Tags

, ,


Antrian di depan loket pembelian tiket kapal penyeberangan pulau Seribu di Marina Ancol pada pk 06.00 hari Minggu (28/8) terlihat cukup panjang. Ternyata banyak juga yang berniat liburan ke kepulauan Seribu di H-2 lebaran. Dengan harap-harap cemas saya ikut antri di barisan paling belakang bersama dua orang kawan. Ini kali kedua saya menyeberang ke pulau Seribu melalui Marina Ancol karena lebih sering naik kapal rakyat dari Muara Kamal atau Tanjung Pasir. Sedang untuk urusan tiket dan ongkos penyeberangan tahu beres karena sudah ada yang mengurus. Makanya merasa janggal saat ditelpon agar secepatnya menuju dermaga 12 karena harus beli tiket sendiri dengan menunjukkan KTP. Dua orang bapak yang antri di depan dan baru pertama kali hendak berlibur ke Pulau Seribu juga tampak kebingungan karena aturan yang diterapkan oleh pengelola penyeberangan justru menimbulkan antrian panjang.Entah sejak kapan aturan tersebut diberlakukan, karena terakhir kali sebelum penyeberangan di Marina “diistirahatkan”, tahun 2007 saya sempat menyeberang ke pulau Seribu dengan Lumba-lumba tanpa perlu beli tiket sendiri. Spanduk yang tergantung dipagar dengan pesan “Tidak melayani pembelian tiket melalui telpon, pembelian tiket harus menunjukkan KTP, satu orang satu tiket” pun sudah mulai lusuh. Masih setengah antrian untuk sampai di loket ketika dari depan dua petugas keamanan yang berdiri di kiri kanan pengantri memberitahukan tiket Kerapu HABIS! Karena sudah berencana mengasingkan diri di pulau selama libur lebaran, agar tetap berangkat kita beli tiket Lumba-lumba yang berangkat lebih siang. Harga tiket berikut asuransi sama dengan Kerapu Rp 31,000/penumpang; bedanya pada kapasitas angkut kapal. Kerapu berukuran kecil dengan kapasitas 28 kursi sedang Lumba-lumba 50 kursi. Ketika tiba giliran kami, saya menyerahkan 3 KTP dengan uang Rp 93,000 untuk tiga tiket ke pulau Pramuka yang disambut petugas dengan,”satu tiket satu orang ya!” Kedua kawan yang sebelumnya berdiri di belakang saya serta merta melangkah ke depan kaca,”orangnya di sini mbak!“

Ada tiga petugas yang melayani penjualan tiket di dalam bilik : laki-laki yang duduk di kiri bertugas membuka tutup laci berisi uang dan mempersiapkan uang kembalian jika diperlukan, laki-laki di tengah bertugas untuk merobek tiket dari buku tiket dan perempuan yang duduk tepat di depan mulut kaca loket bertugas menerima pembayaran, mengecek KTP dan mencatat nama pemilik KTP di formulir data penumpang. Setelah menerima kembali KTP berikut tiga lembar tiket, kami bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di dermaga 21.

Jadwal keberangkatan Kerapu molor, petugas baru mulai mengabsen satu persatu penumpang berdasarkan nama yang tercatat di formulir pembelian tiket pada pk 07 lewat untuk naik ke kapal. Ada untungnya juga kami mendapatkan kapal yang berbeda karena Kerapu tidak dapat mengangkut barang dengan volume besar, maka perbekalan untuk di pulau dalam 2 kontainer besar bisa masuk ke Lumba-lumba. Saya pun bertukar tempat dengan kepala suku yang bertugas mengawal perlengkapan dan berangkat lebih dulu dengan Kerapu. Di dalam kapal, petugas kembali melakukan pencocokan data di manifes penumpang dengan jumlah kepala yang duduk di dalam kapal dan sebelum berangkat doa bersama dipanjatkan sesuai keyakinan masing-masing penumpang.

