Tags

,


Pertama kali mengenal Mas Adji (panggilan akrab AGS Arya Dipayana) tahun 1997 lewat gubahan lagu yang terangkum dalam kaset Hujan Bulan Juni-Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Damono (SDD).  Melihat penampilannya untuk pertama kali di acaranya AriReda Malam Puisi Cinta di TIM awal 2008.  Setelah itu sempat bertemu dan melempar senyum dalam beberapa kesempatan. Salah satu gubahannya yang cukup ngetop adalah musikalisasi Aku Ingin, puisi karya SDD yang sering dikutip orang dalam undangan pernikahan. Di  beberapa undangan malah kutipan kata-katanya salah ditambah pencantuman buah karya Khalil Gibran. Saya tidak mengenal dekat Mas Adji secara pribadi namun karya-karyanya begitu melekat di hati sehingga kepergiannya awal Maret lalu cukup mengagetkan.

Minggu (15/5) pk 19 lewat, langkah terayun memasuki gelanggang remaja Bulungan seiring lamat-lamat terdengar Bianglala Voices mengumandangkan Dengan Menyebut Nama Allah secara acapela di acara yang bertajuk Jejak Sang Pejalan Kaki. Tribute untuk mengenang AGS Arya Dipayana  yang telah mendahului menghadap sang Khalik pada 1 Maret 2011 lalu dari para sahabat dengan membawakan beberapa karyanya baik itu puisi, musik hingga penggalan lakon. SDD mengenangnya sebagai mahasiswa dan sahabat yang selalu dikelilingi para wanita dan tak pernah lepas dari sandal jepit lusuhnya. Di mata Putu Wijaya, mas Adjie adalah anak didiknya yang sangat berbakat. Secara bergantian lampu sorot diarahkan ke panggung utama yang berada di depan dan tiga panggung kecil di sisi kiri dan kanan saat para pengisi acara tampil. Ninik L.Karim hadir membacakan puisi Bagaimana Mungkin Kau Berkata yang kemudian dibawakan dalam bentuk lagu oleh pasangan AriReda di panggung utama.

Satu persatu panggung diisi oleh Tony Q Rastafara dengan Sehingga Kabut, Putu Wijaya & putranya dengan Tiga Sajak Tentang Para Pencari, Ine Febrianti, Maudy Koesnadi, Teater Tetas, Didi Hasyim, Joko Porong, Nanang Hape, Neno Warisman dan lain-lain. Di malam yang juga ditandai dengan peluncuran buku puisi Mas Adji yang baru Bumbu Dapur, acara mengalir dengan sendirinya diselingi pemutaran video yang ditembakkan ke layar lebar di panggung utama berupa kesan-kesan orang di sekeliling pendiri dan sutradara Teater Tetas itu.

Kuucapkan selamat tinggal bagi segala beban–
teman seperjalanan – yang terlalu setia, hingga sepantasnya aku tinggalkan.
Aku berjalan sendiri, kembali sendiri.
Kubiarkan reruntuhan menghapus jejakku sepanjang jalan.

[Berjalan Kembali, 3 – Sehingga Kabut, AGS Arya Dipayana]

Karena badan kurang bersahabat, kaki pun beranjak lebih awal  seiring Tutuplah Pintu Rumahmu mengalun dengan lirih dibawakan duet AriReda yang terdengar sayup-sayup hingga tubuh terbawa taksi meninggalkan Bulungan. Selamat beristirahat Mas Adji [olive].