Tags

, , ,


Orang harus mau melarat dulu jangan lantas mau jadi kaya saja – Ong Hok Liong

Matahari tepat di atas kepala saat langkah kami sampai di depan pagar bangunan bercat putih yang terhalang oleh deretan kendaraan yang parkir di sepanjang Jl Pecinan Kecil di kawasan Pecinan Malang. Ibu penjual dawet yang sehari-hari mangkal di depan Museum Sejarah Bentoel menyarankan untuk mendorong pintu pagar yang tidak terkunci dan menemui satpam yang ada di halaman dalam. Karena tak banyak yang tahu serta minimnya informasi untuk menjangkau tempat ini membuat kami perlu bertanya berkali-kali sebelum sampai di tujuan. Sambutan ramah pak Satpam (maaf, lupa menanyakan namanya) yang menenteramkan pun menyejukkan hati menerima kedatangan kami dengan senyum simpatik. Saya juga terkesan dengan keramahan mas Robi petugas bersih-bersih (tertulis di kartu pengenal yang tergantung di lehernya) yang membukakan pintu rumah lebar-lebar dan memberikan penjelasan sepanjang pengetahuannya tentang sejarah rumah, pemilik serta usahanya.
Perbedaan mencolok dengan bangunan lainnya di sepanjang Jl Pecinan Kecil (sekarang Wiromargo) adalah di lahan seluas 400 meter persegi ini terdapat dua bangunan serta memiliki halaman yang luas, sedang emper bangunan tetangganya berbatasan langsung dengan bibir jalan. Bangunan yang ada sekarang adalah replika dari rumah lama yang pernah berdiri di tempat tersebut. Di teras rumah terdapat kursi tamu yang diletakkan di kiri dan kanan pintu masuk, nama sang pemilik rumah Ong Hok Liong terpampang di sisi kanan pintu tepat di bawah gambar ketela yang menjadi lambang PT Bentoel Prima. Ong Hok Liong memulai usahanya pada tahun 1925 di Jl Pecinan Kecil No 25 (sekarang Jl Wiromargo) dengan 12(dua belas) orang pekerja hingga berkembang menjadi ribuan buruh.

Patung perunggu Ong Hok Liong kita temui saat melangkah ke dalam rumah, di ruangan bagian depan ini juga terdapat beragam foto dan silsilah keluarga, filosofi serta alkisah pemilihan nama Bentoel. Ong Hok Liong lahir di Karang Pacar-Bojonegoro, Jawa Timur 12 Agustus 1893 dan meninggal karena sakit lever kronis pada 26 April 1967. Cikal bakal PT. Bentoel berawal dari bisnis rumahan Hok Liong pada 1930 bersama tetangganya Tjoa Sioe Bian lewat Strootjes-fabriek Ong Hok Liong, kemudian berubah nama menjadi Hien Ang Kongsie. Konon, nama bentoel diambil dari hasil tirakat Hok Liong saat mengunjungi makam Mbah Djunggo di Gunung Kawi. Hok Liong bermimpi bertemu dengan seorang penjual bentoel atau talas, sekembali dari tirakat Hok Liong mengubah semua kemasan rokok Djeruk Manis-nya dengan Bentoel.

Pada 1956 Hok Liong membeli pabrik rokok Orong-orong milik Liem Ting Tjoan di Blitar yang membuatnya sering bolak-balik juga ke Blitar untuk mengurusi bisnis rokoknya. Bentuk dan tata letak ruang kerja serta ruang tidur Hok Liong di rumah Blitar ditampilkan di dua ruangan yang ada di sisi kanan rumah. Perabotan yang ada merupakan perabotan asli yang dulu digunakan oleh Hok Liong. Seperti sebuah kulkas General Electric buatan Amerika yang dipajang di sisi tempat tidur kayu dalam kamar Blitar. Dua kamar di sisi kiri masing-masing menampilkan kisah saus racikan Hok Liong yang memiliki cita rasa tersendiri sebagai pembeda rokok Bentoel dengan rokok lainnya serta perkembangan usaha Bentoel hingga pembuatan rokok kretek putih. Di lemari kaca di ruang belakang juga dipajang berbagai koleksi rokok yang diproduksi Bentoel dari jaman dahulu. Herannya, ada lho orang yang menikah souvenirnya rokok.

Akhir 1970, rumah bersejarah milik Hok Liong di Pecinan Kecil dibongkar oleh direksi PT Bentoel untuk diganti dengan bangunan kantor yang bertingkat. Namun pada akhirnya rencana tersebut tidak berjalan dan pihak Bentoel pun membangun kembali bangunan replika sesuai dengan rumah lama yang pernah ada dan dijadikan museum sesuai amanat Hok Liong seperti yang bisa kita temui sekarang. Tahun 2009 PT Bentoel diakuisisi oleh perusahaan rokok terbesar kedua di dunia British American Tobacco (BAT) International dan pada awal 2010 Bentoel Group bergabung dengan PT BAT Indonesia.[oli3ve]

sebelumnya dipostkan di Kompasiana
foto lainnya bisa dilihat di SINI