Tags

, , , ,


Day 01 – Kamis, 17 Agustus 2006
Bertepatan dengan hari kemerdekaan RI yang ke-61 saat upacara peringatan detik² Proklamasi dirayakan di beberapa instansi; rombongan Odyssey menghitung detik² waktu perjalanan ke kota dodol : GARUT.  Bagi saya ini adalah perjalanan yg ketiga ke kota tersebut setelah kunjungan pertama th ‘94 bareng Dede, Tendy, Neng Reny, Ruth & Nani naik ke Cikuray dan yg kedua akhir th ’96 bareng Lia, Teuh Nita, Neng Reny, Nani, Monita & Irma naik Papandayan. Dan setiap ke sana, kita pastinya diajak nginap di rumah Neneknya Neng Reny, makan siang & ‘metik hasil kebun di Samarang truz berendam di Cipanas. Enak banget deh !

Pk 06.30 saya bertemu Mary di halte busway Karet, meleset 15 menit dari perjanjian karena urusan kamar belakang yg harus dituntaskan pagi itu daripada mengganggu di perjalanan. ‘Gak enak ati lihat mukanya Mary yg mengkerut (sayang gak bawa teh botol jadi gak bisa nawarin ha …ha… sorry ya Mar), karena saya tahu menunggu adalah suatu hal yg paling membosankan secara saya sendiri sering banget menunggu orang lain. Jadinya saya sih punya cara sendiri untuk mengusir kebosanan dikala menunggu seseorang yg tak kunjung datang, misalnya nih waktu ‘nungguin tebengan ke Priok beberapa waktu yang lalu; biar gak bete di halte cengok sendirian saya menggunakan waktunya untuk berpusing² di Menteng Pulo. Iseng ? Hmmm … beberapa teman bilang GILAAA !! Ha …ha … bagi saya it’s an excited.

Setelah Eka datang, kita menuju meeting point Masjid Al- Azhar  dengan busway yg pagi itu dipenuhi dengan orang² berseragam korpri dan putih-hitam. Turun di halte Masjid Agung, bertemu dengan Fanni yg ternyata se-busway. Di halaman belakang masjid sudah ada Endang, Adel, Ardy, grupnya Ita-Lenny-Donna yg juga ikutan trip ke Pangandaran Mei kemarin, kenalan dengan Santi yg jadi panitia, berbagi cerita dengan Mas AMGD seputar trip Pangandaran yg penuh kenangan, cipika – cipiki dengan Rany dan Diyas. Setelah semua ‘ngumpul Mas AMGD memimpin briefing disambung dengan doa bersama sebelum berangkat. Total peserta yg bergabung dalam trip kali ini 24 org yg dibagi 3 (tiga) kelompok sesuai jumlah mobil L300.

Pk 07.50 Mas AMGD yg gak bisa join karena ada pekerjaan yg tidak bisa ditinggalin melepas keberangkata kita ditemani Jeng Rany yg juga gak ikut karena lagi nyiapin proyek masa depan (he ..he… sukses ya Jeng, saya tahu lhooo). Helza gak kelihatan karena sakit katanya sih kena cacar air (aduh Jeng, ketularan nyokap ya ? ‘ moga cepat sembuh ya !). Wahhh, mobil kita cukup lengkap dan  legaaa, AC berfungsi dengan baik, ada radio-tape truz ada tipi-na  !! Saya memilih mojok di kanan belakang bareng Kak Mida & Sofia, di bangku tengah diisi Ochie, Adel & Mbak Tuti yg kerja di Amoco Mitshui Cilegon (dengar kata Cilegon, kuping langsung berdiri he ..he..kota tempat berjuang, kota dimana banyak tempaan dilalui ‘tuk jadi pribadi yg tahan banting !. Dan ternyata lagi, teman kerjanya Mbak Tuti yg juga teman aerobic & fitness di KCC dulu adalah temannya Adel. Woalaaa …dunia ini sempit,ya). Duduk paling depan Budi, disebelahnya Diyas yg bela²in pulang dari Aceh untuk suatu komitmen mewujudkan trip Garut Nu Geulis bareng Odyssey Club. Penghuni terakhir : Pak Yanto; orang yg memegang peranan penting mengendalikan laju kendaraaan & membawa kita berkeliling.

