Tags

,


Sabtu sore 15 Juli 2006 sekitar pk.16, saya melangkahkan kaki ke Lapangan Banteng sambil tengok sana sini diantara kerumunan manusia mana tahu ada yg dikenal. Debu berterbangan membuat lokasi yang digunakan untuk Festival Jajanan Bango dipenuhi gumpalan awan debu.

Satu dua orang ada yg lewat di depan terlihat mengenakan masker. Saya menghampiri antrian pengunjung yg hendak membeli kupon sambil sms Endang menanyakan posisinya dimana ? ‘Gak lama, dia telpon ngasih tahu bahwa dia sudah masuk tapi ada jeng Tiwi di antrian kupon. Saat lelepon dengan jeng Tiwi orangnya gak keliatan dan gak ketemu sampai pulang dari sana. Antrian gak bergerak sama sekali, koq posisinya jalan di tempat ya ? Tiba – tiba dari arah depan muncul Bing dan Helvi yg kaget melihat antrian segitu panjangnya, sehingga ‘nitip antri he ..he..

Di tengah antrian ada yg ‘negor,”Halooo mbak, yg waktu itu bareng ke Priok khan?”
“Hai, anak Batmus ya?”
Woalaaaa …dari tadi ketemunya Batmus member, janjiannya juga dengan Batmus. Lagi asik ngobrol sms dari Ibeth teman Odys masuk,”Liv, aku di lapangan basket kamu dimana ? Ke sini donk say, aku alergi sama debu!”

Saya keluar dari antrian dan pamit ke Bing mau ketemu dengan teman sebentar, sore ini memang sengaja janjian ma Ibeth untuk ambil tiket konsernya C-Choir. Saya menemui Ibeth di lapangan basket yg datang bersama Mama, adiknya serta Irma dan Mama mertuanya Irma. Begitu ketemu, saya dititipin tiket untuk dijual !! Irma, senyam – senyum lihat kelakuan Ibeth.

Selesai dengan urusan pertiketan saya balik ke gerbang Bango untuk menemui Bing, setelah sebelumnya saya info untuk membatalkan pembelian kupon dan minjam punya Endang ‘n the gank aza. Tanggung karena tinggal 5 (lima) orang di depan, Bing tetap membeli kupon namun setelah kupon di tangan panitia berkoar – koar dari pengeras suara,”Bapak – bapak, ibu – ibu kami dari panitia dan unilever mohon maaf atas ketidaknyamanan antrian pembelian kupon, untuk itu pembayaran dapat dilakukan dengan cash.

“Wuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!” Teriakan pengunjung yg sudah pegel antri ditambah adu mulut dengan penjual kupon menggema. Saya gak kalah kencangnya ikut berteriak, gilingan 30 menit antri ditengah debu dengar pemberitahuan begitu apa gak kuesseeeel ? Gak hanya sampai disitu, saat mau membelanjakan kupon bareng Eka PWC sate Padang yg kita incar sudah habis, trus ganti antri di tukang es cincau gelasnya habissss lagi belii (entah kemana), balik ke mejanya Endang, Endul ‘nawarin kue lupis untuk mengganjal perut. Untuk menghalau rasa haus, akhirnya ke stand Sariwangi beli segelas es teh manis. Mutar² mencari stand yg kira² rada sepi malah ketemu bos Adep & Melza yg baru datang. Trus kita putar² bareng menghampiri rombongannya grup oranye di pintu masuk.

Setelah ngobrol sebentar Adep & Melza memisahkan diri, saya beli sekotak nasi kuning karena sudah honger bonger trus kita pindah tongkrongan ke lapangan basket karena di dalam sudah sangat berdebu dan sepatu pun sudah gak kelihatan warnanya. Lagi asik makan, tiba – tiba Adel mengenali seseorang yg duduk di belakang kita sebagai temannya dan hayyyyaaahhh ketemuan nih yeee. Jadi ingat, lapangan ini khan memang dulunya menjadi tempat orang untuk ber-rendezvouz or mejeng di kawasan elite Weltevreden.

Weltevreden adalah kawasan elite di Batavia; batas Weltevreden th. 1787 : utara Jl. Pos& Dr Sutomo, timur : Gunung Sahari & Jl. Ps. Senen, selatan : Jl. Prapatan dan bagian barat dengan kali Ciliwung.

