Tags

, , ,


Ketika berkesempatan mengunjungi satu kota, ada beberapa hal yang harus saya cari tahu sebelum bertandang yaitu : sejarah kotanya, tempat wisata yang jarang dikunjungi orang serta kuliner khasnya. Kawan saya geleng-geleng kepala memelototi catatan kecil yang ada di tangannya,”kamu ke sini cuma buat mencari kuburan dan jalan ke museum?” Dia membuka pintu apartemennya lebar-lebar buat saya menginap selama berlibur di Singapur beberapa waktu lalu, syok mendengar penjelasan saya. Banyak tempat yang sama sekali belum pernah dia dengar apalagi dikunjungi.

Baju yang basah oleh keringat menempel di badan setelah berjalan kaki dari St Andrew, tak menyusutkan semangat untuk menapaki anak tangga menuju Fort Canning Park. Tujuan pertama mencari petunjuk arah ke Battle Box, bunker yang dulu menjadi markas pusat komando bawah tanah Inggris semasa perang dunia kedua. Setelah membayar biaya masuk, saya bergabung dengan rombongan turis bule untuk menyusuri bunker dipandu oleh seorang pemandu lokal bernama William.

Terkagum-kagum dengan penggambaran ketegangan detik-detik menjelang Inggris menyerahkan Singapur ke tangan Jepang. Suasana itu bisa dilihat dan dirasakan dengan bantuan sound efek audio visual khusus serta animatronik berkualitas tinggi yang jempol punya. Tour berakhir di ruang pertemuan tempat LetJend Arthur Ernest Percivales dan pasukannya berunding sebelum mengambil keputusan penting menyerah ke Yamashita pada 15 Pebruari 1942. Bule-bule setengah baya yang dari awal memandangi saya dengan penuh tanya akhirnya bertanya kenapa saya tertarik mengunjungi tempat ini?

Keluar dari Battle Box, saya menikmati keasikan lain tenggelam membaca nama-nama yang tertera di nisan yang dipasang di tembok taman Fort Canning tanpa peduli panas mentari yang tepat di ubun-ubun. Di tempat ini dulu terdapat kompleks makam Kristen yang dibangun 1846, masih lebih muda dari Taman Prasasti yang sudah ada dari 1795. Kelebihan Fort Canning adalah tamannya tertata rapi, luas dan hijau sementara Taman Prasasti areanya yang tadi 5,5 hektar menyusut menjadi 1.3 hektar saja. Sebagian besar tanahnya telah dipakai sebagai lahan berdirinya kantor Walikota Jakarta Pusat. Selain beberapa prasasti yang diambil dari makam di halaman gereja Sion maupun Museum Wayang, di sini masih terdapat makam yang utuh. Awal pencarian ke Taman Prasasti adalah untuk menemukan makam istri Raffles, Olivia Marianne Raffles beberapa tahun lalu.

Tak pernah bosan untuk selalu kembali ke sini, saat mengikuti kegiatan salah satu milis pecinta sejarah bersama dua orang kawan kami memisahkan diri dari rombongan untuk mencari guardian angel Sho Hok Gie. Berbekal obor pinjaman dari panitia, kami menghampiri salah satu pohon di tengah taman untuk memastikan patung itu masih ada di sana. Takut? Biasa aja ya, mungkin karena tamannya sedang ramai walaupun hari sudah menjelang tengah malam dan kami terpisah jauh dari rombongan.

Pengen lihat peti mati mantan presiden Soekarno dan wakilnya Moh Hatta? Datanglah ke sini, lebih seru kalau lihatnya malam-malam.Suasana berbeda saya temui saat melangkah di Taman Makam Kehormatan (TMK) di utara Jakarta. Matahari semakin condong ke barat saat langkah terhenti di depan sebatang pohon mindi yang telah mengering. Oleh pak Ali, saya dibebaskan untuk berkeliling sendiri di antara 2000-an patok-patok kayu berwarna putih penanda dibawahnya terbaring jasad seseorang yang dulu berjuang untuk bangsanya. Mata saya terpaku pada tulisan yang terpatri di batang pohon itu :

they shall not grow old
as we are that left grow old
age shall not weary them
not the years condemn
at the going down of the sun
and in the morning
we shall remember them.
we shall remember them …

