Tags

,


Sabtu, 11 November 2006
Sesaat setelah mendapatkan kamar untuk transit semalam di Yogyakarta, saya mengayunkan langkah keluar dari hotel menyusuri jalan Mangkubumi menuju Malioboro menumpang becak yg mangkal di depan hotel. Malam belum begitu larut, jarum jam di pergelangan tangan kanan baru menunjukkan pk 19.15 namun mendung nampak menyelubungi langit Yogya.

Di ujung jalan Mangkubumi, tepatnya di perempatan jalan AM Sangaji – Sudirman – Dipanegara – Mangkubumi terdapat satu tugu yg dikenal dengan nama Tugu Yogya.

Tugu yg dibangun th 1755 ini dalam bahasa Belanda dikenal dengan White Paal (Tugu Putih), oleh sebagian masyarakat Yogya disebut Tugu Pal Putih atau disebut juga Tugu Golong Gilig (Gilig = bulat panjang). Pada tahun 1746 meletus perang saudara antara Sinuhun Pakubuwono II dengan Pangeran Ario Mangkubumi akibat Pakubuwono II mengingkari janjinya untuk memberikan tanah di Sukowati apabila Mangkubumi berhasil memadamkan pemberontakan Adipati Martonegoro menyerbu Keraton Kartasuro.

Perang saudara yg berkepanjangan ini akhirnya berakhir dengan kesepakatan  perdamaian atas bantuan kompeni, yg ditandai dengan penandatanganan perjanjian damai antara Pangeran Ario Mangkubumi dengan Sinuhun Pakubuwono III yg naik tahta menggantikan ayahnya Pakubuwono II yg wafat pada tahun 1749. Perjanjian damai yg ditandatangani di desa Gianti itu dikenal dengan nama Perjanjian Gianti. Dalam perjanjian tersebut, disepakati wilayah Mataram dibagi 2 (dua) : bagian barat untuk Sinuhun Pakubuwono III dan bagian timur untuk Pangeran Ario Mangkubumi.  Pada saat itu juga Pangeran Ario Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan Hamengkubuwono I dengan gelar : Sultan Hamengkubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurahman Sajidin Panotogomo Khafilatolah.

Untuk memperingati rasa kebersamaan raja dengan pengikutnya yg bersatu untuk mendapatkan tanah Mataram, setahun setelah Perjanjian Gianti Hamengkubowono I membangun Tugu Putih.

Menyusuri jalan Mangkubumi menuju selatan, di ujung Malioboro terdapat stasiun utama kota Gudeg yaitu Stasiun Tugu yg saat ini menjadi salah satu stasiun kereta terbesar di Indonesia. Stasiun yg mulai beroperasi pada 2 Mei 1887 ini, pada awalnya hanya digunakan sebagai stasiun transit kereta pengangkut hasil bumi hingga pada 1 Februari 1905 digunakan juga sebagai stasiun transit penumpang.

Karena mengejar waktu, saya gak sempat untuk menikmati arsitektur bangunan Eropa ini dari dekat. Saat melewati stasiun memori berputar ke masa sepuluh tahun lalu, waktu itu dengan muka lusuh bertiga dengan Ruth & Reni duduk menunggu kereta ekonomi untuk pulang ke Bandung setelah nekat luntang – lantung megelilingi Yogya dengan bekal uang di dompet yg pas – pasan. Reni malah sempat menggadaikan cincin hadiah dari Papanya untuk nambah ongkos tiket pulang. Kembali ke kehidupan nyata, malam Minggu kawasan Malioboro ramai dikunjungi pelancong baik wisman maupun mancanegara. Berhubung gak niat untuk belanja – belanji, saya meminta abang becak untuk terus mengayuh becaknya sampai di depan Benteng Vredeburg.

“Pak, tungguin saya di sini ya ! Saya mau mencoba masuk ke dalam benteng.”
“Monggo mbak.”

Setelah basa – basi dengan bapak satpam, saya dibolehkan masuk gerbang tapi hanya sampai batas 200 meter dari patung Sudirman & Oerip Soemohardjo. Penerangan yg tidak begitu terang membuat saya melangkahkan kaki selangkah demi selangkah diikuti tatapan bapak satpam. Tiba – tiba ….

“Mbak, deketin aza patungnya … motretnya dari sini biar lebih terang.” Seseorang menyapa dengan medok jawanya yg sangat kental.

