Tags


Berangkat dari keinginan untuk melepas penat dan penasaran karena ramai diberitakan filmnya disebut-sebut haram, mau ditariklah tapi oleh beberapa teman malah direkomendasikan untuk ditonton. Akhirnya Kamis malam (21/4) selepas jam kantor menghindari macet saya pun mampir ke PIM membeli tiket pk 20.45.

Pas beli tiketnya sepi begitu pula ketika pintu teater telah dibuka belum ada satupun manusia yang masuk, sempat terlintas jangan-jangan nonton sorangan di studio yang besar ini. Eh 5 menit sebelum film diputar dapat tetangga sebelah bangku sepasang anak muda (maaf setelah tengok kanan ceweknya bergaya ABG sementara cowoknya berbadan tinggi besar tampangnya sih dah dewasa banget LOL), yang cewek begitu duduk lepas sepatu angkat kaki terus menggoyang-goyangkan badan. Mungkin dipikirnya lagi di kursi goyang, tanpa menyadari satu deret bangku di situ ikut merasakan getarannya. Gak berhenti sampai di situ, begitu film dimulai suaranya berisik : emang itu Semarang ya, emang di Semarang ada tempat seperti itu, emang Semarang ada kota tuanya? Cowoknya ikut menimpali : lha tadi di awal credit title-nya terima kasih buat Pemda dan warga Semarang koq, mungkin juga kali ya kotanya masih seperti itu. Yuhuuuu mbak/mas kemana aja, blom pernah ya lihat Semarang? Terpaksa deh pura-pura batuk agak keras biar mereka diam dan lumayan mujarab hehehe.

“?” (Tanda Tanya) sebuah film yang mengangkat tema pluralisme hidup bertoleransi antar umat beragama yang mulai memudar di sekeliling kita. Aneh aja, kenapa ada yang  terang-terangan melarang untuk menonton dan bilang haram sementara mereka hanya membaca resensi film tanpa melihat isinya secara menyeluruh. Bahkan ada juga yang langsung mengambil keputusan tidak mau menonton film tersebut takut dosa. Hanung sang sutradara dikecam menyebarkan faham haram dan sesat sampai-sampai katanya MUI perlu menggelar rapat khusus untuk membahas sesatnya film ini. Dalam suatu resensi blog, ada yang mencap Hanung belum paham agama karena yang ricuh bukan agama apalagi Tuhan tapi para penganutnya yang belum mendalami agamanya masing-masing. Yang memberi komentar pasti belum nonton, walau terkadang yang sudah menonton pun mati-matian mempertahankan pendapatnya.

Film yang berangkat dari kisah nyata, hal-hal sederhana yang terjadi di lingkungan kita dan membuat kita sering adu mulut untuk saling mempertahankan kebenaran menurut iman percaya yang kita yakini. “Aku cerai dari Mas Panji bukan karena aku mengkhianati kesuctian perkawinan dan aku pindah agama bukan karena aku mengkhianati Tuhan” demikian kata Rika seorang ibu muda, single parent yang sedang belajar untuk menjadi seorang Katolik. Keputusannya mendapat tentangan dari ibu dan Abi anaknya yang masih kecil. Atau keputusan Surya pengangguran yang bercita-cita untuk menjadi pemain film hebat tapi selama 10 tahun hanya mendapatkan peran figuran, seorang muslim yang diperhadapkan kepada satu pergolakan bathin ketika mendapat tawaran sebagai pemeran utama. Apakah berdosa untuk masuk ke dalam gereja tempat beribadah yang bukan keyakinannya ? Ketika akhirnya Surya memerankan Yesus pada kebaktian Paskah dan Yusuf pada kebaktian Natal, bukan berarti tanpa pergumulan dan pertentangan dari berbagai pihak. “Secara fisik engkau masuk ke dalam gereja, tapi hatimu melekat pada apa yang kau yakini. Tanyakan pada hatimu” demikian nasihat Ustadz-nya. Atau keputusan Hendra anak pemilih restoran China untuk datang ke Ustadz dan bertanya “Apa itu Islam” setelah melalui perjalanan panjang dalam hidupnya.