Lapangan Banteng yg dulunya dikenal dengan nama Waterlooplein, pada abad 19 dikenal dengan nama Paradeplaats or Parade Square karena di lapangan inilah tempat dilangsungkannya parade militer. Th. 1828, di tempatnya monument Dwi Kora sekarang, dibangun monument untuk mengenang kekalahan Napoleon di perang Waterloo yg dipuncaknya terdapat patung singa kecil yg menyerupai anjing puddle kecil, sehingga tempat ini pun disebut Leeuwinplaats atau Lion Square. Sekitar th. 1820-an di lapangan ini sering berlangsung parade berkuda yg menjadi arena untuk mejeng, dimana para lelaki akan menunggang kuda dengan pakaian kebesaran dan para wanita duduk di atas kereta kuda mengenakan gaun.

Selesai makan, episode poto – poto dimulai … tripod pun dikeluarkan untuk memudahkan berfoto bersama yg kata Adel ceritanya kita lagi jalan² di Eropa. So, biar lebih sip posisi diputar dan mengambil latar belakang katedral.

Bangunan katedral yg bergaya neo gothic dirancang oleh MJ. Hulswit dibangun th 1891 – 1901 pada masa pemerintahan gubernur Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Ghisignies. Pemberkatan dilakukan pada 16 Januari 1899, dan diresmikan pada 21 April 1901 dengan nama De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten Hemelopneming (Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga).

Puas berfoto ria, kita bergerak untuk pulang karena malam sudah larut dan besok pagi² beberapa diantara kita berangkat pagi ke Lenteng Agung untuk acara genjotsepeda bareng di hutan. Emang ini tempat pertemuan, si Endang ketemu dengan Igo teman Jalan Bebas-nya waktu ke Yogya kemarin. Jalanan di depan macet, sehingga diputuskan untuk berjalan kaki ke arah Gambir trus muncul ide gila untuk befoto dengan Pak Polisi yg sedang mengatur lalu lintas di pertigaan sambil bertelepon ria. Untung ide gilanya Endul, gak diikutin sama yg lain karena pasti para pengendara akan melancarkan aksi protes.

O,ya di pertigaan Jl. Perwira (Willem Laan) dan Jl. Lapangan Banteng, dulunya ada monumen Michiels yg dibangun sekitar th. 1853 – 1855 untuk menghormati Major General Andreas Victor Michiels, komandan militer West Sumatera yang memimpin pasukan Belanda dalam ekspansi ke Bali. Michiels meninggal pada 23 Mei 1849 dan dimakamkan di kuburan militer Tanah Abang.

Saat mau menyeberang ke arah hotel Borobudur, dari kejauhan saya mengenali seseorang sebagai salah satu instruktur di Vista Fitness. “Dul, itu bukannya teman Vista loe !”
“Haaiyayaa, itu khan Elli !”
‘Gak berapa lama, Endang mundur ke belakang menghampiri seseorang yg diyakini sebagai sobat lama yg tlah lama tak bersua. Jadi, malam ini Waterlooplein menjadi tempat kita bertemu dengan para sahabat dan kenalan ya !

Setelah berpose sejenak di depan hotel Borobudur, kita berjalan ke arah Pedjambon yang terkenal dengan legenda Nyai Dasima – Betawi era th. 1820-an

Alkisah Nyai Dasima adalah istri simpanan Edward Williams yang parasnya elok sehingga menarik hati Samioen, seorang Baba (keturunan Tionghoa) untuk menjadikannya sebagai istri. Samioen mengupah seorang jawara bernama Poease untuk menghabisi Dasima dan membuang mayatnya ke kali Ciliwung.

Melewati Gedung Pancasila, saya nawarin untuk masuk tapi yg lain ragu melihat barisan satpam yg lagi ngobrol di depan. Karena pada gak mau, akhirnya kita melanjutkan perjalanan.

Volksraad (sekarang Gedung Pancasila) dibangun pada th. 1830 oleh Ir. Tromp yang nama panjangnya : Tuan Injenieur der 1e Klasse van de Civiele Gebouwen en Werken Tromp atas perintah du Bus untuk membuat tempat kediaman resmi komandan angkatan bersenjata.

Tak jauh dari Volksraad berdiri Willemkerk (Gereja Immanuel) yang megah, hatipun tertarik untuk mampir mumpung lewat di depannya. Okee, kita coba peruntungan malam ini. Eka PWC menghampiri sekelompok pemuda Ambon yang sedang ngobrol di depan pos satpam meminta ijin untuk masuk. Melihat gak ada tanda² atau reaksi yang menunjukkan mereka mengijinkan kita masuk, saya pun maju. Diluar Endang bisik²,”Bilang aza, kita nganter Olive mau berdoa.”

