Tags

, , ,


Putri Ong TingJumat siang (22/4) di Gramed GI, saat kaki hendak melangkah ke kasir untuk membayar belanjaan tiba-tiba mata tertarik pada sebuah buku yang tergeletak di rak bagian bawah tempat saya berdiri. Buku bersampul merah dengan gambar seorang putri di depannya “Putri Ong Tien, Kisah Perjalanan Putri China Menjadi Istri Ulama Besar Tahan Jawa” menahan saya untuk mencari-cari di bagian bawah rak adakah yang sudah dibuka? Karena tidak ketemu, iseng saya meraih sebuah buku yang kebetulan plastiknya sudah sobek sedikit, sepertinya ada yang sudah mencoba untuk merobeknya. Di saat semua mata di lorong itu terpaku pada tumpukan buku yang berantakan tersenggol seseorang di ujung gang, tangan saya secepat kilat menelanjangi buku merah itu. Pelan tapi pasti mulai deh buka lembar demi lembar at the right place for smart people yang adem (ssttt, ini ‘ngikutin saran dari seorang teman boleh ditiru tapi jangan sering-sering hehehe)

Dari hasil bacaan gratis kemarin, mendapat pencerahan kalau Putri Ong Tien Nio adalah putri Kaisar Hong Gie dari Tiongkok yang jatuh cinta kepada Sultan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah yang kala itu datang ke Tiongkok untuk menyebarkan ajaran Islam diundang oleh Kaisar untuk menguji kesaktiannya dengan diberi tebakan siapa diantara kedua putrinya yang hamil apakah Putri Ong Tien ataukah kakaknya. Syarif Hidayatullah ditertawakan para pembesar Kaisar karena menebak Putri Ong Tien hamil padahal di perutnya hanya diberi lapisan tempayan beras dari kuningan. Sang ulama tidak menampakkan kemarahan namun secara tiba-tiba Putri Ong Tien berteriak karena mendapati dirinya benar-benar hamil dan tempayannya telah hilang.

Putri Ong Tien yang mabuk kepayang dalam keadaan hamil direlakan oleh Kaisar Hong Gie untuk menyusul pujaan hatinya Syarif Hidayatullah ke Cirebon menempuh perjalanan laut yang panjang melintasi Laut Cina Selatan dan Laut Jawa agar dijadikan istri sang ulama. Pada akhirnya Syarif Hidayatullah berhasil mengeluarkan bokor kuningan dari perut sang Putri saat kehamilan memasuki bulan kesembilan. Konon legenda bokor kuning inilah penanda lahirnya Kuningan. Putri Ong Tien menjadi istri ketiga dari Syarif Hidayatullah dan diberi gelar Nyi Ratu Rara Sumanding, untuk membedakan dengan dua istri pertama Nyi Ratu Pakungwati dan Nyi Ratu Kawungten.

Sayang sampai akhir hayatnya yang sangat singkat, Putri Ong Tien tidak mempunyai anak. Namun dia mendapat tempat istimewa di hati Syarif Hidayatullah dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sunan Gunung Jati serta menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil melebur kedalam lingkungan Kesultanan Cirebon.

Buku yang enak untuk dibaca sebagai pencerahan, sehingga saya pun dapat memahami darimana asal keramik-keramik Cina yang banyak bertebaran di lingkungan Keraton Cirebon yang selalu menarik perhatian dalam 2x kunjungan ke sana.