Tags

, , ,


“Kalau kami mati, tidak ada mi yang kasih terus”

Miris, obrolan singkat dengan tiga orang penenun renta di kampung adat To’ Barana Toraja Utara siang itu benar-benar mengusik hati. Nenek Butung (90th) & Nenek Panggau (80th) masih semangat untuk menyelesaikan tenunan toraja dengan ATBM (=alat tenun bukan mesin) yg usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan usia mereka jika melihat alat tenunnya yang mulai lapuk dan mengkilap karena gesekan dengan kulit selama bertahun-tahun. Tahan duduk berjam-jam mengisi hari tua menguntai benang menjadi selembar kain yang kemudian dijual kepada wisatawan yang berkunjung. Tanpa regenerasi karena kaum muda lebih tertarik mengisi waktu memainkan tombol-tombol mesin daripada menggoyangkan kayu mengikuti irama gemericik air sungai yang sesekali memecah kesunyian kampung. Sehelai kain sepanjang 3-4meter bisa diselesaikan dalam jangka waktu 3 minggu. Sampai kapan mereka akan bertahan ?

penenun toraja

Tak terhalang usia

Ada kejadian lucu, ketika kemenakan nenek Butung yg juga sudah berusia 70th mengenali tas yang dikenakan oleh seorang teman terbuat dari kain tenunan Toraja sementara si empunya tas tidak tahu menahu asal muasalnya. Tas selempang itu dibeli di salah satu mall besar di Jakarta. Kain tenunannya telah berubah wujud oleh kreasi tangan orang luar (karena tidak ada brand jadi gak ketahuan buatan mana). Andaikata suatu waktu hasil karya tersebut diklaim sebagai buah tangan orang luar, apakah kaum muda baru akan tergerak angkat bicara untuk ikut euforia? Ironis

Saat kaki melangkah untuk meninggalkan kampung adat, teriakan dari warung souvenir di depan pintu masuk membuyarkan tanya yang berenang-renang di alam pikiran. Ada retribusi tempat wisata yang harus dibayarkan, ditodong saat hendak mau pulang rasanya seperti masuk perangkap ya. Kejadian 2 tahun lalu saat berkunjung ke Lemo terulang kembali dimintain bayaran ketika hendak beranjak dari lokasi. Saya gak mempermasalahkan nominalnya tapi caranya itu lhooo, kalau orang dari luar yang tidak tahu menahu tata cara tersebut apa gak tersinggung? Potongan karcis sebagai bukti bayarpun tidak ada karena alasan habis, dan di meja memang hanya tersisa segepok karcis untuk wisman (=wisatan mancanegara) yg tarifnya dibedakan.

Saya diminta untuk mengisi buku tamu (ini sih biasa ya di semua lokasi wisata) tapi ballpoint untuk menulis tidak tersedia. Gimana nih ? Masa sebulan lebih tidak ada yg berkunjung ke sini ? (lirik buku tamu yg diisi sampai 21 Nov 2010, karena dibawahnya dicoret oleh turis Jepun)

wisata toraja

Buku tamu di To’Barana

Saran buat pengelola tempat wisata & para sesepuh yang duduk di kursi panas :

  • pengunjung membayar HTM di pintu masuk bukan ditagih saat hendak keluar dari lokasi wisata
  • karcis retribusi untuk masuk kawasan wisata tersedia di setiap loket (2 tahun lalu saya hanya kehabisan karcis di Lemo, tapi tahun ini di semua lokasi wisata tidak tersedia dengan alasan belum dicetak)
  • jika membuat kegiatan mohon informasinya jelas kapan/dimana/waktu pelaksanaan, jangan tanggung-tanggung kalau perlu sebarkan flyer kegiatan di semua tempat strategis : hotel/penginapan, tourist service, restaurant/rumah makan, tempat wisata dll

Rantepao, 2 Januari 2011
Tabe’ indo’ tabe’ ambe’ . Walau dalam tubuh ini mengalir deras darah asli Toraja, saya gak berani untuk ikut-ikutan membeli dan mengenakan kaos  I Love Toraja. Selain karena bahannya kurang nyaman di bada, saya sadar belum berbuat banyak untuk Toraja selain tukang protes dan ikut sumbang saran untuk para sesepuh yang duduk di kursi panas.  Cinta tak sebatas kata khan ? saleum [olive].