Semakin berani saya melangkah ke dalam benteng karena pak satpam juga adem ayem aza membiarkan langkah saya melewati kursi mereka. Dengan sok akrab, mas – mas yg tadi menegor saya mendekat dan menawarkan diri untuk menemani mengelilingi benteng karena saya bilang belom pernah masuk sama sekali sampai ke atas altar meriam. Sambil berkeliling Mas Yadi, nama si mas² tadi akhirnya berpromosi mengenai acara yg akan digelar Minggu siang di tempat tersebut dan mengundang saya untuk datang. Gayung bersambut nih, artinya saya bisa melihat benteng dari dekat pada malam dan siang hari donk.

Benteng Vredeburg yg dulunya bernama Benteng Rustenburg dibangun oleh Belanda pada tahun 1760 di atas tanah milik Keraton. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk melindungi Residen Belanda yg bertempat tinggal di dalam areal tersebut. Sejak dibangun, gedung ini telah digunakan sebagai : benteng pertahanan 1760 – 1830, tangsi Belanda dan Jepang 1830 – 1945, markas tentara RI 1945 – 1977. Tahun 1985 gedung ini dijadikan Museum Perjuangan dan dibuka untuk umum pada th 1987 dan pada 1992 berganti nama menjadi Museum Benteng Yogyakarta.

Masih dalam areal yg sama, di halaman luar sebelah kiri terdapat Monumen Serangan Umum Satu Maret 1949. Catatan sejarah yg menjadi kontroversial karena para pelaku sejarahnya mempunyai versi masing – masing dalam mengungkapkan peristiwa  bersejarah tersebut.

Serangan yg dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap Yogyakarta -ibukota negara RI yg waktu itu diduduki oleh Belanda bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk melakukan perlawanan. Puncak serangan yg dilancarkan pk 06.00 pada 1 Maret 1949 dipimpin oleh LetKol Soeharto selaku Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III setelah mendapatkan persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Soeharto memimpin langsung serangan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Ventje Sumual memimpin dari sektor barat, sektor selatan dan timur dipimpin oleh Mayor Sardjono, sektor utara dipimpin oleh Mayor Kusno sedang sektor kota dipimpin oleh Letnan Amir Murtono & Letnan Masduki. Pada serangan tersebut, TNI berhasil menduduki Yogyakarta selama 6 (enam) jam, itulah sebabnya peristiwa ini dikenal juga dengan peristiwa “6 jam di Yogya”.

Puas berkeliling di Vredeburg saya melangkahkan kaki menyeberangi Jl Ahmad Yani ke depan Gedung Agungyg berada di depan benteng Vredeburg, gedung ini dulunya merupakan kediaman Residen Belanda dan pada masa Soekarno dijadikan sebagai  Istana Presiden RI semasa Yogyakarta menjadi ibukota negara RI 1946 – 1949.

Pembangunan gedung ini diprakarsai oleh Residen Belanda ke-18 di Yogyakarta Anthonie Hendriks Smissaert (1823 – 1825), didirikan pada bulan Mei 1824 oleh A. Payen arsitek yang ditunjuk oleh gubernur jenderal Hindia Belanda. Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena pecahnya Perang Diponegoro (1825 – 1830) dan dilanjutkan setelah perang itu usai  pada 1832. Beberapa gubernur Belanda yang pernah mendiami gedung ini adalah J.E. Jesper (1926 – 1927), P.R.W. van Gesseler Verschuur (1929 – 1932), H.M. de Kock (1932 – 1935), J. Bijlevel (1935 – 1940), serta L. Adam (1940 – 1942). Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi kediaman resmi penguasa Jepang di Yogyakarta, yaitu Koochi Zimmukyoku Tyookan. Ketika Yogyakarta menjadi ibukota RI pada 6 Januari 1946, Gedung Agung resma menjadi Istana Kepresidenan dan menjadi rumah kediaman resma Presiden RI pertama Soekarno beserta keluarganya.

Di  depan Gedung Agung berkumpul komunitas Jogja Onthel Club (JOC) lengkap dengan beragam sepeda yg diparkir di sepanjang pedestrian, menurut info tempat ini memang menjadi tempat berkumpulnya komunitas bersepeda setiap malam minggu. Saya kembali menyeberangi jalan menemui becak saya yg menunggu di depan benteng Vredeburg dan meminta si bapak untuk ngetem di seberang gedung BI karena saya masih akan mengambil gambar gedung BNI & gedung BI. Tak lupa tentunya berpose narsis di depan BI sebagai bukti malam itu kulilingan di daerah Malioboro. Selesai acara poto – poto, saya kembali naik becak menuju alun – alun muterin belakang keraton, mampir sebentar di salah satu kios souvenir tapi karena dasarnya gak hobby belanja – belanji si mbaknya sewot melihat saya pamit tanpa membeli barang dagangannya. He … he… maap mbak, wong saya emang gak niat belanja koq !

