Tags

, , , , , , , ,


Mungkin kita pernah mendengar namanya tapi tak tahu siapa sebenarnya sosok yang namanya melekat di salah satu badan kapal perang RI : KRI Malahayati. Tepat di hari Kartini (21/04) ketika pembicaraan orang banyak terfokus ke sosok Kartini secara gak sengaja mendengar namanya disebut oleh Farhan lewat “Farhan in the Morning” di Delta FM.

Malahayati atau Keumalahayati nama yang sering didengar tapi gak tahu secara pasti siapa gerangan si empunya nama, kalau namanya sampai digunakan oleh AL di kapal perang gak mungkinlah tanpa alasan yang jelas.

keumala, malahayati

Saking penasaran dan karena sudah lama mencari tahu akhirnya iseng saya tanya ke Om Gugel dengan mengetikkan kata Malahayati. Dalam sekejap Om Gugel menyodorkan berbagai informasi seputar Malahayati, eng..ing..eng … saya menemukan informasi yang dicari lewat satu tautan ke laman sebuah buku tentang Perempuan Keumala buah karya Endang Moerdopo. Semakin penasaran jadi pengen beli bukunya lalu masuk ke berbagai laman pembelian buku online dan hasilnya semua out of stock ! Gak kehabisan akal, saat menunggu jam tayang film “?” (Tanda Tanya) saya mampir ke Gramedia dan mencari buku lewat komputer yang tersedia.

Yup, masih ada 1 (satu) buku tapi saat minta bantuan petugas untuk mencarikan buku tersebut jawaban yang diterima adalah “Maaf bu, biasanya kalau tinggal satu artinya bukunya sudah tidak ada dan bisa saja stok di situ gak update”
“Whaaaaaat ? Yakin loe mas, cari dulu deh kan di situ ada kode rak-nya!”
Tak sampai 10 menit si mas balik membawa temannya, “Maaf bu, bukunya gak ketemu apa ibu mau dicarikan di toko lain yang masih ada stoknya?”
“Sini mas, ini kan rak yang tertulis di komputer tadi harusnya tuh buku nyelip di sekitar sini” secara kebetulan saya berdiri di depan rak yang nomornya terpampang di depan monitor.
“Waduh bu, nomor ini sudah tidak update. Di sini buku-buku otobiografi sementara yang ibu cari tidak di kelompok ini”
“Bu, tadi teman saya dapat info masih ada 5 buku di Gramedia MOI dan 8 buku di Grand Indonesia. Silahkan di cari ke sana” si mas pun berlalu dan dengan sedikit kecewa saya melangkah keluar toko buku besar itu menuju 21 karena sebentar lagi film diputar.

Jumat (22/4) sehabis ibadah melanjutkan pencarian ke Grand Indonesia dan sempat dianggurkan selama 30 menit oleh mbak di customer service. Kata mbak-nya mesti dicari dulu takutnya info di komputer gak update malah gak percaya kalau saya ke situ juga atas info dari mas di PIM. Untung si mbak kembali ke meja membawa Perempuan Keumala yang membuat wajah berseri-seri kembali.

Saking penasarannya buku setebal 349 halaman dilahap paksa dalam 3 jam saja ditemani segelas susu jahe panas. Buku yang patut dibaca oleh kaum perempuan Indonesia (dan orang Indonesia) untuk mengetahui sisi lain dari perempuan Indonesia yang kurang diekspos bahkan manuskrip (catatan sejarahnya) justru tersimpan di Malaysia. Laksamana Keumalahayati, perempuan pertama di dunia yang memegang pucuk pimpinan tertinggi sebagai Panglima Angkatan Laut Armada Selat Malaka kerajaan Darud Donya Darussalam dan pernah berjuang melawan Portugis hingga ke Johor. Putri dari Laksamana Mahmud Syah kakeknya Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah pendiri kerajaan Aceh Darussalam.

Menempuh pendidikan di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati mengambil jurusan Bahari (Angkatan Laut) sesuai dengan jiwa bahari yang mengalir dalam darahnya diturunkan dari ayah dan kakeknya. Sebelum menjadi Pangima Angkatan Laut, ia menjabat sebagai Komandan Protokol Istana di Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika suaminya Laksamana Mahmuddin bin Said Al Latief gugur dalam pertempuran di Teluk Haru, Keumalayahati diangkat oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil untuk menggantikan posisinya sebagai Panglima Armada Selat Malaka.

Atas persetujuan Sultan Al Mukammil, Keumalahayati memimpin perjuangan dan pergerakan dibantu pasukan Inong Balee (pasukan janda) yaitu armada Aceh yang kesemua anggotanya perempuan para janda yang suaminya meninggal saat perang Teluk Haru. Armada Inong Balee berkekuatan 1000 orang membangun kekuatan militernya di Bukit Krueng Rayeuk sebagai benteng pertahanan.

“Aaaahhh …lengking suara seorang Cornelis de Houtman terdengar sangat keras dari atas haluan kapal. Nyawa terlepas dari tubuhnya yang fana. Keumala menghela napas, kemudian memejamkan mata. Keris masih tergenggam di tangannya. Entah berapa nyawa lagi harus melayang darinya ….
“Aku Laksamana Keumalahayati..”

Penasaran ? Silahkan beli bukunya sebelum kehabisan diborong tetangga dan dibaca dengan seksama ya *hehehe*

Advertisements