Perjalanan dari Marina, Ancol ke pulau Pramuka sekitar 2,5 jam termasuk waktu transit untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di pulau Untung Jawa dan pulau Pari. Cuaca cukup bersahabat meski sesekali saat menghantam gelombang besar, Kerapu yang kami tumpangi mendadak menjadi ikan terbang yang membuat isi perut digoyang-goyang. Ketika kapal berhenti mendadak di tengah laut kami pun berpandang-pandangan, ternyata ada tumpukan sampah yang terbawa arus tersangkut di baling-baling sehingga harus dibersihkan. Meski begitu tak ada yang menyambut tawaran petugas untuk pindah ke bangku belakang karena lama kelamaan kami malah tertawa-tawa ketika merasakan hentakan kapal saat kembali menjejak di air setelah terbang sesaat setelah berciuman dengan gelombang.

Agar turunnya tidak berdesakan karena menenteng barang, saat merapat di dermaga Pramuka petugas mempersilahkan kami untuk naik dermaga terlebih dahulu sedang barang-barang mereka akan bantu keluarkan lewat jendela. Dipikir-pikir baik juga nih petugasnya, kita tinggal menunggu operan barang dari dalam kapal di atas dermaga. Tapi ternyata setelah semua barang sudah di luar kapal seorang petugas mendekat,”mbak, jangan lupa ongkos angkut barangnya.” Saat kembali ke Jakarta, dengan pertimbangan lebih gampang mendapatkan angkutan dari pelabuhan ke dalam kota serta ketersediaan kapal kami mengejar kapal motor Dolphin dari Pramuka menuju Muara Angke.

Kesimpulan dari hasil pengamatan di lapangan, pembelian tiket kapal penyeberangan melalui dermaga Marina, Ancol :
Tidak praktis karena tiket harus dibeli langsung oleh calon penumpang dengan menunjukkan KTP dan tidak bisa diwakilkan. Sehingga anak kecil maupun orang tua yang hendak naik kapal pun harus ikut antri dan menunjukkan mukanya di depan loket agar petugas percaya.

  • Tidak efisien, jika satu keluarga besar atau rombongan yang akan menyeberang ke pulau Seribu mereka tidak bisa membeli tiket secara kolektif karena setiap orang harus antri beli tiketnya sendiri. Kenapa data semua anggota rombongan tidak dikumpulkan melalui koordinatornya dilengkapi dengan fotokopi KTP/tanda pengenal diri (dan dilampiri KTP/tanda pengenal asli jika diperlukan) sehingga jumlah pengantri tidak membludak.
  • Data manifes penumpang tidak lengkap, meski menunjukkan KTP pada saat membeli tiket ternyata data penumpang hanya dicatat nama depan dan usianya saja. Hal ini menyebabkan pertukaran penumpang antar kapal bisa dilakukan dengan gampang karena pemeriksaan tiket hanya berdasarkan data pembeli tiket yang diabsen satu per satu untuk naik kapal serta memegang potongan tiket. Jadi KTP ditunjukkan hanya sebagai syarat saja bahwa yang berangkat memiliki tanda pengenal diri.
  • Harga tiket lebih mahal, dikarenakan posisi dermaga Marina berada di dalam kawasan Taman Impiian Jaya Ancol, dibanding dengan naik kapal rakyat melalui Muara Angke, Muara Kamal atau Tanjung Pasir karena calon penumpang harus membayar tiket masuk Ancol di gerbang depan.

Bagi yang hendak menyeberang ke kepulauan Seribu jika anda tidak terbiasa duduk berdesakan dan berbagi tempat dalam satu ruangan dengan orang lain, silahkan memilih untuk menyeberang dengan Kerapu atau Lumba-lumba dari Marina,Ancol. Tersedia bangku bagi setiap penumpang yang naik kapal penyeberangan dari Marina sehingga duduknya lebih lega, jika menumpang kapal rakyat dari Muara Angke penumpang harus rela duduk selonjoran di dalam badan kapal yang pengap karena kekurangan angin. Dari pengalaman naik Dolphin, kami hanya kebagian tempat untuk menempelkan pantat. Tapi saat kapal mulai bergerak, perlahan posisi pantat juga digeser sana sini mengikuti goyangan kapal hingga kami pun bisa tidur dengan lega. Sementara kalau dari Muara Kamal atau Tanjung Pasir naik kapalnya lebih seru lagi karena menggunakan ojek kapal yang goyangannya lebih terasa. [olive]

sebelumnya dipostkan di Kompasiana

Advertisements