Tags

,


pak kecipak kecipung suara gendang bertalu – talu,pura – pura bingung…

eitzzz …tar dulu, itu bukan suara gendang tapi cibak cibung suara air di kamar mandi. Dengan mata masih terpejam tangan meraba – raba mencari hp dibalik bantal, jam berapa ya ? Haaaa .. baru pk 03 lewat tapi Arien udah mandi ? Bukannya semalam dia mandi tengah malam sehabis ngider di pantai ? Ckckckck … rajin kali tuh anak, sementara di samping saya, Ria masih tertidur pulas begitu juga Intan di ranjang seberang masih terlelap.Dari kamar sebelah terdengar suara air mengucur dari kran yg dibuka, biarlah mereka mandi duluan saya mau bobo’ lagi ahhh, berangkatnya pk. 05.00 ini :p

Pk. 04.45 setelah mandi dan beres² ransel serta traveling bag dipindahkan ke kursi depan biar gampang ngangkut ke mobil. Beberapa teman asik menikmati sarapan di depan kamar yg dibeli dari ibu² penjual makanan yg pagi itu teriak² di setiap pintu yang terbuka. Saya membeli sebungkus nasi kuning yg langsung dihabiskan dalam sekejap (biasanya sih paling gak bisa makan nasi subuh²). Habis makan, ‘nawarin yg masih pada di kamar mau beli sarapan apa nggak ? Mumpung ibunya masih ada nih ! Pikir punya pikir, saya khan belum ‘nabung pagi ini …kalo ntar isi perut sudah dibuang, pasti lapar lagi deh. Jadi, saya beli lagi 2 bungkus nasi kuning : satu buat Ria yg masih mandi, satunya lagi buat saya donk he ..he..

Pk 05.00 … “Ayo teman² yg sudah beres silahkan naik ke mobil!” suara Mas AMGD memecah keheningan pagi. Setelah semuanya masuk mobil, perlahan tapi pasti kita meninggalkan penginapan menuju Goa Donan. Subuh² gitu lho, teringat kalo pulkam naik bis malam dari Makassar antara pk. 05.00 bis berhenti di daerah Puncak untuk beli oleh² sebelum sampai di kampuang nan jauh di mata. Selama 3 hari perjalanan Jakarta – Pangandaran ditambah kulilingan di daerah Ciamis dan sekitarnya; baru kali ini kita mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar, langsung diisi full tank 40liter = Rp. 172.000 (pakenya solar sih, makanya irit).

Gua Donan

Gua Donan, desa Tunggalis kecamatan Kalipucang – Ciamis

Pk. 05.45 kita sudah berada di depan gerbang Gua Donan yg masih sepi dan sepertinya belum ada yg berkunjung selain kita. Iyalah ! Secara hari masih gelap, penghuni guanya aza masih asik bermimpi kali terus yg patut dicatat kita memecahkan record sebagai pengunjung yg datang paling pagi ke Donan !

“Memang disini kita melihat apa sih ?” terdengar bisik² diantara rasa kantuk yg masih tersisa.
“Gua.”

Tiba – tiba ada seberkas cahaya di atas mulut gua o..ouww..penampakan kah ?? Eh, ternyata itu emang lampu buat penerangan gua yg sengaja dinyalakan sama bapak penjaga. Gak lama kemudian muncullah bapak penjaga yg kelihatannya baru bangun tidur, mengajak kita untuk masuk. Hanya sebagian yg masuk karena beberapa balik ke mobil melihat gelapnya gua, disamping itu karena guanya menebarkan aroma yg kurang sedap di hidung ada yg gak tahan sehingga mengurungkan niatnya untuk masuk. Gua Donan adalah salah satu gua alam yg terdapat di pinggir jalan propinsi Ciamis – Pangandaran yg sering juga disebut gua kelelawar karena dihuni oleh ratusan kelelawar. Saya masuk paling belakang setelah Mas AMGD, teman² yg sudah duluan dipandu oleh bapak penjaga gua. Aroma yg menyebar dari dalam gua yg bersumber dari kotoran kelelawar menyengat hidung, aduhhh pagi² sudah harus menghirup udara yg tercemar :(.