Jarum jam sudah menunjukkan pk 21.30 diiringi gerimis yg turun menyapa kota Yogya, saya kembali duduk manis di atas becak dan meminta si abangnya untuk balik ke hotel karena perut juga mulai kuruyukan. Sampai di hotel, naruh ransel di kamar terus turun lagi membeli “RW (makanan non halal) di tenda masakan Manado. Ododo’eeee … sudah kebayang nikmatnya nih lauk. Mau tahu harganya ? Dengan seporsi nasi komplit plus tumis kangkung bunga pepaya plus setengah porsi RW bayarnya cuma Rp. 5500. Wuiiiihhhhh, takjub !! Naik ke kamar, mandi dulu biar makannya lebih terasa mantap. Karena dah gak terbiasa dengan makanan pedes, setengah mati ngabisin tuh lauk sampai gantian antara menyuap makanan dan minum air mineral dan tentunya pake keringatan walau di ruang ber-AC ha …ha… Pk 24.00 habis makan, nonton sebentar trus molor zzz ….zzzz …

Minggu, 12 November 2006
Pk 05.30 alarm hp berbunyi … bangun, mandi, ambil tripod plus kamera, pamit ke Mamie mau hunting di sekitar hotel sampai Malioboro.  Pk 06.30 mulai menyusuri jalan sekitar hotel terus ke Malioboro, kali ini pake jalan kaki sekalian olah raga pagi. Langit Yogya berwajah muram, mungkin karena semalam hujan gak turun ya ? Pagi² jalan di Malioboro teringat saat gempa bulan Mei kemarin Endang ‘n the gank lagi nyarap di situ. Sejam menyusuri Malioboro akhirnya naik becak menuju Vredeburg sekalian balik ke hotel, tapi ternyata kali ini abang becaknya gak sabaran. Saya minta ditungguin sebentar, ehhhhh …saat balik ke depan tuh si abang udah gak ada. Untung tadi blom bayar hi …hi … baru kali ini deh ditinggalin becak, orang mah ketinggalan kereta yak ?

Pk 08.30 habis sarapan di hotel, berlima menuju pasar Beringharjo … Willy – Mamie Tirta – Dede naik taxi, saya bareng Vicka naik becak. Setelah mutar² sebentar di dalam pasar, saya kabur ke benteng Vredeburg karena belum puas mengambil gambar, lagipula Minggu pagi khan ada acara “Surat Anak Indonesia” seperti yg dikatakan Mas Yadi semalam. Berarti ini ketiga kalinya saya masuk Benteng dalam semalam, saat asik membaca plakat di gedung depan disamperin sama satpamnya disuruh bayar tiket masuk.

“Maaf pak, bukannya acaranya gratis ?”
“Mbak ikutan acara itu, atau mau keliling museum?”
“Saya dapat undangan untuk datang di acara dan kata panitia acaranya gratis.”
“Ooooo …kalo gitu langsung masuk aza mbak.”

Hi …hi… padahal tahu gak, HTM di benteng Vredeburg hanya 750 perak lho ! Murah banget ya, dan dengan harga segitu kita boleh berpuas ria menelusuri setiap sudut. Menghindari kecurigaan pak satpam, saya melangkah ke panggung tempat berlangsungnya acara dan mencari² Mas Yadi tapi gak ketemu. Saat lagi asik mutar sampai ke belakang panggung, ada yg manggil² …gak tahunya si Mas Yadi itu.

Pk 11.00 saya pamit, karena harus balik ke hotel beres² selanjutnya balik ke Jakarta. Called Mamie Tirta yg masih mutar di Malioboro bareng Dede ‘n ngajak pulang bareng ke hotel. Pk 12.30 setelah makan siang dengan gudeg di samping hotel dan membeli 2 porsi babi kecap plus 4 porsi RW di rumah tante Manado yg dalam semalam jadi akrab dengan Mamie Tirta, kita melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.

Bye bye Jogja, saya khan kembali suatu hari nanti untuk menyusuri setiap sudut kotamu.

Advertisements