“Malam,pak … boleh gak saya minta ijin untuk masuk dan mengambil beberapa gambar gereja ?”
“Untuk apa,ya?” Bapak Ambon memandang saya dengan tatapan penuh selidik.
“Begini pak, bangunan ini khan bangunan bersejarah secara kebetulan kami lewat disini maka kami sangat tertarik untuk melihat bangunannya.”
“Dari mana dan untuk apa ?”
“Kami adalah sekelompok pecinta bangunan tua,dan gambarnya pun untuk dokumentasi pribadi.”
“Hoii bung! Kasini sabantar !” Bapak Ambon memanggil seorang temannya yg sedang bermain catur di sebelah pos satpam, mengingatkan saya dengan Pak Leo Lawa di Serang.
Setelah si bapak yg juga Ambon tapi beruban mendekat:
“Ini ada yang mau minta ijin melihat² gereja, boleh kah?”
“Untuk apa, dan darimana?” Aduhh bapak, tadi pertanyaan yg sama sudah saya kasih jawaban. Tapi demi menghargai si bapak saya tetap menjawab pertanyaannya. Si Bapak kelihatan mikir² sebentar sampai akhirnya membolehkan saya masuk.
“KTP-nya dititip ya!”
“Bung, antar mbak ini masuk!” Saya mengeluarkan KTP dan menyodorkan ke si Bapak Ambon yg beruban. Saya menengok ke arah gerbang dan memberi kode kepada Endang, Endul, Eka KDI dan Adel untuk masuk.

“Lho ! Koq rombongan, bukannya sendirian?”
“Kita cuma berenam koq pak, mereka teman – teman saya.”
Saya kembali meyakinkan si Bapak, bahwa kita hanya akan berfoto sebentar di luar dan gak perlu masuk ke ruang gereja karena hari sudah larut malam.

Th. 1832, Umat kristen Reformasi & Lutheran sepakat untuk membangun satu gereja di daerah Pedjambon; maka pada th.1834 mulailah dibangun sebuah gereja yg dirancang oleh JH Horst dan diresmikan pada th.1839 dengan nama Willemkerk untuk menghormati usaha WIllem I dalam mempersatukan umat kristen Protestan. Th. 1948 gereja berdiri sendiri menjadi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel. (Immanuel : Tuhan beserta kita). Di dalam gereja, masih terdapat orgel pipa raksasa yang dibuat oleh J. Bätz pada th.1843 dan masih berfungsi sampai sekarang.

Lagi seru – serunya berpose di depan gereja, Eka PWC menunjuk ke arah kanan,”Eh, yg disana kayak mobil jenazah ya?” Serentak pada noleh ke arah kanan dimana di kejauhan memang terdapat kijang putih yg lagi parkir.

willemkerk

Pose dulu di Willemkerk

“Udahan yuk!”

Buru – buru saya menggulung tripod dan mengikuti langkah yg lain ke arah gerbang belakang. Jadi teringat history masa penjajahan Jepang sekitar 1942 – 1945, Willemkerk khan difungsikan sebagai tempat penyimpanan abu jenazah tentara Jepang yang meninggal di pertempuran. Iiiiiiihhhhhhh, merinding ngebayangin kalo tiba²ada penampakan. Setelah mengambil KTP dan pamit ke Bapak Ambon beruban yg lalu memperhatikan saya dengan seksama (pasti tadi dia baca jati diri saya), kita berpisah di depan stasiun Weltevreden. Adel, Endang dan Endul naik bis ke jurusan Rawamangun, sementara saya bersama duo Eka menunggu bis arah Blok M dengan menyeberang ke depan stasiun Weltevreden atau sekarang dikenal dengan nama Stasiun Gambir.

Nama Gambir konon berasal dari nama Kapitein Cambier yg dulu ditugaskan oleh Sir Stamford Raffless th. 1811 – 1816 untuk memikirkan cara menghidupkan dan memajukan perdagangan dengan melibatkan masyarakat di Batavia. Si Kapitein Cambier lalu merealisasikan idenya dengan menyelenggarakan pasar malam (pekan raya) di lapangan Koningsplein (sekarang Lapangan Monas). Pasar malam ini kemudian dikenal masyarakat dengan nama Pasar Gambir yang berlangsung selama sebulan.

Pk. 20.35 bertiga kita naik Mayasari Bhakti 926 jurusan Senen – Blok M, pk. 21.00 duo Eka turun di fly over Karet, saya turun di halte Karet menyeberang jembatan penyebrangan dan melanjutkan perjalanan dengan naik Bemo dari Pasar Bendhil menuju kost tercinta.