Tags

, , , ,


Selasa, 28 Des 2010

Hari ini diajak tongkon (= menghadiri upacara rambu solo’) ke Tikala oleh kakak sepupu yang berangkat membawa kerbau & babi. Kebetulan hari ini adalah hari penerimaan tamu sehingga Unyun2 bisa melihat hal yg berbeda dari sebelumnya di Malakiri. Pk 09.00 dah ditelpon segera ngumpul di Bolu untuk pembagian kendaraan (kek mo berangkat kampanye aja hehehe). Perjalanan ke Tikala cukup lancar hanya tersendat di daerah Malango karena pertemuan arus dan jalan menyempit, selebihnya lancar jaya hingga tujuan.Sebelum menjumpai keluarga yg dituju di sana, terlebih dahulu harus mendaftarkan rombongan yg datang melayat berikut bawaanya ke pos penerimaan tamu. Di sana ada petugas yg akan mencatat data sbb : kepala rombongan, jumlah rombongan, keluarga yg dituju, apa yg dibawa untuk keluarga yg berduka (kerbau or babi), jumlahnya berapa dan tak lupa harus membayar retribusi hewan. Setelah semua urusan pendataan selesai, petugas akan memberikan informasi tersebut ke protokol untuk dibacakan pada saat giliran rombongan yg datang melangkah ke tempat upacara. Jika ada banyak tamu yg datang, maka antrian rombongan untuk diterima oleh keluarga pun akan menjadi panjang karena harus menunggu giliran.

Prosesi penerimaan oleh keluarga dimulai di lantang penerimaan tamu, rombongan pelayat akan dipanggil oleh protokol berdasarkan nomor urut pendaftaran. Iring-iringan saat memasuki lokasi upacara didahului dengan to ma’doloan (= pemandu berpakaian adat sebagai pembuka jalan), lalu disusul oleh pembawa hewan (kerbau jika ada lalu babi) lalu di belakang rombongan pelayat perempuan & lelaki. Urutan barisan berdasarkan usia, yg tua di depan dan yg muda di belakang. Di lantang penerimaan tamu, rombongan lelaki & perempuan duduk di bilik yg terpisah. Keluarga akan menyambut rombongan dengan membawa sirih pinang, namun seiring perkembangan jaman dimana saat ini sudah sangat jarang yg nyirih; maka sirih pinang hanya sebagai formalitas sehingga para lelaki akan menyodorkan rokok dan perempuan akan mengeluarkan permen dari kantong sirihnya. Prosesi ini disebut ma’papangngan (= pemberian sirih), setelah bercengkerama sesaat dengan tamu yg datang keluarga akan mengundurkan diri dari lantang penerimaan tamu. Selanjutnya tamu akan dijamu oleh rombongan to ma’pairu’ (= pembawa minum) dengan kopi teh hangat dan aneka kue. Selama berada di lantang penerimaan tamu, tamu juga disambut dengan penampilan musik bambu dari anak-anak sekolah dan tarian ma’badong (= tarian kedukaan). Secara kebetulan yg meninggal adalah pionir & pengajar musik bambu di Toraja. Tak dinyana saat asik menikmati pemain cilik beraksi di tengah arena, ada cowok yg menghampiri. Waduuuhh, perasaan gak ada yg mengenal saya di daerah sini koq nih cowok tahu nama saya ya? Setelah memperkenalkan diri, ternyata teman sekelas di SMA yg telah berubah penampilan dari yg dulunya kurus sekarang berisi sementara saya katanya masih seperti waktu SMA awet muda hahahahaha. Setelah semua prosesi itu selesai, protokol akan mempersilakan rombongan untuk bersiap menuju ke lantang keluarga yg dituju. Di lantang keluarga tersebut, rombongan pelayat akan kembali dijamu dengan santapan berat berupa nasi dan aneka lauk pauk yang telah disiapkan oleh keluarga.

Hari ini ternyata belum kesampaian memakan pa’piong, karena yg tersaji di depan mata adalah tumis sayur pakis dicampur kangkung, pantollo’ ikan mas dicampur dengan kluwek dan babi kecap. Pk 13 kita pamit duluan dengan menumpang angkot carteran ke Rantepao dilanjutkan dengan naik sitor (=taksi motor, jenis angkutan seperti becak namun didorong oleh motor dari belakang) berempat ke rumah  **wah ada yg sampai ketagihan naik sitor hehehe**

Ke’te Kesu
Hujan mengguyur tanah raja, niat untuk berkunjung ke tempat wisata terpaksa diurungkan sambil menunggu hujan reda. Pk 15 gerimis masih turun saat kaki melangkah keluar rumah menuju Ke’te, sengaja memilih yg dekat karena sudah sore biar kalo hujan pulangnya juga gampang. Ke’te Kesu adalah perkampungan adat Toraja yang masih dipelihara dengan baik sampai sekarang. Di bagian belakang kampung terdapat kuburan adat yg diperkirakan sudah berusia ratusan tahun. Jalan setapak menuju ke lokasi kuburan sudah disemen sehingga memudahkan pengunjung untuk menuju ke makam. Di areal makam terdapat peti mati berbentuk perahu & binatang (kerbau dan babi), diletakkan berjejer maupun menggantung di atas batu. Tulang belulang & tengkorak berserakan di sekitar makam, dan jejeran tau-tau (= patung dari orang yg telah meninggal dan dimakamkan di situ) yg disimpan di dalam gua berpagar besi. Awal 1990-an tempat tau-tau tersebut belum digembok, namun karena banyaknya tangan jahil dari pengunjung yg membawa kabur tau-tau pihak keluarga akhirnya mengunci gua tempat penyimpanan.

