Tags

, ,


Adakah solusi jitu untuk mengurangi benang kusut kemacetan dan pencemaran udara berbiaya murah dengan tekhnologi sederhana tetapi berdampak positif luas?

Peta hijau (Green Map) adalah sistem pembuatan peta yg menampilkan sumber daya lingkungan dan budaya tujuannya untuk meningkatkan kebiasaan hidup yg sehat dan berkelanjutan, membantu warga kota lebih menyadari keberadaan serta berinteraksi dengan sumber daya lingkungan dan kebudayaan. Jaringan  sistem peta hijau dunia dimulai oleh Wendy E. Brawer di New York, Amerika Serikat (1994) dan Marco Kusumawijaya, Jakarta Indonesia (2000).

Peta hijau bertujuan mendorong perubahan gaya hidup, dilengkapi lokasi-lokasi tujuan wisata dalam kota yang mendorong orang bergerak hidup lebih hijau. Lokasi-lokasi tersebut merupakan tempat-tempat yang memberikan bimbingan dan pembelajaran cara-cara hidup yang lebih “hijau”. Penentuan titik-titik lokasi berdasarkan survey dan informasi masyarakat baik individu maupun komunitas. Ada 3(tiga) kategori isi peta : kehidupan berkelanjutan (sustainable living), alam (nature), masyarakat dan budaya (culture & society). Berbekal peta hijau masyarakat dapat mengetahui cara mencapai tempat “hijau” menggunakan transportasi publik, berjalan kaki atau bersepeda yg didukung jalur pejalan kaki & sepeda (heheheh …ini masih susah yak, pedestrian malah banyak yg tergusur jadi tempat buka lapak & tempat parkir)

disarikan dari Jelajah Jakarta (naik transportasi) Hijau

Sabtu ikut kegiatan milis Green Map Jakarta, ketemuan di Hutan Kota Tebet karena agenda awal menikmati hutan Tebet & mengamati burung. karena mengejar jadwal kereta acara di hutan gak banyak padahal blom meng-explore semua kawasan, hanya mutarin pinggiran hutan dan mendengar suara cicit burung di pucuk pohon serta sesekali disela sama warga yg lagi jogging. catatan dari Mas Pandu dari Jakarta Green Monster buat yg ingin mengamati burung : jangan menggunakan baju dengan warna mencolok, jangan menggunakan wangi-wangian, jangan berisik karena hal-hal tersebut akan membuat kawanan burung menjauh.

dari Tebet lanjut ke Salihara dengan kereta ekonomi ac plus kipas angin yg dijendelanya ada tulisan kanji berasa naek kereta di Tokyo **hallah** tapi naek dari stasiun Cawang kena omelan tukang ojek yg merasa ditutupin jalannya takut kehilangan penumpang padahal kereta aja blom lewat.

next destination Salihara, apaan tuh? itu nama jalan yg akhirnya diangkat menjadi nama gedung & komunitas yg menempati Jl Salihara No 16. Gedung Salihara berdiri di atas lahan seluas 3000m2 yg dibangun dengan konsep hijau terdiri atas 3 bangunan : galeri Oval (Marco Kusumawijaya), teater Black Box (Adi Purnomo) & kantor seniman/kurator (Andra Matin). Teater boxnya kereeeen , bisa menampung 250 orang dindingnya berupa susunan bata dicat hitam yg kedap suara dan roof topnya bisa buat open air teater wauwwwww (seperti biasa jadi anak bandel yg manjat sampai green roof top kurator building bareng Endah dan Adi padahal orang-orang touring cuma sampai open air theater). di tempat ini berkumpul Komunitas Salihara yg masih sodaraan sama Teater Utan Kayu, teruss …teruss …ada cafe, ada distro dan librarynya adem asik buat poto-poto.

lagi asik moto, disamperin tante alumni dari KLH “adek-adek dari surat kabar mana?” hahahaha ..common quest.
lagi mo selonjoran pas launching buku Bahasa Pohon Selamatkan Bumi,”ini Olive yang Olive Bendon itu ? catper loe yg menginspirasi & membawa gw ke Sawarna” ouwww makasih
lagi lesehan mau lunch ditanyain mas-mas green map “mbak, sahabat museum ya?” what mesum? hiihiihii kata si mas mukanya sering beredar dan suka lihat di sahabat museum.

Jakarta, 11 April 2009
potonya ada di SINI