Tags

, , ,


Rabu, 29 Des 2010

Toraja emang asik udaranya bikin betah untuk berlama-lama meringkuk di balik selimut walau sang surya diam-diam mulai mulai mengintip dari balik jendela. Wah, nih anak bertiga dari kemarin semangat mau jalan pagi tapi belum ada tanda-tanda badan bergeser dari tempat tidur. Upi Abu dah kelar nyapu dan ngepel, dah nyiapin teh manis panas tapi piring kotor semalam belum disentuh ntar aja habis jalan jadi cukup direndam dulu deh di sumur hehehe. Pk 08 masih dengan muka bantal (padahal dah kesiangan) jalan ke tukang jual pisang goreng untuk nyumbat perut yg mulai rewel (maklum makan teratur nih selama mudik). Belum banyak yg antri beli 10 biji 5ribu perak, coba bandingkan di counter Manado Papangka – Ambas beli pisang kipas cuma dapat sebiji. Syukur-syukur pisangnya manis hehehe. Sambil ngemil pisgor menyusuri jalan kenangan, iya kenangan masa SMA melalui jalan ini beramai-ramai pulang sekolah melewati icon-icon kota Rantepao al Asrama Elim (Aslim), Rumah Sakit Elim & Gereja Besar. Lewat Aslim, hikkzzz riwayatmu kini sudah rata dengan tanah dilindas buldoser. Mau jadi apa negeri yg tidak menghargai bangunan bersejarah ? Melihat pagar proyeknya terbuka dikit, masuk ngintip dan mengambil gambar berikut :
RIP Asrama Elim

Di seberang Aslim, ada rumah sakit Elim yg didirikan oleh misionaris Belanda pada 1929 sebagai rumah sakit pertama di Toraja. Bangunannya masih kokoh berdiri, tempat favorit saya dari kecil adalah ruang pendaftran yg berada ditengah-tengah beranda depan berbentuk bulat dan masih digunakan sampai sekarang. Tempat kedua adalah laboratorium yg berada di ujung selatan bangunan (sayang gak sempat ngintip ke sana walau pada 1 Januari ikut ibadah di sini). Jalan ke depan lagi sebelah kanan ada Gereja Besar, disebut besar karena dulu memang satu-satunya gereja permanen yg besar di Toraja. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh DJ Van Dick pada tahun 1935, ini gereja tempat bertumbuh & bermain dari masa kecil dulu. Suka dikejar-kejar koster karena kita sering bermain kasti di halaman rumput gereja. Habis aman sih, terus habis main mencari kenari di pinggir selokan yg besar hehehe. Teringat waktu kelas III SD malam-malam nobar film Injil masuk Korea (apa Cina ya) yg membuat seorang anak kecil seusia saya menangis dari awal hingga akhir (pake sembunyi2 ngusap air mata takut diketawain teman). But that film really touched sehingga membuat saya malam itu memutuskan untuk mengikuti dan mencintai DIA sepenuh hati walau jatuh bangun sekalipun. Kalau ada yg mau membongkar bangunan gereja ini untuk dijadikan mall, yakin deh saya pasti turun berdemo di barisan depan. Keterlaluan tuh orang-orang yg gak menghargai bangunan tua, mau berbagi cerita apa lagi buat anak cucumu? Kebanggaan pernah meratakan bangunan-bangunan bersejarah dengan buldozer ? Sableng !! Bung Karno pernah bilang “Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai jasa pahlawannya”.

Sampai di depan rumah dinas kepala Kodim, foto-foto dulu dibawah patung Tato’ (= panggilan untuk laki-laki, sama dengan Mas dalam bahasa Jawa) & Lai’ (= panggilan untuk perempuan, sama dengan Mbak dalam bahasa Jawa) yg berpakaian adat Toraja. Setelah puas sambil digodain abang-abang sitor kita lanjut ke Rante Karassik.
Rante Karassik

Rante (=dataran rendah) adalah tempat untuk melaksanakan upacara adat pemakaman Toraja. Rante Karassik sendiri merupakan tempat pelaksanaan upacara pemakaman keluarga yg telah digunakan dari abad 19. Lokasinya yg gak jauh dari pusat kota Rantepao (sekitar 1km) sangat mudah untuk dijangkau dengan berjalan kaki. Di sini terdapat batu simbuang (=menhir), banyaknya batu menandakan berapa banyaknya upacara Rambu Solo’ yg telah dilakukan di tempat tersebut. FYI, menhir hanya hanya dibuatkan untuk kaum bangsawan saja. Satu buah menhir harganya bisa ratusan juta, dan dibawa ke Rante dengan menggunakan tenaga manusia. Jangan-jangan orang Toraja keturunan Obelix hahahaha.