Gua Donan

Subuh-subuh masuk gua

Untuk menghalau bau, terpaksa hidung ditutup rapat² (sesekali menahan napas) dan berusaha menghindar dari tetesan air yg jatuh dari atas langit² gua (gak tahu khan si kelelawar iseng pipis or beol di atas kepala ihhhh). Setelah foto keluarga di mulut gua, kita kembali ke mobil dan menunggu beberapa teman yg pagi² sudah antri ke toilet. Puas berfoto² di depan tangga, perjalanan pun dilanjutkan dengan tujuan Astana Gede. Setelah mampir sebentar di bengkel yg berada di pinggir jalan, kendaraan memasuki areal parkir yg kayaknya gak asing. Lho!! Ini kan Karangkamulyan, emangnya kita mau ke Ciungwanara lagi ? Kesempatan dunk, kemarin saya gak sempat ‘motret gerbangnya karena tertutup kendaraan yg parkir di depan. Tiba² perut mules olala baby, it’s the time … jadinya lari² ke toilet dan setelah semua urusan belakang selesai aaaghhhhhhhh leganya. Abang yg jaga toilet sampai senyam – senyum melihat saya melangkah keluar dari toilet, tak hitung²gak sampai 10 menit koq he ..he…

Sehabis terguling

Sehabis terguling

Balik ke warung (eh, warung yg sama tempat kita minum es kelapa muda kemarin dengan teman² yg sama pula, apa sih ?) saat mau pesan indomie rebus teringat masih ada bungkusan nasi kuning di mobil yg harus dihabiskan yg sebelum masuk ke perut, di foto dulu sampai ada yg nyeletuk ‘ngapain sih pake difoto segala ? Ini buat dokumentasi makanan apa yg masuk ke perut saya pagi ini :p. Buat teman makan nasi tak lupa memesan segelas susu hangat, minuman wajib yg selama 3 hari ini absen masuk dalam daftar menu makanya gitu melihat ada susu encer sachet langsung dipesan.

Saya perhatikan sebagian besar pada pesan pop mie terkecuali Ibeth yg makan coco crunch, Yanti & Mom makan karedok, Helza memesan soto yg kelihatannya kayak bubur ayam, Mas AMGD makan pepes, saat akan masuk ke mobil perut masih merasa lapar (aduhhh, ini perut apa perut ?) apalagi waktu lihat pesanan indomie rebusnya Henry procon datang. Hmmmm..keknya nikmat juga tuh !

Setelah semua selesai makan, kita kembali ke mobil masing² dan melanjutkan perjalanan disertai bapak local guide yg sebenarnya tujuan awal mampir ke Karangkamulyan untuk menjemput si bapak. Di dalam mobil semua asik berbagi cerita; walau menyimak obrolan pagi itu pikiran saya sebenarnya rada kalut karena mendapat berita gempa dari Yogya dan saya belum bisa kontak dengan my younger brother yg ada di sana tapi dibawa tenang kek gak ada apa – apa (bukankah aslinya memang begitu ?).

Sepanjang jalan ketawa – ketiwi dengerin celotehan Ibeth yg tak pernah kehabisan bahan. Belum banyak kendaraan yg lalu lalang, sekali² mata saya memperhatikan Pak Rizal yg membawa kendaraan dengan tenang. Tiba² di salah satu tikungan beliau berteriak,Astaghfirullah, mobil belakang terbalik! Satu per satu penumpang mobil biru turun untuk membantu teman² yg terperangkap di dalam mobil coklat yang terbalik. Untung ada rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian sehingga mereka bisa dilarikan dengan cepat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Walaupun pelayanan yang didapat kurang maksimal, setidaknya mereka telah membantu. Tak ada yg berniat untuk melanjutkan perjalanan ke Astana Gede, semuanya sepakat untuk kembali ke Jakarta.

Elf terbalik di Ciamis

Elf terbalik di Ciamis

Semua yang terjadi hari ini di luar kehendak kita sebagai manusia, siapa sih yang berkeinginan celaka ? Malang tak dapat ditolak, thanks God Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mensyukuri hidup ini.

Kebersamaan selama 3 (tiga) hari telah menumbuhkan satu rasa kesetiakawanan diantara kita. Shock melihat kendaraan yg terbalik di depan mata dan teman² yg terluka, salut buat panitia yang tetep tenang dalam kondisi yg semuanya diluar kendali kita. Setelah semua urusan dengan rumah sakit selesai, pk. 12.30 rombongan pertama dengan mobil biru disopiri Pak Rizal meninggalkan pelataran parkir RS. Al-Arif setelah sebelumnya di absent oleh Helza dan tukar²an contact phone dengan Diyas.

Hari ini Sabtu, 27 Mei 2006 pk. 19.00 perjalanan berakhir di pelataran Al-Azhar,Jakarta.

  • Terima kasih buat Odys yg telah membuat liburan ini penuh kenangan yang takkan pernah terlupakan : Mas AMGD – Bang Napi – Diyas – Helza – Rani salut yo!
  • Buat teman² di mobil biru yg sempat sirik melihat mobil coklat : lain kali bersyukur ya buat segala sesuatu yg memang seharusnya kita nikmati he ..he..
  • Buat semua peserta Odys trip .. see you on the next trip, liburan ini terasa indah karena kalian.

Day 01 : Pangandaran Trip
Day 02 : Romantisme Pangandaran

Advertisements