“?” Sesat ? (gambar diunduh lewat om gugel)

Bagi saya pribadi menonton film “?” jadi bahan perenungan tersendiri apalagi ditonton di malam Jumat Agung. Walau lahir, bertumbuh dan besar di lingkungan Kristen saya gak mau dicap sebagai Kristen keturunan, pergolakan dalam hati saya terjadi ketika memasuki usia SMP. Saya mencari beribu alasan dan main kucing-kucingan dengan orang tua saya agar tidak berangkat ke gereja hanya karena terpaksa. Tanda tanya besar selalu menghiasi kepala saya menjelang week end “Kenapa hari minggu mesti ke gereja, kenapa saya harus percaya kepada Yesus, kelau gak gereja orang akan mencap Papa saya yang majelis dan Mama saya seorang aktifis gereja sebagai orang tua yang gak bisa mendidik anaknya?” Nilai agama di rapor selalu dapat 9 (sembilan) tapi itu tidak cukup kuat untuk memutuskan pilihan pada keyakinan yang saya yakini sampai hari ini. Anak SMP yang dengan diam-diam suka bertanya pada pendeta yang mengantarkan harian pagi atau undangan rapat ke rumah, “Om, kenapa orang Kristen harus ke gereja?” Jawabannya gak saya dapat dari pendeta tapi dari guru agama di SMP yang selalu membuat saya bersemangat untuk mengikuti pelajarannya. Guru Agama yang tidak mau ikut-ikutan mengabsen anak muridnya hari minggu ke gereja atau tidak, dengan cara salah kaprah memberikan PR untuk mencatat khotbah minggu serta meminta tanda tangan pendeta yang berkhotbah di kebaktian. Dan saya bersyukur mendapatkan guru agama yang rada ekstrim dan setipe itu semasa SMA.

Jika saya berteguh pada iman yang saya yakini semua itu karena telah melalui proses panjang yang kadang sakit tapi DIA selalu setia untuk menemani melangkah. Dan ketika anggur dan roti berada dalam genggaman hanya rasa syukur yang teramat dalam dipanjatkan ke hadiratNya untuk segala Kasih dan PenyertaanNya yang tak pernah berkesudahan. Tak ada lagi tanya ketika suatu pagi buta tersungkur di bawah kakiNya berserah atas pemberontakan diri. Hanya air mata yang perlahan mengalir tak terbendung dan bibir bergetar berseru padaNya “I love U Jesus“. Gak gampang untuk tetap berseru I Love U ketika jiwa diobok-obok, sakit dan gak bisa terima ketiksa saya di”geret” dan diinterogasi seperti pencuri oleh intel di salah satu gereja hanya karena rasa keinginantahuan yang teramat besar terhadap arsitektur bangunannya. Sementara di lain waktu, saya merasa aman berjalan sendiri menyusuri kawasan Banten Lama yang terkenal sangat kuat menjunjung budaya dan agamanya, atau masuk ke dalam Klenteng tanpa mempertanyakan di KTP saya agama apa? Lebih sering kita saling sikut sendiri di dalam perahu yang sama dengan orang yang seiman hanya karena selisih paham.

Jadi menurut saya film “?” layak untuk ditonton oleh siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan karena akan memancing anda untuk berpikir dan melihat ke dalam diri sendiri. Tapi pesan saya, jika anda masih goyah dengan pilihan anda berhati-hatilah jangan terpancing dan menjadi panas. Hanung memang piawai untuk mengemas sedemikian detail hal yang sangat sensitif di masyarakat dan mengembalikan keputusan kepada penonton untuk menarik benang merah dengan sebuah pertanyaan : Masih pentingkah kita berbeda ? Hanung Bramantyo, empat jempol terangkat buat anda !

Saya berterimakasih kepada genk Lemunisasi atas pencerahan lewat pembicaraan gak nyambung yang hanya kita yang bisa memahaminya dan kelakuan gelo sehingga kita bisa mentertawakan diri kita sendiri sepanjang liburan minggu lalu di Solo. Pada akhirnya saya menarik kesimpulan dari setiap pembicaraan gak penting tapi penting itu sbb : Orang fanatik terhadap sesuatu adalah orang yang hanya fokus pada satu hal tanpa mau membuka mata (diri) untuk melihat keberagaman di sekitarnya, orang yang terlalu fokus gampang untuk dihipnotis dan orang yang gampang dihipnotis akan dengan mudah untuk diprovokasi.

Ketika ibadah yang kita jalankan hanya sebatas rutinitas dan ritual kebiasaan supaya orang melihat, bertanyalah pada hatimu adakah damai sejahtera engkau rasakan pada saat menjalankan ibadahmu? Ataukah jiwamu tetap kosong ?

Selamat PASKAH – buat yang merayakan

note : tulisan ini dibuat sebagai bahan perenungan pribadi tanpa bermaksud  menyinggung pihak-pihak tertentu