Monumen Pongtiku

Dari Karassik, kembali menyusuri jalan poros Makale – Rantepao menuju Singki’, di tengah jalan ada pengendara motor berseragam loreng-loreng merapat dan menyapa. OMG, Unyun pesona apa yg telah kau tebar di Malakiri sampai semua orang mengingatmu? Cieee cieeee …ada yg tukaran nomor henpon hahaha. Awalnya mau trekking ke bukit Singki’ untuk melihat pemandangan kota Rantepao tapi perlengkapan kakinya gak mendukung akhirnya menyusuri tepi sungai Sa’dan. Mampir ke monumen Pongtiku pahwalan Toraja yg memimpin para pejuang melawan Belanda. Beliau mati ditembak pada th 1907 saat sedang mandi di pinggir kali, di tempat ini lah berdiri monumen untuk mengenang jasa sang pemberani. Bersyukur sekarang areanya sudah terawat, sebelum-sebelumnya dipenuhi jemuran pakaian. Entah kenapa, saya koq yakin banget banyak orang Toraja yg gak tahu keberadaan monumen ini. Kasiaaaaan deh loe ! Selain di Singki’ ada 2 monumen Pongtiku lainnya sedang menunggang kuda terdapat di Rantepao art center & di kota Makale.

Panorama Ba’lele

Kaki terus melangkah dan terhenti sejenak di atas jembatan Singki’ terpesona dengan keindahan pemandangan sampah di antara besi-besi jembatan. Uugggghhhhh, gregetan deh tiap kali melihat pemandangan seperti ini. Apa orang gak pernah bisa ya belajar untuk tidak mengotori kali dengan aneka sampah dari popok bayi, bungkus rokok, sampah plastik dan aneka sampah rumah tangga lainnya. Kemana nih petugas penyuluh kebersihan yg biasa koar-koar mengingatkan warga untuk membuang sampah pada tempatnya ? Baru nyadar selama di Toraja kemarin gak denger halo-halo sekalipun padahal 2 tahun lalu sering banget lewat depan rumah. Apa tertutup oleh ramainya suara kembang api ya ?

Indahnya pemandangan di pagi hari, embun yg perlahan meninggalkan jejak di rerumputan, anak-anak gembala yg berlomba menarik kerbaunya ke kali untuk dimandikan dan suara riuh orang dari ujung kampung. Salah satu tempat favorit untuk menikmati alam ya di pinggir kali ini, ada sawah, ada gunung Sesean nun jauh di sana, ada bukit Singki’ dan warga kampung yg berangkat beraktifitas di pagi hari. Ternyata di ujung sana ada acara Rambu Solo’, dapat info dari bapak-bapak yg lewat kalau mau melihat acara tebas kerbau buruan ke sana. Sayang, hari ini ada acara lain sementara setelah cek ricek ternyata acara potong kerbau masih sejam lagi. Jadi diputuskan untuk kembali ke rumah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, ada sms masuk dari nomor tak dikenal dan baru merhatiin ternyata ada 9 miskol dari nomor yg sama sejak semalam. Jiaaaaaa, isinya singkat padat tapi langsung ketebak pengirimnya dan ekspresi orangnya. How do I know ? Hehehee …jika pernah dekat secara emosional dengan seseorang pastinya tahu donk gaya bahasanya. Saya sms balik say sorry, dah tahu kan saya paling malas untuk meladeni telpon dari nomor tak dikenal? Akhirnya doi telpon & dalam hitungan sepersekian menit we bumped in front of the catholic church. Teletubbies cipika-cipiki di pinggir jalan, chit chat sebentar than hasta la vista baby titip salam buat kk ipar & mantan calon mama mertua hahaha. Unyun langsung interogasi dgn muka intel mesra bener, who’s that man ? One of my mantan tersayang tapi bukan ulat di puun jambu hahahahaha.

Lemo
Hunting kuburan hari ini dimulai dari Lemo, satu kompleks pemakaman tradisional Toraja yg terdapat di dinding batu. Kenapa disebut lemo ? Karena bentuk batunya yg menyerupai jeruk. (=lemo). Liang-liang kubur dipahat di dinding batu, semakin tinggi posisi liangnya semakin tinggi status orang tersebut. Di depan makam, berjejer tau-tau simbol dari orang yg telah meninggal dan dikuburkan di situ. Ada satu kepercayaan nenek moyang yang percaya bahwa semakin tinggi letak jenazah dimakamkan semakin dekat dia dengan Penciptanya.