Sebelum tancap gas, kita mampir sebentar ke SPBU untuk ‘ngisi bensin … pk 10.30 kita dah melaju di tol Padaleunyi dan berhenti beristirahat di tempat peristirahatan yg ada di pinggir tol. Ada yg antri ke toilet, membuka bekal sarapan bahkan belanja ke Alfamart. Perjalanan kemudian dilanjutkan karena rombongan Santi sudah menunggu di gerbang tol Padaleunyi. Memasuki jalan raya Rancaekek – Sumedang, kendaraan terjebak macet karena ada pawai 17-an dari warga setempat yg memenuhi badan jalan akibatnya beberapa kendaraan nekat menyeberang ke jalur yg berlawanan untuk menghindari kemacetan termasuk rombongannya Santi.

kampung pulo

Odyssey Family, foto bareng di depan gerbang Kampung Pulo, Garut

Candi Cangkuang
Pk 11.30 mobil kita disusul mobil Bang Napi memasuki areal parkir kawasan wisata Candi Cangkuang yg terletak di Kec. Leles. Mobil Santi yg tadi menerobos jalur orang dan melesat duluan malah belum kelihatan. Sambil menunggu rombongan terakhir, terlihat kamera² mulai dikeluarkan dari dalam tas dan tak lama berselang berbagai pose andalan pun dikeluarkan. Setelah semua berkumpul, kita menaiki rakit untuk menyeberangi situ Cangkuang (situ = danau) menuju Kampung Pulo. Karena keberatan, kita pindah ke rakit yg lebih besar dan mulai melaju di atas air danau yg tenang.

Dari kejauhan tampak bangunan candi Cangkuang yg konon dibangun pada abad VIII berdiri kokoh di atas bukit. Di bagian samping candi terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad dari kerajaan Mataran yg menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Di seberang makam terdapat bangunan yg digunakan sebagai museum, sementara di depan gerbang masuk candi terdapat kompleks pemukiman yg dihuni oleh keturunan Arif Muhammad. Di kompleks yg diberi nama kompleks Kampung Pulo tersebut hanya terdapat 7 (tujuh) bangunan yg terdiri dari 6 (enam) rumah & 1 (satu) mushola.

Situ Bagendit
Puas berkeliling di Kampung Pulo, perjalanan dilanjutkan ke Situ Bagendit. Bagendit berasal dari kata Baginda Endit yg konon menurut legenda rakyat yg diceritakan secara turun temurun, dahulu kala di daerah tersebut hidup seorang wanita kaya raya bernama Nyai Endit. Alkisah, pada suatu hari Nyai Endit didatangi seorang pengemis tua meminta belas kasihan namun si Nyai tidak memberinya sedekah karena walaupun kaya raya si Nyai terkenal sangat pelit. Akibatnya pengemis malang itu menangis tiada henti hingga air matanya membendung dan menghanyutkan harta Nyai Endit. Wahhh, banyak sekali air mata si pengemis tua yg malang itu.

Perut mulai kriuk – kriuk minta diisi, Kak Mida menawariku kripik singkong tapi tak bisa kumakan takut gigiku patah (lagi) jadi kuambil susu bantal real good  dan kuseruput sampai habis – bis, aahhh …lumayan :p. Tak satupun rumah makan yg dilewati sepanjang perjalanan ke Situ Bagendit yg sejauh mata memandang tampak gunung menjulang tinggi & hijaunya sawah (yg kata Adel kayak di Toraja ya, Liv !) sehingga hanya mata yg kenyang.

Pk 13.30 kita disambut oleh alunan musik dangdut dari panggung terbuka yg berdiri di pinggir danau. Matahari bersinar dengan garangnya ditambah dengan rasa lapar yg kembali menyerang membuat mata kelayapan ke sana kemari mencari mangsa hi …hi….Woalaaa, walaupun lumayan banyak warung yg buka di sekeliling danau tapi jualannya mie bakso, indomie dan karedok.