Selagi asik menikmati tulang belulang yg berserakan, seorang anak kecil menghampiri menawarkan jasa untuk mengantar masuk gua yg ada di bagian belakang. Akhirnya kita ikut di belakang rombongan satu keluarga dari Makassar sharing penerangan. Gak banyak yg bisa dilihat di dalam kecuali stalakmit dan stalaktit serta beberapa barang orang yg sudah meninggal yg ditumpuk di depan pintu masuk. Keluar dari gua, rombongan Makassar ini ribut hitung-hitungan sewa senter dan jasa si pemandu cilik. Rombongan mereka khan 15 orang tapi ngeluarin duitnya berat banget, sementara kita hanya berempat ya wajar donk kita nyumbangnya dibawah mereka lagian nebeng senternya juga dikit karena kita ada headlamp 2 biji. Saat hendak balik ke perkampungan hujan deras turun, sambil menunggu hujan reda mampir lihat-lihat souvenir di kios dekat perkampungan adat. Ternyata ya, walau hujan dan sudah pk 17 masih ada aja rombongan turis yg datang lho !

Chancan yg dari awal sudah naksir berat dengan sepasang tau-tau, sibuk nawar tapi harganya gak turun-turun. Cara pdkt pun dimulai, saat mulai tawar barang biasa sok akrab bertanya apa benar yg buka lapak adalah tetangga ? Hahaha …pada akhirnya tuh tau-tau benaran diboyong dengan harga khusus untuk temannya kakak teman plus tetangga. Waktu hendak cabut dari lokasi tiba-tiba perut melilit, waduhhhh efek daging babi & sambal mulai bereaksi nih ! Akhirnya berlari ke salah satu kios souvenir untuk menuntaskan urusan belakang. Legaaaaa karena gak ada yg antri hehehe. Pk 18 ditengah rintik-rintik hujan kita meninggalkan Ke’te menunggu angkutan untuk kembali ke Rantepao. Menit demi menit berlalu dan setiap kendaraan berplat kuning yg disetop tak ada yg berhenti. Hmmm, ada yg salah ? Wah, kayaknya karena bawaan kita nih, untuk menghindari air hujan menembus kamera : Chancan ranselnya dibungkus dengan kantong plastik hitam yg menggantung & melambai-lambai dipunggung, saya menenteng kantong plastik hitam besar berisi tas kamera dah keliatan kek tukang angkut-angkut sampah wkwkwkw. Terlaluuuuu !

Waktu bertanya kepada pemilik warung tempat berteduh, dapat info bahwa angkutan ke kota masih ada sampai pk 19 jadi kita gak khawatir. Lagipula kalaupun angkot gak ada, tinggal setop truk kerbau malahan saat melihat di sebelah ada truk yg mengambil peti mati kita dah niat untuk nebeng sampai ke tempat terdekat untuk mengambil angkot. Bosan berdiri di depan warung, perlahan tapi pasti kita jalan kaki menyusuri jalan raya berpayung ria sambil sesekali tengok belakang kalau-kalau ada kendaraan yg lewat. Kiri kanan jalan sawah menghijau, andai tak hujan pasti dah pada narsis deh di situ. Bener aja, belum jalan 100 meter ada angkot yg mau berhenti walau isinya dah penuh. Para lelaki itu akhirnya merelakan bangkunya kita duduki dan mereka bergelantungan di pintu, sungguh perbuatan yg sangat terpuji karena ternyata sopirnya mengangkut kita karena dilihatnya yg jalan adalah perempuan. Mereka bercanda dalam bahasa planet, saya sengaja gak menimpali tapi siap-siap kalau omongannya menjurus akan saya keplak kepala si sopir di sebelah saya.

Sampai Rantepao, langsung menuju ke ATM Mandiri sambil mencoba menanyakan jadwal keberangkatan bis dari satu perwakilan ke perwakilan berikutnya yg dilewati kali aja ada yg masih menerima penumpang untuk 31 Des malam. Ternyata semua penuh bahkan beberapa tidak beroperasi pada malam tahun baru. Sutralah, masih ada hari esok walau tidak berharap banyak karena sebagian bus libur hingga 6 Januari 2011. Sengaja ke ATM malam2 karena rada sepi dibanding siang hari yg antriannya mengular. Di depan kaca terpampang pengumuman “Hanya bisa melayani ATM Mandiri” fasilitas ATM Bersama tidak berfungsi katanya sih ada kerusakan di jaringan hikkzzzz. Gini nih susahnya kalau BCA-nya belum masuk. Sehabis dari ATM, demi mengusir dingin kita menyeberang ke tukang bakso Babi yg ada di samping perwakilan bis Batutumonga. Lupa kalau porsinya cukup banyak, saat mie bakso tersaji di depan mata baru pada melotot. Tiap mangkok mie bakso berisi 8 biji bakso babi dalam potangan besar-besar. Alhasil dari hasil perjuangan sekuat perut, di mangkok masing-masing masih bersisa 4 biji bakso babi wkwkwkw.

Advertisements