Antjol, 1942-1945

Bulu kuduk merinding membayangkan berapa banyak jiwa melayang di bawah pohon yang menjadi saksi bisu pembantaian terhadap tentara Belanda oleh Jepang saat berkuasa di Indonesia. Pandangan mengabur ke patok-patok nisan yang diberi nama sesuai tempat dimana mereka dieksekusi Ancol, Sanggau Ledo, Banjarmasin, Mandor dan Makassar. Mereka yang terbaring di dalam tanah itu tak diketahui identitasnya, dimakamkan secara terhormat di TMK sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Tak lama berselang, serombongan burung pipit mendaratkan kakinya di antara patok-patok tak beridentitas itu. Suara mereka memecah kesunyian membawa penghiburan dengan canda riangnya tanpa peduli mereka yang telah beristirahat itu tak pernah mendengarnya.

Beberapa waktu berselang, ketika berkunjung ke Surabaya saya tawar-tawaran dengan beberapa sopir taksi yang mau mengantarkan ke daerah Kembang Kuning. Untung ada satu orang yang bersedia mengawal ke daerah yang katanya sarang preman dan tidak aman bagi perempuan berkunjung ke sana. Berbekal memori singkat saat menghantarkan almarhumah tante ke tempat peristirahatan terakhirnya, saya memberikan ancer-ancer kepada pak Agus jalan menuju ke TMK. Lokasinya tidak jauh dari tempat tante saya dikubur, dari situlah pertama kali saya penasaran dengan kompleks TMK tersebut. “Mbaaaaaaak, koq tahuan sih tempat ini? Saya lima puluh tahun lahir dan besar di Surabaya baru kali ini tahu ada tempat begini.” Wajah takjub jelas tergurat di muka pak Agus sopir taksi yang menemani langkah saya ke TMK. Setidaknya di kunjungan singkat itu, saya bangga bisa berbagi sedikit pengetahuan kepada seorang warga Surabaya yang terpesona dengan kampung halamannya sendiri di sebuah kompleks pemakaman Belanda.

Setahun lalu, di Kerkhof Depok saya menemukan makam Cor de Graaf. Bersama istrinya Adriana Josina de Graaf-Kooman, mereka merintis berdirinya Rumah Sakit Emma di lahan rumahnya di kawasan Cikini dengan bantuan dana dari Ratu Emma. Rumah sakit tersebut masih berdiri dan beroperasi hingga hari ini dan sekarang dikenal dengan Rumah Sakit PGI Cikini atau RS Cikini.

Terkadang ide untuk mengunjungi tempat tempat “keramat” ini datang begitu saja, seperti saat berkunjung ke TPU Petamburan. Penasaran dengan mausoleum yang ada di tengah-tengah kompleks pemakaman di barat Jakarta tersebut, saya mengayun langkah ke sana dan bercengkerama dengan anak-anak kampung yang asik bermain di areal makam. Siapa sangka di Jakarta ada mausoleum megah seperti Mousoleum OG Khouw? Bonus makam tua saya dapatkan ketika berlibur ke desa Sawarna, Banten tiga tahun lalu. Sekembali menyusuri gua Langir, bedua dengan kawan kami diajak oleh pemandu lokal ke sebuah makam tua yang berada di tengah-tengah kebun warga. Pemilik makam tua itu bernama Tuan John Luis van Gogh, tak ada informasi yang jelas siapa beliau dan apa ada hubungannya dengan van Gogh pelukis yang terkenal itu. Mungkin juga beliau salah seorang petinggi di pabrik batu bara yang konon pernah ada di sekitar desa itu. Sayang, beberapa bagian makam dibongkar oleh warga yang percaya bahwa si jasad di makamkan bersama harta bendanya.

Lewat kesenyapan, saya mendapat pencerahan dan selalu tertarik untuk mencari tahu kisah dan benang merah suatu peristiwa sejarah seputar nama yang terpatri di nisan-nisan tua. Ingin menambah ilmu? datanglah ke kuburan tua. Jika anda tertarik mengunjungi tempat-tempat “keramat” tapi bingung mau memulai darimana atau tidak berani untuk berjalan sendiri, anda bisa bergabung dengan komunitas pecinta sejarah seperti Sahabat Museum atau Jelajah Budaya. Komunitas yang dikomandani anak-anak muda ini, punya beragam kegiatan untuk menyusuri kawasan kota tua dan tempat-tempat bersejarah baik di sekitar Jakarta maupun di luar pulau. [olive]

sebelumnya dipostkan di Kompasiana

Advertisements