Tags

, ,


Perdebatan dalam mobil sepanjang perjalanan dari Pasar Bolu menuju Batutumonga seputar penggunaan kata PESTA pada acara Rambu Solo’ (= rangkaian acara penguburan Toraja) cukup seru. Pesta lebih identik dengan kemeriahan dan sukacita sementara Rambu Solo’ adalah acara kedukaan. Tapi jika kita melihat lebih dekat selama acara berlangsung tidak tampak wajah-wajah sedih dari orang-orang yang hadir di acara tersebut. Ketika menghadiri satu acara ma’palao (=pemindahan jenazah dari rumah untuk persiapan ke lokasi acara) hanya ada satu anggota keluarga yang terlihat terpukul sementara yang lain biasa aja. Bisa jadi mereka sudah merelakan kepergian orang yang mereka cintai dan kehilangan itu sudah tidak begitu terasa karena yang akan diacarakan juga sudah disemayamkan selama beberapa bulan di rumah duka.

Kata pesta sendiri sudah digunakan dari dulu, seperti yang saya kutip dari tulisan Parada Harahap berikut :

Pesta orang mati dalam tanah Toradja ialah satu pesta jang terutama sekali. Sementara masih hidup sudahlah keperluan2 buat pesta itu diselesaikan seberapa bisa menurut pikulan orang2 jang bersangkutan. Maksud pesta mati tiada lain hanjalah supaja sesampainja djiwa simati dinegeri djiwaยฒ (=puja) tentu disana akan diterima dengan keramaian djuga. Semua harta jang ditinggalkan simati itu sudah dianggap kerbau semuanja, dan bukan setjara mata uang. Umpama : sebidang sawah besarnja kira2 1 ha dihargakan dengan 15 ekor kerbau dan bukan f100,- atau f200,-.

Kebanjakan dari kerbau2 itu disembelih pada waktu pestanja, djadi inilah suatu halangan besar ditanah Toradja untuk memadjukan perekonomian rakjat. Sebelum Pemerintah Belanda datang ditanah Toradja biasanja beratus-ratus kerbah bahkan beribu-ribu babi disembelih pada satu pesta mati sadja, sehingga tidaklah mengherankan jang pada sebuah pesta mati tentulah banjak harta dimusnahkan. Sesudah pemerintah mengatur sehingga pada sebuah pesta mati jang besar diizinkan sadja 40 ekor kerbau (pemotongan babi tidak dibataskan) baharulah ada perobahan besar dalam negeriยฒ ini.

Biasanja dibulan September/Nopember orang adakan pesta mati ini, Karena hebatnja, banjak tamu2 jang datang dari luar Toradja, bahkan dari tanah Djawa. Lama sebelum pesta mati diadakan didirikanlah pondok2 pada sebuah tempat jang luas (rante). Waktu pesta keluarga dari simati menerima tamuยฒ hingga tempat itu merupakan satu kampung baru, tempat berpuluh2 rumah jang baru didirikan. Biasanja terbuat dari bambu. Lebih djauh pula dilihat ditempat itu sebuah pondok jang bagus buatannja semata-mata untuk meletakkan djenazah (majat) dan djuga sebuah para2 jang tinggi dimana daging akan dibagi-bagikan (bala’kajan). Menurut adat, kerbau jang akan dibunuh itu harus ditembak (didokei).

Dahulunja kerbau sematjam itu diiris2 sadja dagingnja sementara masih berdjalan, tetapi sekarang perbuatan ini dilarang oleh pemerintah. Lamanja majat disimpan dalam rumah tergantung dari keputusan kaum keluarganja.Penjimpanan majat dalam rumah itu seolah-olah majat itu sudah dikuburkan sampai pada waktu membuat pesta kedua.

Disarikan dari Rangkaian Tanah Air : Toradja (Padara Harahap, 1952).

Jadi, kalau penggunaan kata pesta dirasa kurang sesuai silahkan ditanyakan kepada ahli tata bahasanya ๐Ÿ˜‰
Kenyataannya saat ini acara Rambu Solo memang jor-joran, jadi wajarlah kalau dikatakan pesta. Selagi yg punya hajat mampu serta sumbernya jelas rasanya gak ada masalah ya. Seandainya dana yg besar itu digunakan untuk pembangunan daerah alangkah indahnya **mimpi kali yeee**

Advertisements