Tags

, , , ,


Aku telah membunuh 399 kecoak, Immaculée akan menjadi yg ke 400. Jumlah yg bagus ! bunuh kecoak² .. bunuh ular² Tutsi ! teriak gerombolan milisi ekstrimis Hutu yg dikenal dengan nama Interahamwe (=mereka yg bersama-sama menyerang) dalam membantai orang² Tutsi dan Hutu moderat pada tahun 1994.

IMG_8387e

Left To Tell adalah kisah hidup Immaculée Ilibagiza yg selamat dari kejaran Interahamwe dengan bersembunyi selama 91 hari di dalam kamar mandi kecil berhimpit bersama 7 wanita sebangsanya di rumah Pendeta Murinzi seorang Hutu. Suatu perjuangan bathin untuk melawan amarah terhadap para pembunuh yg tak lain adalah sahabat, tetangga, orang² yg selama ini berhubungan baik dengan keluarganya tiba² berbalik 180 derajat menjadi bejat dan brutal menghabisi nyawa keluarganya.

Perjuangan meredam dendam digantikan dengan uluran kasih kepada si pembunuh yg seharusnya digampar atas kejahatannya, perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan, perjuangan pemulihan hati, mempertahankan iman disaat semua yg dikasihi direnggut secara tidak berperikemanusiaan dan tetap berharap pada satu nama yg punya Kasih dan Kuasa dalam hidup.

Apa yg akan kamu lakukan jika berada pada posisi yg sama dengan Immaculée, ketika mendapat kesempatan untuk bertemu muka dengan seorang pimpinan pemberontak yg adalah pembunuh kejam yg telah menganianya dan menghabisi nyawa ibu dan saudaramu? Mencaci maki, menyiksa atau membunuhnya?

Felicien terisak, aku merasakan rasa malunya. Dia melihatku sesaat, mata kami bertemu. Aku mendekatinya, menyentuh tangannya dengan lembut, dan dengan tenang kukatakan apa yg ingin kukatakan.
“Aku mengampunimu“

Anjritttt !!! the power of love, merinding & termehek2 deh

Kasih itu sabar dan ramah, kasih itu tidak cemburu atau sombong, tidak congkak dan bersahaja. Kasih tidak memegahkan diri; tidak pemarah dan membenci; tidak bersukacita atas kesalahan, melainkan bersuka cita dalam kebenaran. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu , percaya segala sesuatu. Kasih itu abadi selamanya (1 Kor 13 : 4-8).

Kurang lebih 800ribu manusia tak berdosa dari suku Tutsi & Hutu moderat tewas dalam pembantaian etnis di Rwanda selama 100 hari yg dikenal dengan Rwanda genocide 15 tahun silam. Pembantaian etnis Tutsi dimulai pada 6 April 1994 berawal dari terbunuhnya Presiden Juvenal Habyarimana, seorang Hutu yang tengah giat menggalang rekonsiliasi antara Hutu yang mayoritas dengan Tutsi yang minoritas; secara fisik dua etnis itu sebenarnya memiliki segunung kesamaan. Keduanya hanya dibedakan oleh bentuk hidung dan postur tubuh. Kaum Hutu memiliki hidung lebih pesek dan lebih pendek, sedang Tutsi sebaliknya.

Habyarimana bersama Presiden Burundi Cyprien Ntarymira menjadi korban penembakan dalam pesawat. Disinyalir, peristiwa penembakan keji itu dilakukan sebagai protes terhadap rencana ke depan dari presiden Habyarimana yg berencana melakukan persatuan etnis di Rwanda dan melakukan pembagian kekuasaan kepada etnis-etnis itu. Interahamwe memandang manusia sebagai kecoak dan ular yg ditakdirkan untuk dibasmi, karena tak layak hidup berdampingan dgn mereka yg sebelumnya adlah tetangga, sahabat bahkan keluarga.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman,pengharapan dan kasih, dan yg paling besar diantaranya ialah kasih (1 Kor 13:13)

Advertisements