Tags

, ,


update
*setelah bukunya dilahap dalam sehari*😉

Novel ini wajib dibaca dan direkomendasikan untuk masyarakat Toraja atau siapa saja yang tertarik dengan sejarah dan budaya Toraja. Novel sejarah yang dilatarbelakangi kisah Bendurana dan Landorundun, cerita rakyat yang semasa kecil menjadi dongeng pengantar tidur yang diceritakan oleh alm Papa saya disamping kisah lainnya.

Alur ceritanya campuran antara alur mundur (flash back) dan alur maju (bener gak ya, udah lupa nih alur-aluran hehe); dimulai dari kisah Patodenmanik si cantik jelita dengan rambut panjang melewati tumit yang pergi meninggalkan kampung halamannya demi menghindari pinangan Dassiriri,ia lalu berganti nama menjadi Lambe’ Susu. Lambe’ Susu menjatuhkan pilihan dan menikah dengan Salogang, lelaki yang menempuh perjalanan jauh mengikuti suara tingke’ bulaan (rahat emas) yang dibunyikan oleh Lambe’ Susu. Mereka mempunyai anak perempuan yang diberi nama Landorundun karena sewaktu lahir seluruh tubuhnya tertutup oleh rambutnya yang panjang. Lalu ada kisah Bendurana & Kinaa yang dipertemukan lewat jejaring sosial dengan segala kisah kebetulan yang berhubungan dengan masa lalu.

bagaimana kisah Ben & Kinaa ? silahkan dibeli dan dibaca bukunya😉

********

**maaf belum bisa review, karena novelnya baru order😉. dibawah sekilas info mengenai Landorundun copas dari FB Novel Landorundun**

Landorundun adalah novel pertama karya Rampa’ Maega yang diterbitkan oleh Penerbit Senandika, Bandung.

landorundun

Landorundun, Rampa’ Maega

Selain berisi kisah utuh dari versi lisan cerita aslinya yang diwariskan turun-temurun, Landorundun juga berkisah tentang Kinaa Landorundun, perempuan berdarah Australia-Indonesia yang tak pernah menduga jika nama belakangnya terkait dengan sebuah cerita rakyat Toraja. Tak hanya karena kesamaan nama, tapi juga sekelumit kisah yang telah ratusan tahun menjadi sebuah rahasia. Perkenalannya dengan seorang pemuda Toraja bernama Bendurana lewat jejaring facebook membawa Kinaa menjelajahi eksotisme Toraja beserta peristiwa-peristiwa masa lalu yang ternyata masih berhubungan dengan masa lalunya sendiri. Kedua kisah ini – modern dan klasik – kemudian saling mengisi membentuk jalinan cerita yang terbentang dari Toraja hingga Australia.

Sebagai wujud kekaguman penulisnya kepada cerita-cerita rakyat, Landorundun merupakan sebuah bentuk adaptasi terhadap cerita rakyat Toraja dengan judul yang sama. Ada harapan agar melalui novel ini, generasi muda Toraja dapat kembali mengenali cerita-cerita rakyat kampung halaman, yang dulu hanya dikisahkan secara lisan dari generasi ke generasi. Dan untuk konteks yang lebih luas, semoga Landorundun – juga cerita-cerita rakyat Toraja lainnya – juga dikenal oleh masyarakat Indonesia secara umum, untuk ‘bersanding’ dengan Loro Jonggrang, Sangkuriang, atau Malin Kundang.