepada orang tua datang untuk menguburkan kembali tulang belulang ibunya yang dikumpulkan dari tempat penampungan. Dia mati karena dadanya ditembus peluru dari pistol dua orang pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk menghilangkan warga yang tidak menurut. Kedua pembunuh menerima pekerjaan tersebut karena tak ada lagi pekerjaan yang sesuai bagi mereka di kota yang mulai redup. Walau begitu sang bos tetap optimis setelah pensiun jadi pembunuh bayaran akan menjadi kepala sekuriti karena telah mengirimkan lamaran ke hotel yang entah kapan selesai. Peter seorang jurnalis dan kawan dari masa kecil Klara datang menyamar diantara para wisatawan dengan tujuan untuk mendapatkan berita terkini memasang kamera tersembunyi untuk merekam semua peristiwa di atas bukit. Usaha yang sangat beresiko dan Peter pun mati tertembus peluru dari dua pembunuh bayaran.

antigoneo

Salah satu adegan dalam Antigoneo

Klara keponakan Walikota setiap hari datang dan beristirahat di samping makam Andrew adik kesayangannya agar makam tersebut tidak dibongkar. Dia tidak ingin tulang adiknya dikremasi karena semasa hidupnya Andrew takut api. Dilanda ketakutan, Klara melapor ke sang paman yang mengirimkan seorang satpam yang diperlengkapi dengan senjata untuk menjaganya. Klara sering mencurahkan kegelisahannya kepada Guido gurunya semasa sekolah dulu. Pak Guido selalu mengunjungi dan menemani Klara menghabiskan hari dengan berbincang di sisi makam Andrew, meski harus dituntun dengan tongkat karena matanya sudah tak mampu melihat. Diskusi alot Walikota dan keponakan kesayangan serta pertentangan sang Walikota dengan putranya pun terjadi di kompleks pemakaman.

Di atas bukit itu pula, sang Walikota tertunduk sedih meresapi alunan Ave Maria yang diberikan oleh Klara sebagai musik pengantar kematiannya. Walau berhasil “menyingkirkan” Klara ke rumah sakit jiwa, namun nyawa Klara tak dapat ditolong. Kepalanya pecah membentur karang saat terjun bebas dari jendela rumah sakit jiwa tempat dia dititipkan untuk menjalani terapi dari bisikan-bisikan yang sering mendatanginya. Para investor angkat kaki, bangunan hotel yang tidak pernah selesai dialihkan menjadi panti rehabilitasi bagi anak cacat. Krematorium yang tidak pernah dibangun dibatalkan pembangunannya, dan semua tulang belulang yang telah digali akan dikembalikan ke pemakaman yang lahannya tidak jadi digunakan sebagai lapangan golf.

Itulah potongan Antigoneo yang dipentaskan oleh Teater Koma pada Selasa (4/10) lalu, merupakan produksi ke-124 akan berlangsung hingga Minggu (16/10) di Gedung Kesenian Jakarta. Naskahnya disadur dari Antigone Now karya Evald Flisar. Konflik bathin antara kepekaan nurani dan kekuasaan yang juga terjadi di sekitar kita. Sebuah perenungan akan masih pentingkah nurani untuk dipertahankan jika kemilau kesejahteraan ekonomi lebih menggoda? [olive]