Setelah berkeliling, akhirnya bertiga dengan Diyas dan Santi memasuki satu warung nasi yg pertama dijumpai. Diyas dan Santi memilih menu yg sama : ayam goreng yg memerlukan perjuangan untuk menyantapnya plus cap cay, saya mengambil telor balado + tahu goreng dan sayur cap cay. Lumayan, dengan 3000 perak bisa mengisi perut sambil duduk di saung ditemani semilir angin. Tapi, biarpun udah makan rasanya masih ada yg kurang (kurang banyak ha…ha….) sehingga di mobil Kak Mida melampiaskannya dengan menghabiskan sebungkus kripik singkong (lagi) dalam sekejap ck..ck..ck….

Selesai makan, saya menyusul Adel – Eka – Elvi – Endang – Endul – Mary – Kak Mida yg sudah duduk manis di dalam kereta mini. ‘Gak lama Budi – Fanni – Sofia ikut bergabung sehingga kita umpel – umpelan di gerbong tengah. Dari pada turun ke danau yg panas, seruan naik kereta sambil membayangkan menjadi boneka yg menari² di Istana Boneka Dufan. Dengan membayar tiket Rp 3000, kereta yg seharusnya berkeliling 3 putaran akhirnya berhenti di putaran ke – 2½  bukan karena bannya kempes tapi ‘nyangkut di rel. Udah gitu nyangkutnya pas di depan gerbong kita ha … ha… keberatan euy !!

Puas berpanas – panas ria kembali ke mobil mengademkan diri sambil menunggu Mbak Tuti & Mbak Juju yg gak muncul² padahal kita dah mau cabut. Setelah disusulin oleh Ardy, Diyas dan Santi mereka akhirnya ditemukan lagi ngendon di mushola. Pk 15an rombongan meninggalkan Kec. Banyuresmi menuju Cipanas tempat kita akan menginap selama di Garut & sampai di penginapan pk 16.30.

Setelah pembagian kamar dan menurunkan bagasi bareng Adel, Eka, Elvi, Endang, Endul, Fanni, Mary dan Sofia, kita kabur ke kota naik angkot mencari makan! Nih perut masih menuntut bagian sehingga habislah tuh sop kaki sapi, gule, sop sayur kacang, ikan asin dan tentunya apapun makanannya muinumnya teh botol sosro hehehe. ‘Gak sampai sejam, kita dah balik lagi ke penginapan untuk mandi dan kembali ngebayangin ntar malam makan apalagi ya?? Setelah mandi, berkeliling di Kampung Sumber Alam menghabiskan memory card di beberapa lokasi.  Puas poto – poto, pintong mencari tempat untuk ‘nongkrong tentunya makan donk !! Malam itu, saya memesan semangkok sop ayam & segelas bandrek , Adel seporsi sate ayam, Endang memesan sate kambing, Endul – Mary – Ita – Donna & Lenny makan siomay, sementara Elvi cuma minum air jeruk hangat.

dodol garut

Mengentaskan rasa lapar di kota dodol, Garut

Pk 22 city tour ke Garut, udah semangat ngebayangin bakal makan roti bakar ditemani segelas bandrek eeehhh …saat melewati tempat jajanan mobil depan yg jadi leader malah gak brenti. Ahhhh, gak aciiikkk …. tahu gitu khan kita lama²in aza nongkrong di café daripada ‘ngabisin bahan bakar hanya buat mutar² 10 menit di Garut dengan mobil yg melaju kencang.  Kembali ke penginapan, semuanya masuk kamar ‘ngobrol sana – sini dan berlayar deh ke pulau kapuk. Pk 23 lampu kamar sudah dimatikan, Diyas sms ‘nanyain posisi … yaaa Diyas gak bilang kalo mo begadang, tahu gitu khan saya ikutan nongkrong.

Day 02 : Papandayan Trip
Day 03 : Kampung Naga

Advertisements