Untuk menuju Lemo, dari Rantepao cukup naik angkutan umum tujuan Makale minta diturunkan di Lemo. Dari jalan besar berjalan kaki sekitar 2km dengan pemandangan sawah melewati rumah-rumah penduduk & hutan bambu. Di jalan papasan & lempar senyum dengan seorang cowok manis yg dari penampilannya keliatan seorang backpacker. Wowwww …ternyata pemandangan di sini indah bener yak, si Unyun aja sampai tergoda untuk manjat ke bukit batu. Setelah bercengkerama sesaat dengan penduduk sekitar dan belanja souvenir, lanjut jalan dibawah terik matahari yg puanasssssnya minta ampun. Balas dendam nih sama hujan kemarin sore ?

Londa
Dari Lemo menyegat angkot menuju Londa disambung dengan trekking 1,5km daaaaan ketemu lagi sama cowok backpacker tadi. Akhirnya bukan sekedar lempar senyum tapi ngobrol bentar (maaf lupa namanya siapa hehehe), dia bekerja di Kalimantan dan lagi menyusuri Sulawesi Tengah dan Selatan. Baru sampai dengan bis pagi langsung meluncur ke tempat-tempat wisata dan menargetkan untuk jalan malam ke Selayar dengan menumpang bis tujuan Makasssar jika target dalam catatan dia terpenuhi sore itu. Ternyata 3 cewek yg jalan bareng gak ada yg merhatiin tuh cowok, tapi saya gak mimpi koq buktinya saat nyubit tangan berasa sakit berarti tadi bicara dengan orang hehehehe.

Di tengah jalan ada yg berbaik hati menepikan Xenia-nya dan mengajak kita untuk naik aaahhh adem. Perjalanannya sih udah gak jauh ya, tapi lumayanlah ada tebengan sehingga kaki gak gempor. Makasih lho Mas ! Balik ke Makassar kapan ? Hahahah namanya juga usaha.

Sama seperti Lemo, Londa merupakan kawasan kuburan tradisional, yg membedakan di Londa jenazah disimpan di dalam gua. Peti-peti mati diletakkan disudut-sudut gua sehingga pengunjung bisa masuk gua dan melihat dari dekat menggunakan lampu petromax yg dapat disewa di lokasi.

Balik dari Londa, karena berharap ada yg bisa ditebengi kita memilih jalur mobil keluar yg ternyata lebih dekat ke jalan raya utama hanya saja menjauhi Rantepao padahal niatnya mau jalan kaki ke tempat penjualan deppa tori’ (= kue tradisional Toraja yg terbuat dari tepung beras dicampur gula merah). Yaaaa, terpaksa deh ngangkot lagi dan kejadian di Ke’te Kesu terulang kembali, nyetop sampai berkali-kali baru deh ada yg berhenti. Kita turun di Buah dan masuk ke toko Nitha untuk beli deppa tori’, belinya sih gak seberapa tapi testernya habis sepiring hahaha. Enak apa doyan ?

Sampai Rantepao, kembali menyusuri daerah pertokoan masih berusaha untuk hunting bis kali aja ada yg membatalkan tiketnya jadi bisa disamber. Dari ujung ke ujung ternyata tak ada satupun bangku kosong, bahkan bis kecil yg jadi alternatif terakhir semua juga fully booked. Kepikiran untuk mencarter mobil kecil sambil mencari teman untuk sharing cost, hingga mengejar 2 orang wisman yg sore itu keluar masuk perwakilan seperti kita. Tetap semangat walau belum pasti pada bisa pulang kapan dan dengan apa, tapi harus sudah di Makasar 1 Jan sore karena flight ke Jakarta tidak bisa dire-schedule.

Dikarenakan dah pada ngidam ikan bakar, akhirnya malam ini masak Ikan Mas Bakar yang membuat pada betah berlama-lama menggenggam piring dan bolak-balik nambah ke meja padahal makannya cuma pake sambal. Sepertinya buat persiapan nobar AFF Indonesia vs Malaysia ya hehehe. Habis makan malam, jalan-jalan ke Rantepao Art Center katanya sih ada pentas seni. Begitu sampai di lokasi ya amplopppp ternyata launching product diisi lomba band antar sekolah & yg berkeliaran di plaza ABG tanggung semua. Yeee kirain ada acara tarian or apalah yg lebih heboh dari itu, secara infonya dalam rangkaian Lovely December. Yasud, pulang aja deh band-band yg tampil std, kalau yg mentas Ari-Reda or Jubing bolehlah jiaaaaah.

