Tags

, ,


Ulang tahun Jakarta, enaknya kemana ya ??

Sabtu rencana awalnya mau meliput pertandingan futzal di the Balls Bintaro (ciyeee ..sok jadi photographer-nya Gapura), tapi koq malas banget ya jalan ke sana. Kemarin janjian mo nemanin Meisy, apa daya lebih berat untuk bermalas – malasan di kost setelah acara cleaning day.

Menjelang siang kost mulai sepi, dari semalam hanya saya seorang penghuni yg tersisa di lantai atas : Lisa dijemput Mamanya pulang ke Bandung karena cacar air, Ellen menurut info dari Mbak Lastri lagi ada acara kantor di Puncak, Mbak Rien tadi pagi pulang ke Bogor, Nina kayaknya masuk kerja karena dari pagi gak ketemu, Vicka yg dari pagi ngajak sarapan bareng sudah berangkat ke PGC (=pusat grosir Cilitan yg selalu aza saya bilang Pulo Gadung Center he..he..) terus Mbak Tri habis beres² seperti biasa ke Danau Limboto bantu² di rumah ibu kost.

Pk. 12.30 akhirnya keluar juga dari rumah, tekad sudah bulat untuk melihat pameran foto hasil karya Edvard Koinberg “Herbarium Amoris a tribute to Carl Linnaeus”. Tak lupa mampir makan siang di Bopet Uni, lanjut beli battery buat kamera ke Ambasador secara hari ini ada yg promosi. Walau belinya cuma 1 item, mau gak mau mesti ikutan antri di kasir sambil hai – hai’an dengan para kasir yg dulu sering tak kerjain (maaf ya ‘Pong, anak² loe dulu suka dijailin tapi jadinya mereka malah dekat dengan gw). Setelah urusan transaksi selesai, saat mau ambil tas ngobrol bentar dengan Pak Widi yg on duty. Dari Ambasador naik 44 sampai Karet terus ‘nyambung dengan busway sampai Monas. Dikarenakan kelamaan ngantri di Ambas, saat sampai di Museum Nasional atau sering disebut Museum Gadjah; pak satpam bilang “Sudah tutup mbak! Jam buka sampai pk. 13.30.”

“Tapi pameran foto tetep buka khan pak?”
“O,ya …masuk aza mbak, belok kanan ya.”
“Makasih pak.” Sambil tak lupa menebar senyum buat pak satpam yg hari itu sangat ramah. ‘Gak masalah gak bisa keliling museum, toh saya sudah pernah masuk ke sini.

Museum Nasional didirikan oleh Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Seni dan Sains Batavia) yg dibuka pertama kali pada tahun 1868. Dikenal juga dengan Museum Gadjah dikarenakan di depan gedungnya terdapat patung gajah kecil berwarna hijau pemberian Radja Chulalongkorn dari Siam (Thailand).

Nah, Herbarium Amoris sendiri adalah rangkaian kegiatan Festival Musim Panas kedutaan Swedia di Jakarta, kegiatan lainnya adalah festival film Swedia , Pekan Makanan Swedia, seminar informasi & teknologi serta kunjungan ke kapal Götheborg yg minggu lalu didatangi bareng rombongan Batmus.

monumen nasional

Pandangan ke sisi barat Monas

Puas melihat pameran, sudah menjadi kebiasaan yg tak dapat dilepaskan apalagi kalau bukan berfoto sana – sini di luar gedung sampai pak satpam pun bertanya,”Wartawan dari mana mbak?”
Gapura pak!” Nah lhooo … koran mana tuh ? He..he…

Pk. 15.30 mengayunkan langkah ke arah Monas tapi mengambil arah dari depan Istana Merdeka dan digodain sama pak polisi yg mau berangkat tugas. Hallaaah, bapak beraninya kalo bertiga, coba sendirian pasti diem.

Lapangan Monas yang konon adalah lapangan terluas di dunia, dulunya dikenal dengan nama Buffelsveld ato Buffalo Field ato Lapangan Kerbau karena merupakan tempat untuk menggembalakan kerbau dan ternak.Oleh Daendels diberi nama Champ de Mars, untuk menghormati kemenangan Prancis menaklukkan negeri Belanda dan dijadikan pula sebagai lapangan parade dari kesatuan artileri. Lalu berganti jadi Koningsplein (Lapangan Raja) yg dikalangan masyarakat Jakarta sendiri pada tahun 1930-an disebut Lapangan Gambir karena adanya kegiatan Pasar Gambir yg diadakan setiap tahunnya. Ketika Jepang menduduki Batavia, lapangan ini berganti nama menjadi Lapangan IKADA (Ikatan Atletik Djakarta). Tanggal 17 Agustus 1961 dilakukan pemancangan tiang pertama pembangunan Tugu Monas oleh Soekarno jadilah sampai sekarang dikenal dengan nama Monumen Nasional (Monas). Di dalam tugu Monas terdapat Museum Sejarah Nasional dimana kita bisa melihat diorama asal mula nusantara, riwayat perjuangan bangsa Indonesia dan yang paling anyar info box trans Jakarta alias busway.

Ini kali kedua saya berkeliling sampai ke tugu Monas setelah Februari 2005 kemarin sempat ikut PTD bareng Sahabat Museum, sebelumnya pernah juga jogging pagi dan ikutan aerobic di halaman Monas tapi gak pernah masuk sampai ke puncaknya.

Diorama perjuangan kemerdekaan Museum Sejarah di Monas

Diorama perjuangan kemerdekaan Museum Sejarah di Monas

Untuk sampai ke puncak Monas, dikenakan biaya sebesar Rp.5100 /kepala (untuk dewasa) entah kenapa mesti pake angka 100 perak tapi saat saya kasih pecahan 500 gak dikembalikan sama mbak penjual karcis. Antrian panjang terjadi di depan pintu lift yang akan membawa pengunjung ke puncak untuk menyaksikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Lift-nya cuma satu dan dipakai bergantian untuk mengangkut penumpang naik dan yang turun. Menurut info dari bapak penjaga pintu, kalau hari Sabtu dan Minggu biasanya pengunjung mesti antri selama 2 (jam) sampai mendapat giliran naik, tapi hari ini pengunjung tidak terlalu ramai jadi saya kebagian antri 30 menit saja. Akhirnya,”Maaaakkkkk, aye naek Monas !!”

monumen nasional

thanks to tripod😉

Hari semakin sore, pelancong pun semakin ramai mendatangi Monas … dan sore ini Monas diramaikan dengan permainan layang – layang. Puas berkeliling, sempatkanlah untuk cuci mata di dekat lapangan parkir sekedar untuk beli cinderamata or jajan bakso, atau bisa juga berkeliling Monas naik sado.

Itulah cerita perjalanan saya hari ini, tunggu hasil jepretannya yaaa!! Besok acara akan dilanjutkan dengan kunjungan kedua ke kapal Götheborg bareng Nanis – Alice – Endang serta pintong ke Setu Babakan.

Slamat malam Jakarta ! 24 Juni 2006 pk. 21.35