Tags

, ,


Perkataan Toradja asalnja “to riadjah” jang berarti : rakjat jang bertempat tinggal di daerah pegunungan, kata lawannja : rakjat jang bertempat tinggal di daerah pantai. Dalam kehidupan sehari-hari orang Toradja bermuka djernih (girang hati), gerak-geraknja biasa sadja (tidak begitu penakut, biarpun terhadap orang Eropah, kata orang Belanda). Bangun badannja orang Toradja umumnja ketjil tidak begitu kuat akan tetapi tahan mengerdjakan pekerdjaan berat-berat.

Boleh dikatakan djang sebahagian dari Toradja biasa gemar sekali bitjarakan hal-hal jang ketjil-ketjil seperti hal jang tak masuk akal, akan tetapi biarpun begitu suku Toradja umumnja dapat dipertjaja karena selalu djuga mengakui hutangnja, walaupun sudah bertahun-tahun baru ditagih padanja.

Orang Rantepao umumnja lebih kuat dan tahan bekerdja, lebih kuat dari pada orang-orang jang tinggal disebelah barat dari Makale umpamanya orang-orang Buakaju dll. Rupanja ini ada tergantung dari makanannja, dikarenakan dibahagian Rantepao orang-orang umumnja mempergunakan nasi, sedangkan di Buakaju dll kebanjakan memakan ketela.

Makanan orang Toradja tidak begitu luar biasa. Nasi atau djagung, ketela dll ditjampur dengan sedikit sajuran, lombok dan garam, mendjadi makanan sehari-hari, walaupun biasa dipergunakan djuga daging terlebih pada beberapa pesta.

Boleh dikatakan djang sebahagian besar dari bangsa Toradja itu amat gemar membuat pesta dan bersuka-suka sehingga tak ketinggalan pada pesta itu semua rupa tari, serta memakai minuman jang terutama ialah tuak. Tuak itulah pengganti air biasa sebagai minuman. Lebih djauh sebahagian besar pula menggemari perdjudian jang biasa mendatangkan penjakit keras bagi harta suku bangsa ini.

Seorang Toradja jang merasa dirinja betul dalam suatu perkara tak akan diamkan perkaranja itu walaupun sudah bertahun-tahun lamanja … sampai kepada saatnja jang dia mulai buka mulutnja lagi dan minta diteruskan ! Terlebih dalam urusan-urusan perkara seperti gugat menggugat mereka tak akan ketinggalan.

Sebagian dari rakjat Toradja sekarang berada dalam abad besi jang dibawa pada mereka oleh orang-orang dari Asia Tengah melalui beberapa daerah di Indonesia. Orang-orang itu mengajar penduduk Toradja tjara bagaimana menggali dan mempergunakan besi. Mungkin mereka djuga jang mengadjarkan tjara menanam padi. Kedatangan perantau-perantau ini ada bersamaan dengan leluhur pertama dari puang-puang. Kepertjajaan bahwa puang-puang berdarah putih mungkin ada hubungannja dengan kulit kuning dari perantau-perantau itu.

Orang-orang Toradja ada insinjur-insinjur jang pandai. Dimana mungkin mereka mengadakan pengairan (irigasi) sederhana tapi baik guna sawahnja. Ditanah datar, di lereng-lereng gunung terdapat sawah luas-ketjil, dilingkungi galangan guna mentjegah air djangan mengalir habis. Memang tjara pengairan Toradja itu sangat baik buatannja. Penanaman kopi ada penting djuga. Sebelum perang kopi Arabika Toradja dikirim ke Amerika. Mudah-mudahan lambat laun pendjualan ini akan berlangsung lagi. Suatu adat dari rakjat Toradja jang sangat menarik perhatian ialah pemakaman orang jang mati didalam lobang-lobang di dinding batu.

Sedjak tahun 1913 bekerdjalah ditanah Toradja ini sebuah utusan Indjil jang bernama Gereformeerde Zendingsbond, bertempat di kota Utrech (tanah Belanda). Pendeta-pendeta dari geredja-geredja tersebut bertempat di Rantepao dan Sangalla’, sedangkan jang bekerja sehari-hari untuk mereka dikampung-kampung jaitu tuan-tuan jang digelari Guru Indjil. Satu diantara orang-orang misi Protestan adalah Dr H van der Veen jang datang pada tahun 1916 dan segera mempelajari bahasa Toradja. Ia menulis beberapa buku batjaan guna sekolah-sekolah misi dan dengan itu memadjukan kesatuan dalam bahasa Toradja jang resmi dan anak-anak bertambah biasa pada tjerita-tjerita dalam kitab Indjil. Tahun 1929 van der Veen mulai menerdjemahkan kitab Sutji itu tetapi terganggu dalam pekerdjaannja oleh perang di Pasifik. Ia mengungsi ke Djawa untuk menjimpan tjatetan-tjatetannja, dan kembali tiga empat tahun berselang melandjutkan pekerdjaannja.

Sedjak tahun 1937 agama Kristen bahagian Roomsech Katholiek (Missie) mulai membuka pekerdjaannja ditanah ini. Mudah dapat dimengerti betapa besar hasrat anak-anak Toradja untuk pergi sekolah. Ada anak-anak jang berdjalan beberapa mil sehari-hari pergi ke sekolah dan mereka suka main musik. Tiap-tiap sekolah mempunjai kumpulan musik sendiri, alat-alat musik terbikin dari bambu. Meskipun alat-alat itu datang dari Sulawesi Utara dan dari Ambon, sudah mendjadi barang janga sangat dibutuhkan di daerah Toradja sama dengan kerbaunja.

Orang Toradja tidak melakukan perbuatan jang tidak djujur, mereka terkenal kedjujurannja. Negerinja akan mengambil bagian jang penting terutama dalam pemerintahan Sulawesi Selatan dan  djuga dalam Republik Indonesia jang berdaulat dan merdeka dan jang masuk Persatuan Bangsa-Bangsa. Rakjat Toradja hidup selamat dan merasa senang dan hari kemudiannja baik.

disarikan dari :
Rangkaian Tanah Air – TORADJA, Parada Harahap
NV Penerbitan W.van Hoeve – Bandung,’s-Gravenhage, 1952

photo sources : KITLV Netherlands