Ternyata saya gak kuat untuk begadang, saat semua asik teriak-teriak di ruang tengah mata ini sudah tinggal 5 watt sehingga tertidur dengan sukses hingga pagi hari. Persiapan tenaga besok untuk naik ke Batutumonga.

Kamis, 30 Des 2010
Batutumonga, Lo’ko Mata & Tinimbayo
Jika ingin menikmati panorama Toraja di 1300mdpl dengan view hamparan sawah terasering dan kota Rantepao sekitarnya naiklah ke Batutumonga Kec Sesean. Dari pusat kota sekitar 22km hanya saja berkendara menuju ke sana memerlukan keahlian tersendiri, jalannya kecil & mesti rajin-rajin mencet tuter saat berada dikelokan karena dari arah berlawanan sering muncul kendaraan tanpa ngasih aba-aba. Berhentilah sejenak di Tinimbayo untuk melihat yg hijau-hijau menyegarkan mata, paling enak tuh sambil minum segelas kopi Toraja slurrrpppp. Lumayan nih lurusin kaki setelah perjalanan hampir sejam umpel-umpelan di belakang Xenia.

Dari Tinimbayo perjalanan dilanjutkan hingga ke Lo’ko Mata (lo’ko = lubang, mata ya mata, artinya lubang-lubang yg dibuat di batu besar sehingga menyerupai mata yg mengintip bener gak tuh ;)) Lo’ko Mata terletak di lembang Tonga Riu, kampung halaman Papaku nih PARIS (= PAngala Riu & Sekitarnya hehe). Saya naik ke atas batu favorit untuk menikmati panorama kanan kuburan batu, kiri sawah, depan lembah belakang bukit diiringi gemericik air yg mengalir disela-sela batu besar hehehe. Nikmatnya hidup ! Sebenarnya saya ingin ke batu tempat almarhum Opa dikubur, tapi setelah mencoba mendaki akses ke sana sepertinya telah tertutup oleh pepohonan dan hanya menemui jalur kerbau. Akhirnya bertanya ke seorang ibu yg menunggu jemurannya kering arah ke Guru ? Orang PARIS asli di sini kalo ngomong huruf “G” berbunyi seperti “K” jadi waktu saya tanya letak Guru ibunya gak nangkap. Untung memory segera ingat guyonan Papa dan saudara sepupu setiap kali bertemu sodaranya yg datang dari Paris. Oh G(K)uru ? Menurut info si ibu, liang kubur di batu Guru sekarang ada 5 buah karena ada yg habis dimakamkan di situ sementara 5 tahun lalu waktu diajak ke sana liangnya sudah 3 biji itupun pake nebak-nebak buah mangga which one is my grandpa’s tomb ? Demi mendengar medannya sangat sulit, saya memutuskan untuk duduk-duduk saja di batu itu. Eh, si ibunya ngoceh lagi …di depan sana ada mayat yg jatuh dari liang sekitar sebulan yang lalu, mayatnya masih tergeletak di bawah. Penasaran ?? So pasti, turun bareng Unyun disusul Rihanna menyusuri pinggir kali mendekati lokasi yg dimaksud. Sayang gak menemukan bendanya hanya saja penasaran dengan sesuatu berbentuk bantal ditutup dengan kain Bali dan kelihatan masih baru. Rupanya itulah mayat yg terjatuh, mungkin di atas sana mereka umpel-umpelan atau berantem sehingga dia terjungkir dari tempatnya karena posisinya jaga pintu hehehe.

Dari Lo’ko Mata turun dan beristirahat sebentar di Mentiro Tiku (mentiro = melihat, tiku = lembah, jadi Mentiro Tiku artinya menikmati lembah). Jauh di lembah ada yg sedang mengadu kerbau, rupanya ada acara di sana.

Kopi Toraja
Turun dari Batutumonga kembali berpusing-pusing mencari bis, lanjut mampir ke tempat penggilingan kopi tentunya untuk beli kopi bukan ? Pilihannya Arabica atau Robusta ? Yang paling mantap Arabica pastinya! Bisa beli biji maupun yg sudah digiling, tinggal pilih sesuai selera. Setelah masing-masing menenteng kantong kresek, niatnya mau kuliner sore-sore. Tapi sampai di depan warung Pong Buri mendapati warung tutup dengan kertas menempel di sisi pintu “HABIS”. Yaaaa, pa’piong susah banget sih mendapatkanmu ?

Warung Pong Buri’