Tags

, , , , , , ,


Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa sejarah bangsanya sendiri – [Bung Karno]

Week end lalu berkesempatan mengunjungi Rengasdengklok dan Kalidjati untuk kedua kalinya setelah kunjungan tahun 2005 lalu. Di Rengasdengklok tujuannya sudah pasti ke  rumah babah Djiaw Kie Siong yang dulu menjadi tempat beristirahat Bung Karno dan Bung Hatta saat diamankan oleh para pemuda. Masa itu kelompok pemuda yang diwakili oleh Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh mendesak agar pelaksanaan proklamasi kemerderaan Indonesia dipercepat.  Rumah babah Djiaw masih berdiri kokoh di Jl Sejarah walau posisinya sudah dipindahkan oleh keturunannya menghindari luapan sungai Citarum.  Nama  Djiaw Kie Siong tidak pernah disebutkan di dalam sejarah meski rumahnya menjadi saksi alotnya perembukan generesi tua dan generasi muda menuju kemerdekaan Indonesia.

 

Dari Rengasdengklok perjalanan dilanjutkan ke daerah Subang tepatnya menuju Landasan Udara (Lanud) Suryadarma. Di tempat yang dulunya bernama Pangkalan Udara Kalijati ini kami menuju Museum Pesawat Amerta Dirgantara. Tempat yang sekarang menjadi markas Pusat Pendidikan Terbang Layang (Pusdik Terla) Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI). Sayangnya saat tiba di lokasi petugas yang seharusnya membukakan pintu ada keperluan lain sehingga kami tidak sempat masuk untuk melihat bagian dalam hanggar. Walau agak kecewa beberapa orang berusaha untuk mengintip melalui celah-celah dinding hanggar, beruntunglah tahun 2005 lalu sudah pernah masuk bahkan diijinkan berfoto di atas setiap pesawat yang parkir di dalam hanggar. Karena tidak bisa masuk hanggar perjalanan dilanjutkan ke bekas rumah dinas Perwira Sekolah Penerbang Hindia Belanda yang sekarang bernama Rumah Sejarah.

 

Pada 1 Agustus 1921 pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah penerbangan pertama di Kalijati. Itulah sebabnya ketika pasukan Jepang mendarat di Eretan-Indramayu akhir Februari 1942, pangkalan udara ini menjadi sasaran penyerangan mereka. Dengan mengendarai panser dan sebagian mengayuh sepeda sekitar 3 ribu orang pasukan Jepang bergerak menuju ke Kalijati dibawah komando Kolonel Shoji. Pada 9 Maret 1942 Gubernur Jenderal Belanda Mr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh dan Panglima Ter Poorten menemui Panglima Immamura untuk berunding di rumah dinas perwira Staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda Kalijati yang saat itu sudah dikuasai oleh Jepang. Immamura meminta Ter Poorten menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh kekuasaan tentara Hindia Belanda, jika tidak Jepang akan menghujani Bandung dengan bom dari udara dengan pesawat tempur dari pangkalan udara Kalijati. Ter Poorten diberi waktu 10 menit untuk berpikir dan mengambil keputusan.

Imamura : Apakah tuan bersedia menyerah tanpa syarat?
Ter Poorten : Saya menerima untuk seluruh wilayah Hindia Belanda.

Sesudah penandatanganan penyerahan kekuasaan, malam harinya penyiar radio Nederlandsch Indische Radio Omprep Maatschappij menutup siaranya dengan kalimat “Kami tutup siaran ini sekarang. Selamat berpisah, sampai jumpa kembali di waktu yang lebih baik. Hidup Sri Ratu

Mendengarkan cerita peristiwa bersejarah di tempat kejadian terasa lebih excited dibandingkan dengan mendengar bapak or ibu guru sejarah berceloteh di dalam kelas sembari terkantuk-kantuk. Hal ini nampak dari raut wajah beberapa bocah yang kemarin ikut jalan-jalan ditemani orang tua, Mama bahkan Omanya. Salah seorang ibu mengatakan pelajaran sejarah di sekolah saat ini tidak cukup hanya di bagikan di dalam kelas saja, anak-anak perlu dibawa mengunjungi tempat-tempat bersejarah untuk bekal pengetahuan mereka. Mereka perlu diperkenalkan dengan tempat-tempat bersejarah, mendengarkan penurutan peristiwa bersejarah dari mereka yang lebih mendalami sehingga anak-anak mengenal sejarah bangsanya.  Hal inilah yang mendorong para ibu dan orang tua tersebut untuk menjadwalkan kegiatan liburan anak-anaknya dengan mengunjungi museum selain tempat hiburan yang umum dikunjungi publik. Sayangnya tidak semua orang tua berpendapat senada dan lebih memilih membawa rombongannya untuk berjalan-jalan ke mall, lagipula berkunjung ke museum belum menjadi kegiatan yang diminati di Indonesia. Lalu bagaimana mengenal budaya dan sejarah negeri sendiri jika warganya masih enggan untuk bertandang ke museum ?

Mari tingkatkan kunjungan ke museum dan menggalakkan gerakan cinta museum [olive]

*sebelumnya ditulis di Kompasiana untuk kompetisi blog paling Indonesia Telkomsel*

Advertisements