Tags

, , ,


Penasaran dengan Kopaja AC yang pengoperasian perdananya dimulai Senin (8/8) lalu, semalam sehabis jam kantor saya menunggu kedatangan bis dengan nomor S-13 jurusan Ragunan-Grogol di halte BCA Pondok Indah. Dari informasi melalui media elektronik maupun Kompas Selasa (9/8) serta melihat sendiri bis tersebut melintas di lampu merah Pondok Indah-TB Simatupang; saya bersemangat ingin mencoba naik bis tersebut pulang ke rumah. Sayangnya setelah 45 menit menunggu tak satu pun bis dari arah Ragunan yang lewat di depan saya, sementara di arah sebaliknya sudah 4 bis yang melintas. Malam semakin larut dan rasa lapar mulai menyerang, saya pun melambai ke Kowan Bisata 102 menuju Senayan.

Pagi ini dengan semangat menggebu pk 07.00 saya sudah bersiap menanti kedatangan S-13 di halte bis Senayan JCC (depan Park Royal). Hanya perlu 15 menit menunggu saat dari jauh terlihat badan kopaja AC mendekat. Terbawa kebiasaan naik bis dari pintu belakang, saya berlari hendak naik namun oleh kondektur yang mengeluarkan mukanya lewat celah pintu menyuruh saya naik melalui pintu depan. Bis masih terlihat kosong hanya beberapa bangku yang terisi. Saya mengambil posisi duduk di bangku paling depan agar sudut pandang lebih leluasa.

Di halte berikutnya, serombongan pekerja wanita yang berkantor di daerah Sudirman ragu untuk naik. Mereka berulangkali memastikan bis yang mereka akan naiki melewati gedung kantornya sebelum akhirnya naik. Di dalam bis mereka kasak-kasuk memastikan ongkos yang akan mereka keluarkan. Tanpa target kejar setoran, pak Udin mengendarai bis dengan santai, tidak ugal-ugalan seperti sopir bis kota pada umumnya yang suka menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya.“Cilandak! Cilandak! Lewat Sudirman, Ratu Plaza, Pondok Indah! Naiknya di depan ya bu!” teriak kondektur di pintu belakang.

Kelompok wanita tadi berturut-turut turun di halte Komdak dan Gelora, lalu di halte Ratu Plaza naik seorang wanita pelanggan bis patas AC jurusan Lebak Bulus. Tak ada lagi yang naik dan bis hanya diisi empat orang penumpang serta sopir dan kondektur. Dari CSW bis berbelok ke Bulungan menyusuri Mayestik, Kebayoran Baru lalu berbelok ke Gandaria. Kembali kondektur berteriak ke beberapa orang yang bediri di sepanjang jalan yang dilalui,”Cilandak KKO, Pondok Indah, Lebak Bulus!” ditimpali sahutan pak Udin dari balik kemudi, “dua ribu saja, ayooo pak! bu! dua ribu!“

Mungkin karena melihat wujud bis ber-AC, mereka terlihat ragu untuk naik dan hanya berbisik-bisik diantara mereka. Padahal saya hapal beberapa wajah itu adalah penumpang yang biasanya naik Kopaja 86 jurusan Lebak Bulus. Di sepanjang arteri Pondok Indah, tanpa dikomando penumpang di belakang saya ikut memberi isyarat dengan mengacungkan dua jari disertai gerakan mulut kepada orang-orang yang berdiri menunggu bis di sepanjang jalan maupun halte yang dilalui. Penumpang hanya bertambah satu seorang bapak yang naik dari depan Metro Pondok Indah. Dua orang bapak yang juga menunggu bis di situ tidak berani naik walau pak Udin telah mengencangkan suaranya memberitahu ongkos hanya dua ribu. Menjelang persimpangan TB Simatupang, saya bergeser ke bangku belakang dan meminta kepada kondektur untuk diturunkan sebelum bis belok karena di situ tidak ada halte. Senang dan puas bisa menikmati perjalanan dengan kopaja AC dengan waktu tempuh hingga Lebak Bulus hanya 30 menit saja.

Kesimpulan dari hasil uji coba naik Kopaja AC pagi ini adalah:

  • Bis yang dikelola oleh PT Koperasi Angkutan Jakarta ini sungguh nyaman karena kondisinya masih baru, bersih dan berpendingin
  • Ongkos murah : selama masih promosi hanya Rp 2,000/penumpang untuk mendapatkan kenyamanan naik bis kota (nantinya akan dipatok Rp 3,500/penumpang)
  • Tertib : penumpang naik dari pintu depan dan turun melalui pintu belakang sehingga tidak berdesak-desakan antara penumpang yang naik dan yang turun. Penumpang naik dan turun bis harus di halte
  • Sopir dan kondekturnya tertib berlalu lintas dan bersahabat : membawa kendaraan dengan hati-hati sehingga penumpang juga merasa aman karena tidak ngebut dan ugal-ugalan di jalan
  • Banyak warga yang belum tahu adanya bis ber-AC yang murah dan nyaman hadir di Jakarta, terbukti dari ekspresi penuh tanya serta bingung beberapa calon penumpang di beberapa halte yang dilintasi oleh bis
  • Lebih nyaman dari TransJakarta karena penumpang terbatas (25 duduk dan maks 9 orang berdiri) sehingga penumpang tidak berdesak-desakan atau bergelantungan di pintu bis. Jika bis penuh, di kaca depan akan digantung tulisan MAAF PENUH.

Sebagai pengguna kendaraan umum, harapan saya kopaja AC ini pelayanannya tetap terpelihara dengan baik, fasilitasnya tetap nyaman, tidak cepat rusak karena kekurangan biaya operasional sehingga penumpang juga ikut senang. [olive]

sebelumnya dipostkan di Kompasiana dan terbit di edisi cetak Kompas (18Agt2011)

Advertisements